Cerita Tentang Menulis

9.11.2012


Memang ada yang hilang rasanya ketika kita terbiasa dengan suatu hal yang menyenangkan, namun terpaksa harus meninggalkannya berbulan2 bahkan bertahun2 lamanya. Menulis. Saya senang sekali menulis sejak kelas 4 SD. Saya ingat saat itu pertama kali mendapat pelajaran "Mengarang", dan hanya saya satu-satunya yang mendapat nilai 8. Pada waktu itu saya juga sempat cemburu pada seorang teman yang mendapatkan kesempatan menjadi peserta lomba cerdas cermat dari yang menguasai B.Indonesia, kenapa bukan saya?

Ketika SMP, saya menambahkan efek menggambar pada cerita-cerita saya. Kurang lebih seperti membuat sebuah komik, namun dengan gambaran yang seadanya (paling ga bisa gambar jari tangan nih). Oh, bahkan saya lupa kalau saya bisa menggambar! Sewaktu SD, nilai pelajaran menggambar saya selalu bagus-bagus, loh! (sombong dikit ah :p)

Seiring bertambahnya usia dan kematangan menulis (cailah bahasanyaaa), masa-masa SMA saya gunakan untuk menulis cerita pendek dan puisi. Bila diingat2 dan dihitung2, kurang lebih ada 3 eksemplar buku yang berisi karangan saya. Dua di antaranya adalah cerita pendek. Saya senang membuat alur, menciptakan tokoh-tokoh imajinasi, dan menghayalkan lokasi-lokasi sederhana dalam cerita. Setiap akan membuat tokoh baru, saya selalu mencari nama yang baik dari "Buku Pintar" yang sampulnya berwarna merah, hihiihih...

Kemudian saya tertarik dengan antologi puisinya Sutardji Calzoum Bachri, "O, Amuk, Kapak", yang sempat saya pinjam dari perpustakaan sekolah. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Saya jatuh cinta pada puisi. Saya jatuh cinta pada puisi kontemporer. Gayanya berpuisi membuka angan-angan saya akan dunia kata-kata. Saya bisa bebas menuangkan macam-macam kata ke dalam tulisan yang (tidak) jelas. Ha! Terakhir saya mengetahui dari seorang teman bahwa nilai UAN Bahasa Indonesia saya yang tertinggi di sekolah pada masa angkatan saya. Wuih!

Kuliah, saya masuk jurusan Sastra Indonesia dengan tanpa paksaan dari pihak mana pun. Karena memang pada waktu itu saya hanya ingin bersekolah di luar kota Sumatera. Dan terjerumuslah saya di Universitas Padjadjaran (yang katanya) Bandung, padahal mah kampusnya di (desa) Jatinangor. Cerita tentang kelulusan saya ada di postingan sebelum ini. Saya wisuda pada 24 Februari 2011, tepat 10 hari setelah melahirkan Shakira Yuri Zakaria (Shaki), yang harus saya bawa ke Bandung demi ritual spesial ini.


Okeh, kira-kira begitulah perjalanan hobi menulis saya. Sekarang, saya pengen sharing sebuah tempat yang kebanyakan orang-orang udah pada ngeri duluan dengernya: Irak. Lebih tepatnya lagi di Kurdistan. Ada apa dengan Irak? Apa pula Kurdistan itu? Yak, tunggu episode selanjutnya, yah. Hehhehe...

No comments :

Post a Comment

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^