Halangan vs Cita-cita Besar

1.13.2011

Semua orang, masing-masing individu, pasti mempunyai sebuah cita-cita besar. Mungkin berawal dari cita-cita masa kecil, lalu berkembang dan kemudian menjadi sebuah cita-cita yang selalu menggantung tepat di depan wajahnya. Kalian ingat cita-cita sewaktu kecil? Saya masih ingat!

Kala itu, saya masih belum mengerti apa itu cita-cita. Yang saya tahu, cita-cita adalah keinginan di masa dewasa, yaitu pekerjaan. Sewaktu kecil, saya bercita-cita ingin menjadi dokter. Menjadi seorang dokter merupakan cita-cita "standar" untuk ukuran anak kecil. Mereka dibelikan sejenis mainan alat-alat kedokteran, yang tentu saja menstimulasi mereka bahwa menjadi dokter itu mudah dan menyenangkan karena bisa menyembuhkan penyakit orang. Lalu bertambah ingin menjadi astronot juga. Entah kenapa tiba-tiba terpikirkan astronot pada waktu itu. Yang saya tahu, astronot itu bisa jalan-jalan ke bulan dan ke berbagai planet lainnya. Tampak menyenangkan bukan?

Tapi itu dulu. Sekarang, 20 tahun kemudian, saya sama sekali tidak ingin menjadi dokter atau astronot. Cita-cita saya kini bergantung pada apa yang saya kerjakan di masa muda. Apa itu? Saya kuliah di Jurusan Sastra Indonesia, yang menuntut saya harus lihai berbahasa dalam menulis. Saya ingin menjadi penulis. Setelah lulus kuliah, saya ingin menjadi editor. Bisa? Tentu saja! Namun cita-cita saya sekarang ini bukan untuk mencari sebuah pekerjaan yang menghasilkan uang, saya hanya ingin LULUS.

Hampir 9 semester saya terjebak dalam dunia perkuliahan, 3 semester di rumah untuk mengurus anak, dan sisanya 1 semester saya pergunakan untuk memperjuangkan hasil studi saya selama kuliah: skripsi. Selama kurang lebih 3 bulan saya berkutat dengan skripsi. Dan tidak semudah yang saya bayangkan, saya harus mendapatkan masalah dengan salah satu dosen yang memegang nilai mata kuliah semester 3. Ketika saya mengurus nilai tersebut, alamak bukan main kepalang rasanya. Saya seperti dicabik-cabik di muka umum. Sejak kejadian itu saya terus kepikiran nilai yang akan saya dapatkan nanti: D. Ya Alloh, apa harus ada D di transkrip nilai saya?

Tidak henti-hentinya otak saya terus memikirkan nilai D tersebut. Saya takut. Saya malu. Tapi kemudian suami saya menghibur, "Apalah artinya nilai D dibanding cita-cita besar: lulus? Nanti juga ga akan ditanyain transkrip nilai yang ada D-nya waktu ngelamar kerja." Saya terdiam sejenak.

Memang benar kata suami saya. Nilai D jangan dijadikan sebagai halangan yang bisa merusak cita-cita besar saya. Ini hanya sebagian kecil dari proses kelancaran saya menuju lulus. Dan semuanya sudah masuk dalam rencana-Nya Alloh pastinya. Saya hanya tinggal menjalankan skenarionya saja. Toh, yang merasa kesulitan menjelang lulus bukan saya saja, tetapi juga beribu-ribu mahasiswa lainnya. So, i am one of them.

Saya jadi teringat kata-kata Mba Ilna, nenek upline-nya saya di Oriflame Boss Family , yang waktu itu memberi motovasi di kelas training Depok beberapa bulan yang lalu. Isinya kira-kira begini:
"Ketika kamu menemukan suatu halangan, jangan jadikan sebagai parameter kegagalan. Anggap saja halangan itu tidak ada, layaknya ada beberapa gundukan kecil di jalan raya. Jika kamu berjalan pelan-pelan pasti begitu terasa namun jika kamu sedikit kencang maka gundukan-gungukan itu tidak begitu terasa menyusahkan. Ingat kembali pada tujuan awal: cita-cita besar yang telah menanti untuk diraih."

1 comment :

  1. huehue..selamat ya atas launching blognya.. :)

    ReplyDelete

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^