[Cerpen] Lelaki Itu

2.08.2013



“Medaaaan..... Aku dataaang!!!” seruku gembira ketika pesawat yang kutumpangi mendarat di bandara Polonia Medan.
Aku Fara. Aku bersekolah di Bandung. Sementara rumahku di Medan. Sudah terbayang kan bagaimana rindunya aku pada rumah? Aku hanya bisa pulang ketika liburan panjang kenaikan kelas. Dan sekarang, aku naik kelas 3 SMA. Senangnya!

Tidak semua anggota keluargaku menjemput. Hanya ada Papa dan adikku yang paling kecil, Rika. Selama perjalanan menuju rumah, banyak perubahan yang terjadi. Jalan dua arah yang dulu sering macet, sekarang menjadi satu arah. Ternyata pemerintah memperhatikannya juga, batinku.
Tak terasa aku sudah sampai di rumah.
“Eeeh.. Anak Mama pulaang!” seru Mama menghampiriku lalu memeluk dan mencium pipiku.
Tak kuasa juga kumenahan airmata begitu melihat Mama senang bertemu kembali dengan anaknya ini. Aku hanya bisa tersenyum bahagia. Kubalas pelukan Mama.
“Loh, siapa itu, Ma?” Aku terkejut melihat ada seorang lelaki di rumah yang tampak asing bagiku.
“Saya Anas. Guru ngaji Rika yang sekarang,” katanya memperkenalkan diri.
“Oh..” mulutku tak bisa mengucap apa-apa lagi. Whew, guru ngaji yang baru. Masih muda. Ganteng pula. Assiiiik, pikirku senang.
*
“Assalammu’alaikum..”
“Wa’alaikumsalam..” aku menjawab dari dalam rumah dan mengintip sedikit siapa yang datang.
“Dek, tuh, ada si Mas Anas. Mau ngaji, ya?” tanyaku pada Rika. Rika masih kelas 3 SD. Aku tidak tahu kalau dia ternyata punya program mengaji privat seperti ini.
“Om, masuk!” seru adikku.
Adikku, Rika, memang selalu memanggil Om pada guru ngajinya. Itu memang lantaran guru ngajinya yang terdahulu belum pada menikah. Tapi tidak tahu yang sekarang. Mudah-mudahan saja belum, jadi aku bisa mendekatinya, hihi.
“Eh, ada Mba Fara juga di sini. Kaget saya, Mba, biasanya kan cuma ada Rika aja kalau siang-siang begini,” ujarnya.
”Nggak usah panggil Fara pake “mba” segala. Umur Fara baru 15, kok. Mas sendiri berapa?”
“Oh, gitu. Ya, sudah, nggak apa-apa, Mba. Eh, Fara, maksud saya. Saya 19 tahun. Kamu juga boleh manggil saya namanya aja, kok. Nggak perlu pakai “mas” segala.”
“Ah, ya nggak bisa gitulah. Kita kan beda jauh. Oh, ya, Mas. Kalau Fara mau minta diajarin ngaji juga, boleh nggak?”
“Ya boleh, dong, Ra... Masa orang mau nuntut ilmu akhirot dilarang?”
Kami pun tertawa.
“Mas kosongnya hari apa?”
“Kapan aja bisa. Gimana kalau setiap Rabu dan Kamis, jam-jam segini juga, jam 1 atau jam 2 gitulah..”
“Mmmm boleh!”
Aku memperhatikannya selama mengajar Rika. Lebih baik dari pada yang dulu gurunya, pikirku. Dan lebih ganteng, jadi ada nilai plus!
*
Semenjak aku mengaji privat dengan Mas Anas, hari-hariku jadi lebih bermakna. Bukan hanya karena kedatangannya mencerahkan hatiku, tapi juga karena yang dibawanya adalah ilmu untuk bekal di akhirot nanti. Udah ganteng, agamanya mantap pula! Ya Alloh, mudah-mudahan aku bisa mendapatkannya.
Semenjak itu pula, kami berdua jadi dekat. Entah hanya aku saja yang keGRan, atau memang karena aku sangat merindukannya ketika jadwal mengajiku belum tiba.
“Assalammu’alaikum..” seseorang berseru dari depan pintu.
“Wa’alaikumsalam..” jawabku.
“Fara, ada Ibu?”
”Oh, Mas Anas. Kirain siapa. Mama belum pulang. Ada perlu sama Mama?”
“Enggak, sih.”
“Sekarang jadwal ngaji Rika? Pindah hari?”
“Oh, enggak, kok.”
“Lalu, apa jadwal ngaji Fara yang diganti?”
“Enggak juga, Ra. Saya cuma mau main ke sini aja. Boleh, kan?”
“Ya, bolehlah... Dengan senang hati, Mas,” jawabku bergembira.
Kami pun bercanda dengan riang, sempat bertukar nomor handphone pula. Tambah lagi nilai plus untuk dia: pindahan dari Bandung! Kami jadi punya kesamaan, paling tidak nyambunglah kalau bercerita tentang Bandung.
“Dulu tinggal di mana, Mas?” tanyaku penasaran.
“Di daerah Ujung Berung, tapi lupa di mananya. Soalnya saya pindah dari Bandung sudah lama sekali.”
Keningku mengerut merefleks.
“Saya nggak langsung pindah ke sini dari Bandung.” jawabnya cepat.
“Ooh...”
“Fara tinggal di daerah mananya?”
“Di Dago. Ada tante di sana.”
“Oh, sama tante. Masih suka macet, ya, daerah Dago? Apalagi kalau udah malam minggu.”
“Iya. Parah banget, tuh. Orang-orang yang dari luar kota pada datang ke Bandung. Ya, penuh, deh, Bandung. Apalagi tujuannya ke Dago pula semuanya. Makanya Fara kalau weekend ke Jakarta, Mas.”
“Loh, jadi tukeran gitu.”
Kami tertawa lepas.
*
Mas Anas sering main ke rumah, walaupun hanya sekadar mampir sebentar sehabis mengajar di rumah tetangga. Kadang juga ia membawa temannya, yang juga temanku, Yudi namanya. Tadinya aku tidak dekat dengan Yudi, namun karena kedekatanku dengan Anaslah yang membuatku sedikit terbuka padanya.
“Eh, kita bikin es kelapa, yuk? Tuh, pohon kelapa di belakang rumah kayaknya udah ngeledekin aja dari kemarin,” ajakku.
“Wah, asyik juga! Ya, udah, siapin aja baskomnya buat air kelapanya nanti. Biar saya aja yang manjat. Yud, kau beli es batu , ya, di Pak Harun?” Mas Anas meminta pada Yudi.
“Lah, aku pula? Kan kau calon mantunya Pak Harun. Tadi katanya udah dianggap macam anak sendiri..,” ledek Yudi puas.
Pak Harun punya dua anak perempuan, mereka teman mainku sejak kecil. Tak heran kalau Pak Harun menganggap Mas Anas sebagai anaknya sendiri, setiap hari Mas Anas datang ke rumahnya untuk membantu di warungnya.
“Iya.. iya.. Pak Harun nganggap aku anak. Kalau bapaknya Fara juga nganggap aku anaknya, nggak, ya?”
“Cieee.... Tuh, Far! Dengerin!” ledek Yudi semakin lepas. Ia mertawakan kami. Sepertinya wajahku memerah.
Mas Anas mulai memanjat pohon kelapa. Yudi tidak jadi membeli es batu. Pak Harun memiliki fasilitas pesan-antar untuk pelanggannya. Dengan begitu, Yudi merasa puas hanya dengan memesan es batu dan lima menit kemudian datanglah pesanannya.
“Eh, Far. Kau nggak nangkap apa-apa dari si Anas?” tanya Yudi.
Aku mengerutkan kening.
“Nangkap apa?”
“Ah, pura-pura nggak ngerti, lagi! Masa kau nggak tahu? Si Anas ngapain coba sempat-sempatin datang ke rumah kau tiap hari kalau nggak karena cuma pengen ketemu kau?”
“Iya, gitu? Dia, kan, dekat dengan adikku yang lelaki, Iman. Ya, wajarlah kalau datang terus ke sini,” aku berusaha mengelak namun tetap menggali informasi. Hihi, lucu, ya?
“Yah, elah.. Liat aja nanti!”
*
                                   
Malam ini jadwal besar. Final Euro Cup. Dan kalian tahu? Jerman! Aku mendukung penuh Jerman. Senang bukan kepalang. Bukan karena Jerman masuk final, tapi Mas Anas dan Yudi mau menonton bareng adik lelakiku, Iman, di rumah! Aku jadi punya alasan untuk menonton bola malam ini. Biasanya aku dilarang bangun tengah malam hanya untuk menonton saja. Kalau bukan untuk beribadah, tidak usah menonton tv. Selalu begitu.
Aku masih bertahan untuk tidak memejamkan mata demi menunggu pukul 01.30 tiba. Lagi pula, mereka belum pada datang. Aku jadi cemas, mengapa lama sekali? Padahal sekarang sudah pukul 22.15.
Aku mengisi waktu dengan menulis sajak, kebiasaanku sedari dulu. Entah mengapa aku suka sekali menulis. Semuanya mengalir begitu saja ketika aku mulai membuka Microsoft Word.
“Assalammu’alaikum..” seru orang dari luar rumah. Sepertinya mereka datang.
“Wa’alaikumsalam..”
Aku bergegas membuka pintu. “Pagarnya nggak digembok, kok. Masuk aja. Langsung digembok, ya!” Mereka mengerjakan apa yang aku pinta tadi.
“Ke mana aja, kok, baru datang jam segini? Papa sama mama dari tadi nanyain, kok belum datang si Anas sama Yudi, katanya mau nginep di rumah?”
“Maaf, tadi kita ditahan di rumah Pak Harun. Beliau ngajakin nonton di rumahnya juga. Kita pakai alasan macam-macam supaya bisa nginap di sini,” jawab Yudi.
Aku hanya bisa terdiam. Entah mengerti atau malah cemburu. Ups, aku cemburu?
“Ibu sama Bapak udah tidur, ya?” tanya Mas Anas mengalihkan pembicaraan.
Aku hanya mengangguk.
“Iman dan Rika?” sambungnya.
“Iman tidur, tuh, di ruang tv, kelamaan nungguin kalian. Kalau Rika mana mungkin masih bangun jam segini! Dia kan ratunya kasur di rumah ini.”
“Aku tidur dulu, yah? Nanti bangunin kalau udah mulai bolanya. Ngantuk banget, nih!” keluh Yudi yang sebenarnya tidak beralasan.
“Ya, udah, sana, tidur aja. Nanti aku yang bangunin. Aku nggak tidur kayaknya. Nanti aja abis nonton bola tidurnya,” ujar Mas Anas tenang.
“Aku juga nggak tidur, kok. Nanggung, lagian. Aku juga lagi ada kerjaan, kok. Tuh!” ujarku sambil menunjuk laptop di meja ruang tamu yang sebenarnya bersebelahan dengan ruang tv.
“Oh, gitu. Ya, udah, aku temanin aja, sambil nonton iklan,” Mas Anas menawarkan diri.
Beberapa saat kemudian kami hanya diam-diaman. Sepertinya ia serius menonton. Aku pun sibuk mengetik. Winampku memutar lagu Souljah, Lelaki Itu.
“Mas, Fara boleh nanya, nggak?” aku membuka percakapan.
“Boleh. Tanya apa?” Mas Anas memalingkan wajahnya ke arahku. Oh, tidak! Wajahnya begitu tampan ketika malam hari. Akh, ngomong apa aku ini, batinku.
“Katanya Mas Anas pernah dekat sama anaknya Pak Harun? Si Rani.”
“Siapa yang cerita ke Fara? Kakaknya Rani?”
“Fara, kan, dekat sama meraka dari kecil, Mas.”
“Iya, dulu saya pernah dekat dengan Rani. Tapi nggak ada hubungan apa-apa, kok. Sungguh!” ucapnya meyakinkanku.
“Ada apa-apa juga nggak pa-pa, kok, Mas. Memangnya apa hubungannya dengan Fara?”
Mas Anas hanya tersenyum. Ya, Alloh. Senyumnya, indah sekali.
“Sholat tahajud, yuk? Mumpung bolanya belum mulai. Masih 1 jam lagi,” Mas Anas mengajakku sholat bersama, walaupun memang akhirnya sholat sendiri-sendiri.
Aku mengangguk senang.
Malam itu menjadi malam paling indah dalam hidupku.
*
Beberapa hari setelah malam itu...
“Tumben, Mas, pagi-pagi ke sini,” tanyaku sambil membukakan pintu untuknya.
“Ra, saya mau cerita. Saya kemarin dipanggil sama Pak Harun. Saya dikenalkan pada temannya, Pak Anto. Katanya Pak Anto melihat saya bermain bola bagus kemarin pagi.”
“Wow! Terus, Pak Anto itu mau membayar Mas di clubnya atau gimana?”
Mas Anas menggeleng. “Sayangnya, nggak, Ra. Saya mau dikenalkan pada anaknya. Jadi si Pak Anto itu tertarik mau mengambil saya jadi menantunya.”
Innalillahi. Astaghfirulloh. Aku tidak bisa berpikir apa-apa. Aku berusaha menguasai keadaan. Jangan sampai terlihat kalau aku kecewa. Mas Anas mengeluarkan selembar foto.
“Ini anaknya. Namanya Irina. Seumuran kamu, Ra.”
“Seumuran Fara mau dikawinin? Memangnya dia nggak sekolah, apa?”
“Sekolah. Jadi nanti minta izin sama Kepala Sekolahnya, gitu.”
“Terus, Mas jawab apa kemarin? Mas terima?”
“Belum saya jawab. Saya pikir-pikir dulu. Lagipula saya, kan, nggak punya kerjaan yang mapan. Tapi katanya masalah kerjaan tidak usah khawatir.”
Aku benar-benar tidak habis pikir dengan Pak Anto itu.
“Menurut Fara bagaimana?”
“Hah? Apa, ya? Anaknya, sih, kelihatannya masih kecil, ya.”
“Bukan anaknya, tapi jawabannya. Saya masih bingung, Ra. Oh ya, itu fotonya dua tahun yang lalu.”
“Oh. Kenapa harus bingung? Ya, kalau Mas meerasa dia jodoh Mas, silakan aja. Memang apa pertimbangan Mas selain belum punya pekerjaan? Nikah muda sekarang, kan, udah nggak asing lagi.”
“Saya hanya ingin minta pendapat kamu aja, Ra.”
*
Sungguh hancur hatiku mengingat kejadian itu. Sudah seminggu semenjak kedatangannya yang membawa berita menggemparkan itu, Mas Anas tidak tampak lagi batang hidungnya di rumahku. Padahal ia selalu ke rumah Pak Harun. Aku tetap menunggunya datang. Entah kenapa, hati ini begitu gelisah. Selalu berdebar menantinya datang. Selalu berdebar ketika ada orang datang, yang kukira adalah dia.
“Far, udah, dong. Jangan bete aja!” Yudi berusaha membujukku
“Mana si Mas Anas? Kenapa dia pulang duluan?”
“Nyesal juga, kan. Kau nggak tahu? Dia, tuh, sebenarnya suka sama kau! Tapi diliat-liat, kok, kayaknya kau nggak ngerespon dia. Dia jadi bingung. Apalagi waktu kemarin dia cerita tentang Irina. Kaunya lempeng aja. Kayak nggak suka sama dia. Jadinya dia bingung mau nembak kau juga takut ditolak,” penjelasan Yudi malah membuat hatiku makin hancur.
“Bohong!”
“Aduh! Terserah kalian berdualah! Aku capek, tahu! Yang si Anas kelimpungan ngadepin kau yang adem-ayem aja. Yang ini malah keras kepala. Kalian, tuh, sebenarnya saling suka, kan? Ya, udahlah, nunggu apalagi?”
“Aku kesal dia nggak datang-datang lagi ke rumahku, Yud! Memangnya aku salah apa sama dia?”
“Loh, tadi kan aku datang sama dia ke sini. Tapi kaunya malah diam aja, nggak nyapa dia sekali pun. Ya, betelah dia. Mending pulang aja daripada dikacangin.”
“Aku, tuh, nunggu dia minta maaf. Ngomong, kek, kalau dia nggak bisa datang seminggu kemarin. Jelasin, kek, alasannya kenapa,” aku tetap ngotot. “Aku, tuh, mau balik besok ke Bandung, Yud! Tapi tadi dia kayak nggak tahu gitu aku mau pergi besok. Aku sakit, Yud. Sakit banget.”
“Dia tahu, kok, kau mau pergi besok. Makanya dia kemari, pengen ketemu untuk terakhir kalinya. Eh, malah dikacangin!”
Aku tak kuasa menahan airmata. Kristal-kristal bening yang sudah menggenang di kelopak mataku akhirnya mengalir juga.
*
“Halo, Fara? Assalammu’alaikum,” sapa orang di seberang telepon.
“Wa’alaikumsalam. Iya, ini Fara. Ini siapa, yah?”
“Anas, Ra. Jangan ditutup!” cegahnya terburu-buru. “Saya mau minta maaf, Ra, atas kejadian kemarin. Saya nggak bisa ngomong ke kamu. Saya nggak...”
“Iya, iya, nggak apa-apa. Tapi kenapa seminggu kemarin nggak datang ke rumah?” selaku.
“Saya malu, Ra. Saya nggak enak sama kamu setelah cerita tentang Irina itu. Kamu katanya marah banget, ya, karena saya nggak datang-datang lagi ke rumah?”
“Fara nungguin Mas terus, tapi Mas nggak datang-datang. Fara jadi bingung. Apa Fara waktu itu salah ngomong, ya? Ya, udahlah, nggak apa-apa. Fara juga minta maaf, ya, selama Fara di Medan.”
“Loh, kamu udah di Bandung?”
“Belum, sih. Mampir sebentar, nih, di Jakarta. Diajakin teman,” jawabku tenang.
“Yah, yang penting sekarang udah clear, ya?”
Sebuah senyuman tersimpul di bibirku.
*
Hari pertama sekolah.
Handphoneku berdering. Kulihat layarnya.
Mas Anas.
Wow! Hatiku berasa meledak! Seperti disapa malaikat pelindung di pagi hari.
“Halo? Assalammu’alaikum” sapaku.
“Wa’alaikumsalam. Maaf, pagi-pagi sudah saya telepon. Ini penting, Ra.”
“Ada apa, Mas?” tanyaku penasaran.
“Ra, maaf yang kemarin-kemarin. Sebenarnya sudah lama ingin saya katakan selagi kamu ada di rumah. Tapi saya nggak berani. Saya terlalu penakut. Saya pengecut, Ra. Maaf, Ra.”
“Iya, Fara maafkan. Memangnya ada apa, Mas? Jangan buat Fara makin bingung dan penasaran, dong!” ujarku penuh pertanyaan dalam benak.
“Ra, sebenarnya saya sayang sama kamu.”
Jantungku berhenti berdekat sedetik. Semuanya menjadi berhenti. Sebuah senyum merekah lebar di bibirku.
“Maaf, Ra.”
“Mas, Fara juga sayang Mas. Mas nggak perlu minta maaf,” ujarku.
“Saya minta maaf, kita nggak bisa ketemu lagi.”
“Kenapa? Liburan nanti Fara usahakan pulang, Mas. Apa Mas mau pindah?” Hatiku bercampur aduk rasanya.
“Saya sudah melamar Irina. Bulan depan kami menikah.”
ANJIR!!! Buat apa dia bilang sayang sama aku kalau udah melamar cewek itu? Cowok sialan!, batinku berperang. Tiba-tiba saja airmataku enggan keluar.
“Saya minta maaf, Ra. Mungkin saya menyakiti hati kamu selama kamu di rumah kemarin.”
“Sekarang bukan sakit lagi namanya, Mas.”
“Saya tahu, pasti sakit. Saya juga sakit di sini, Ra. Saya nggak mungkin menolak tawaran Pak Anto kemudian melamar kamu. Saya tidak kuliah, tidak punya pekerjaan pula. Mau makan apa kamu, nanti? Lagipula, kamu masih sekolah, masih SMA. Masak saya melamar kamu, apa kata orangtua kamu nanti? Saya pasti dihina, Ra.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Airmataku mulai menggenang.
“Maaf. Setiap saya menginap di rumah kamu, ketika sehabis sholat tahajud di musholla, saya selalu mencium mukena kamu. Saya selalu berharap bisa melakukannya setiap hari.”
Kini butiran-butiran airmata mulai menetes di pipi. Aku tetap tidak bisa berkata apa-apa.
“Silakan kalau kamu mau marah sama saya. Saya terima. Saya memang pantas untuk kamu benci. Saya nggak pantas kamu kenang. Memang seharusnya kita nggak boleh dekat. Kamu dan saya berbeda, Ra.”
Tetesan tadi berubah menjadi aliran yang deras.

Sampai, sampai jumpa, kasih
Ku tak kan pernah menjadi milikmu...
Sampai, sampai jumpa, kasih
Ku tak kan pernah menjadi milikmu...

Penggalan lirik lagu Souljah 'Lelaki Itu' kini benar-benar menjadi soundtrack kisahku.

***


P. Berandan, 2006

7 comments :

  1. hmmm... jangan khawatir Fara, lelaki gak satu kok masih banyak...he2. btw, ini mirip masa mudaku mak...aku pernah sakit hati begini...huhuhu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. uhuk uhuk.. sakit, mak? hiks hiks.. sekarang mah udah ada yang lebih lebih lebih baik lagi ya? :))

      Delete
    2. yup, betul mak... Allah pasti beri yang terbaik buat hamba-Nya yang sabar :-)

      Delete
  2. lagi baca....simak ....dan hayati....kesimpulan bagus postingannya.......pasti akan ada yang terbaik......salam kenal

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih mba Lisa udah mampir ke mari :)
      salam kenal juga, mba :)

      Delete
  3. ini based on true story ya mbak ?? :p

    ReplyDelete

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^