[Cerpen] 'Pria'

2.08.2013


“Sayang, kenapa menangis? Kamu diganggu di sekolah?” tanya Papa sepulang sekolah ketika menjemputku.
Aku menggeleng.
“Jadi kenapa, Nak?”
“Tapi Papa jangan marah, ya?” kataku meminta persetujuan.
“Oke. Siap, Bos! Haha..”
“Tadi Pria...”
 “Ya ampuuuun!! Tidur lagi?? Dari tadi ngapain aja? Kerja enggak, bantu-bantu orang tua enggak, sekolah enggak! Maunya apa, sih? Nggak ada kasihannya sedikit sama orang tua?! Enak-enakan tidur, makan udah disiapin tinggal makan aja, bukannya nyuci piring dulu, kek! Malu, dong, masak yang ngerjain kerjaan rumahnya malah orangtua? Udah pembantu nggak ada. Nggak ada pantasnya dikit jadi anak! Bla-bla-bla...."

Kesal, kan, kalau kalian dimarahi seperti itu? Aku sendiri saja kesal mendengarnya. Setiap hari diomel. Itu tadi Papaku. Sehari saja beliau tidak pernah tidak marah. Biasanya, jika sudah begitu selalu datang ‘bala bantuan’ dari Mama.

“Pri, bangun... Nggak enak didengar tetangga, masak tiap hari kamu diomelin terus sama Papa? Ayo, bangun!” bujuk Mama.

Aku Pria, 19 tahun, anak semata wayang. Jangan tanya mengapa namaku Pria, aku sendiri tidak mengerti. Orangtuaku selalu menjawab, “Agar kamu bisa jadi seorang pria sejati, yang memang benar-benar pria.” Memang benar, aku sedang tidak bersekolah, itu dikarenakan menunggu pengumuman SPMB. Gila, nih, kalau sampai tidak lulus, aku bisa “diceramahi” terus setiap hari oleh Papa.
*
Sumpek di rumah! Sebentar-sebentar dimarahin. Apa, sih, yang salah dari aku? Bete! Masak semua yang aku kerjakan tidak ada yang benar di mata papa?

Aku ingin kabur saja. Minggat. Masa bodo ‘dia’ mau mengutukku juga.

“Sayang, Kamu mau kemana? Jangan pergi, ya, Nak? Kasihan sama Mama.. Biarin nanti Mama yang ngomong ke Papa. Papa mau, kok, ngertiin kamu. Ya?” bujuk mama sambil menangisiku.

Sebenarnya aku tidak tega juga melihat mama. Mama sangat mengerti aku, sangat menyayangiku. Tapi justru ini yang membuat Papa marah padaku. Terkadang Mama juga dimarahi kalau aku terlalu disayang. Hmpf.... Papa yang aneh!

“Kenapa, hah? Mau kabur lagi? Sana! Pergi yang jauh, tidak usah balik saja sekalian!” teriak papa dari luar kamar.

“Ma, aku tidak kuat lagi menghadapi Papa. Aku tak tahan. Padahal, aku kan tidak pernah melawan Papa. Kenapa, sih, Papa selalu tidak pernah mau mendengar sebentar saja pendapatku? Papa egois! Diktator! Papa tak menyayangiku! Papa juga tak sayang Mama! Mama kenapa diam saja, sih, kalau dibentak Papa? Aku juga tidak tega melihat Mama digituin terus! Tiap kali aku mau bela Mama, Papa selalu mengancam mau menceraikan. Mama menderita. Apa, sih maunya, Ma?”

Hening sesaat. Hanya ada suara tangisan Mama.

Tiba-tiba terdengar teriakan Papa memecah kesunyian, “Ma! Ngapain di situ? Sudah, biarika saja si Pria itu pergi! Yang jauh sekalian, ya! Tidak perlu kembali lagi! Biar dia tertabrak sekalian saja di jalan!”

“Papa! Kalau marah dikontrol sedikit! Bagaimana kalau terjadi benar?”

“Halah, bela terus saja anak emas karatan itu! Bodo amat! Susah diatur! Sudah, Mama keluar! Untuk apa di kamarnya terus? Jangan buat Papa curiga!”

“Papa mikirnya apa, sih? Mama hanya membujuk Pria saja.”

“Ahh.... Habis dibujuk lalu dipeluk, kemudian dicium!”

“Apa salahnya, sih, orang anak sendiri aja..! Papa ini aneh, deh!”

Anak sendiri?!” terdengar nada yang janggal. “Pria! Cepat sana keluar rumah kalau mau pergi! Jangan merayu-rayu Mama lagi! Muak!”

Kupeluk mama, “Ma, jaga diri, ya! Aku sayang Mama.”

“Sayang, jangan tinggalkan Mama! Mama juga sayang Pria..,” cegah Mama sambil menangis.

Tak tega juga aku sebenarnya melihat mama meneteskan air matanya.

Aku lari keluar kamar, melewati Papa yang sedang bertolok pinggang di pintu depan alih-alih mempersilakanku keluar rumah. Sialan, batinku.

“Biar tertabrak sekalian sana!” ancamnya.

Sudah, sabar. Biarkan saja, sebentar lagi aku akan lepas dari rumah ini..., batinku. Selagi aku menstarter motor, Papa menghampiriku dengan tampang mengancam lagi. “Awas, kalau kamu ‘bocor’!”

?? Bocor? Aku  tidak mengerti maksudnya.
*
Kata-kata Papa tadi terus mengikutiku.

Bocor. Apa maksudnya? Kira-kira apa yang diinginkannya terhadapku? Hh, tertabrak? Lalu kepalaku bocor? Biar saja! Tapi sepertinya taak mungkin itu, pasti ada lagi hal lain yang dimaksudkan Papa. Apa, ya, kira-kira? Otakku terus bekerja. Rahasia! Ya, pasti rahasia besar Papa yang ada padaku. Rahasia apa, ya? Rahasia yang mana? Lagipula, sejak kapan aku menyimpan rahasianya? Sejak kapan pula kami bercurhat? Ah.. tambah pusing saja kepalaku jadinya.

“Sayang, kenapa menangis? Kamu diganggu di sekolah?” tanya Papa sepulang sekolah ketika menjemputku.
Aku menggeleng.
“Jadi kenapa, Nak?”
“Tapi Papa jangan marah, ya?” kataku meminta persetujuan.
“Oke. Siap, Bos! Haha..”
“Tadi Pria...”

Terhenti. Lagi, ingatan itu ada kembali. Tapi selalu berhenti di ‘situ’. Aku terus mencoba mengingat apa yang kukatakan dan terjadi selanjutnya. Nihil. Selalu nihil. Entah apa akhirnya.

Pertanyaan ini selalu muncul di benakku; sedekat itukah aku dan Papa semasa kecilku dulu? Lalu mengapa sekarang rasanya begitu jauh? Jauh sekali. Asing, bagiku.

Aku kaget mendadak, tiba-tiba di depan ada bus. Aku ‘menyentuh’nya dan terjatuh. Badanku terlempar jauh ke belakang. Aku sempat melihat motorku menyapu jalan. Dan samar-samar aku melihat Pria kecil dipaksa membuka celana dalam oleh... Akh, wajahnya tak jelas! Oh, kepalaku sakit sekali. Kupukul-pukul pelan keningku. Kulihat lagi sosok itu, tak jelas. Aku-kecil disuruhnya tengkurap. Aku tidak tahu tempat macam apa itu—mungkin sekarang aku tahu tapi tak ingat. Seandainya aku ingat. Ugh, kepalaku makin sakit terkena benturan stang motor yang juga akhirnya terlempar ke belakang—tepatnya ke arahku. Terakhir kali yang kulihat aku-kecil meringis dan teriak kesakitan ketika orang itu menindihku di atas punggung dan memasukkan sesuatu ke dalam duburku. Selanjutnya dari keningku mengalir darah merah segar. Kepalaku bocor. Dan kulihat hanya hitam. Gelap.
*
Sementara itu di sebuah rumah yang kini dihuni dua laki-laki.

Si ‘lelaki’ marah. Ia menarik tangan si ‘wanita’ dengan kasar masuk ke dalam kamar. Si ‘wanita’ dipukuli, dipecut, dikasari olehnya hingga berdarah dan berteriak kesakitan. Dan selanjutnya terpancar ekspresi bahagia yang kemudian berubah  mesum pada wajah si ‘lelaki’. Si ‘wanita’ tak bisa bergerak. Terlelah. Lemas. Ia tak bisa kabur lagi. Ia hanya bisa pasrah saja.

Si ‘lelaki’ membuka paksa semua kain yang membungkus tubuh si ‘wanita’. Dengan mudah ia mencopot semuanya, karena sebelumnya telah sobek akibat pukulannya yang keras. Ia makin senang. Kini tinggal membuka pakaian dalam si ‘wanita’.

Ia tertawa puas melihat sebentuk tubuh telanjang sedikit berotot di depannya. Ia mulai menyentuhnya, menciuminya, lalu menindihnya di atas punggung si ‘wanita’ yang sedikit berotot itu.

Si ‘wanita’ menoleh ke kiri, memandangi sebingkai foto—dua orang lelaki tampan mengenakan seragam SMU yang sedang bercumbu—dan hanya mengeluarkan air mata tanpa suara...
*
Beberapa bulan kemudian...

Aku memutuskan untuk pulang sebentar. Aku rindu pada Mama. Mama pasti senang melihat kedatanganku. Yah, mudah-mudahan saja Papa sedang tak ada di rumah. Aku tersenyum melihat pemandangan di halaman rumahku. Masih sama seperti kutinggalkan dulu.

Tiba di depan pintu, aku terkejut mendengar suara-suara aneh dari dalam rumah. Ada yang berteriak; kesakitan dan yang satunya tertawa-tawa. Ada dua orang. Dua-duanya pasti laki-laki, suara mereka berat sekali. Siapa yang ada di dalam? Apa rumah ini sudah dijual? Ah, tak mungkin. Semua tanaman dan ayunan di taman depan masih sama.

Aku masuk ke dalam. Kucari sumber suara itu. Di ruang belakang. Ketemu! Ah, itu ruang terlarang. Kata Papa ruangan itu angker, jadi selama aku tinggal di rumah ini belum pernah sekali pun kuinjakkan kaki ke ruangan itu. Hei, apa suara-suara ini yang disebut angker? Tapi tak mungkin. Suara-suara ini begitu jelas dan nyata.

Kubuka pintu itu untuk membuktikan pendengaranku. Perlahan kuputar gagang pintu. Terbuka. Tak dikunci ternyata. Pelan-pelan kudorong pintu. Mataku tak sabar mengintip. Terlihat jelas sudah semuanya.

Oh, Tuhan...!! Sungguh pemandangan yang menjijikkan dan memuakkan.

Si ‘lelaki’ yang duduk di atas lelaki satunya membuka paksa semua kain yang membungkus tubuh si lelaki yang didudukinya—sebut saja si ‘wanita’. Dengan mudah ia mencopot semuanya, karena ternyata sebelumnya telah sobek—sepertinya akibat sabetan yang keras. Ia makin senang. Kini tinggal membuka pakaian dalam si ‘wanita’.

Dan samar-samar aku melihat Pria kecil dipaksa membuka celana dalam oleh... Oh, ingatan itu muncul kembali.

Ia tertawa puas melihat sebentuk tubuh telanjang sedikit berotot di depannya. Ia mulai menyentuhnya, menciuminya, lalu menindihnya di atas punggung si ‘wanita’ yang sedikit berotot itu.

Kulihat lagi sosok itu, tak jelas. Aku-kecil disuruhnya tengkurap.

Dan sekarang aku ingat—dan tahu juga tentunya—tempat itu! Ya, tempat itu di sini! Di tempat ini!

Si ‘wanita’ menoleh ke kiri, memandangi sebingkai foto—dua orang lelaki perkasa memakai baju SMU yang sedang bercumbu—dan hanya mengeluarkan air mata tanpa suara...

Kulihat Pria-kecil meringis dan teriak kesakitan ketika orang itu menindihnya dari atas dan memasukkan sesuatu ke dalam duburnya.

Oh, tidak! Orang yang sama! Aku mengingatnya! ‘Lelaki’ inilah yang melakukannya padaku. Sungguh biadab kelakuannya!

Amarahku memuncak. Kutarik kerah bajunya dari belakang. Ketika ia menoleh ke arahku, kami sama-sama terkejut.

BUGG!! Aku berhasil menonjok matanya. Aku masih belum puas. Sialan, batinku.

“Awas, kalau kamu ‘bocor’!” Ini rupanya rahasia besar itu..

“KURANG AJAR LO, YA! ANJ*NG! B*BI! T*HI, LO! LO KIRA GUA LUPA APA YANG LO LAKUIN WAKTU GUA MASIH KECIL DULU, HAH??” aku tak bisa memendam lagi.

Aku menonjoknya lagi, kini di bagian rahang kirinya. Ia terjatuh. Tak membalas. Si ‘wanita’ masih terdiam dan tidak mau lari. Hanya terdengar isak tangis khas lelaki.

“HEH!! LO KIRA LO KUAT? LO KIRA LO HEBAT, APA? GUA NGGAK NYANGKA YA LO BERBUAT BEGINI KE GUA, ANAK LO SENDIRI!! TUNGGU SAMPE NYOKAP GUA TAHU!!”

“HEH, ANAK SIALAN! Lo mau tahu nyokap lo siapa? Hah?? Mau tahu? MAU TAHU NGGAK, LO?”

Ia berdiri. Aku siap-siap menonjoknya lagi. Tapi ia memohon, “Sudah, sudah. Cukup. Inilah yang akhirnya akan terjadi.”

Aku tak mengerti maksudnya. Ia mengangkat paksa ‘wanita’ tersebut. Hh, lucu. Lelaki kurus sedikit berotot dan berambut panjang. Pasti ‘cantik’, pikirku. Kepalanya dipaksa menoleh ke arahku.

Hah?! Seperti ada petir menyambarku.

Tak mungkin! Aku kenal wajah ‘wanita’ itu. Aku tak menyangka ini terjadi padaku. Aku masih berdiri terdiam.

Tangan si ‘lelaki’ masih memegangi rahang ‘wanita’ itu yang juga masih dalam posisi memandangku dengan ekspresi antara tak percaya dan memelas. Air matanya jatuh terus-menerus menetesi pipi dan turun ke dadanya yang—oh, tidak! dadanya rata—penuh bekas pukulan. Pastilah perih, pikirku.

Aku masih tak mengerti. Tak ada yang mengambil satu tindakan pun di antara kami. Ruangan ini terasa begitu sempit bagiku. Rasanya kakiku lumpuh. Aku terjatuh berlutut. Hatiku seperti diiris-iris, sakit sekali.

Teringat pertengkaran ketika aku beranjak meninggalkan rumah....

“Halah, bela terus saja anak emas karatan itu! Bodo amat! Susah diatur! Sudah, Mama keluar! Untuk apa lagi di kamarnya terus? Jangan buat Papa curiga!”
“Papa mikirnya apa, sih? Mama hanya membujuk Pria saja.”
“Ahh.... Setalah dibujuk lalu dipeluk, kemudian diciumi!”
“Apa salahnya, sih, orang anak sendiri aja..! Papa ini aneh, deh!”
“Anak sendiri?! Pria! Cepat sana keluar rumah kalau mau pergi! Jangan rayu-rayu Mama lagi! Muak!”

Pelupuk mataku penuh dengan genangan air mata. Dan akhirnya menetes satu-satu.

Jangan tanyakan padaku yang mana orangtuaku..., batinku.

Si ‘wanita’ menoleh ke kanannya, memandangi sebingkai foto—dua orang lelaki tampan memakai baju SMU yang sedang bercumbu—dan hanya mengeluarkan air mata tanpa suara...

Tapi tanyakan padaku mengapa namaku Pria...

***

P. Berandan, 5-12 Agustus 2006
Diedit di Jatinangor, 12 Februari 2007

8 comments :

  1. Mba bener deh ini fiksi tingkat tinggii sekali baca saya belom bisa tebakk keren sekali

    jadi ceritanya ini gimana? haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. jiaaaahhh mosok ga ngerti maaak?? udah dijawab kan kemaren di fb.. masi inget kan? jadi apa isi ceritanya? :D

      Delete
  2. mbaaak Hana, aku kok jadi ngeeelu **Puyeng 7 keliling**yaap, FF tingkat tinggi.Dibaca bolak balik masih blm mudeng :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. mba Christanty, ini bukan ff lho ya, ini cerpen :)
      hihihi belum nangkep ya isi ceritanya? intinya, semua tokoh daam cerita ini adalah pria :p

      Delete
  3. hmmm.. idenya bagus mak. Ummm.. tapi kayak terlalu banyak yang diulang ya.. Maksudku, misal begini..

    adegan si laki-laki menindih si wanita.. kan sudah ditulis. kalo aku, itu di putus trus langsung adegan si anak yang ngintip dari lubang kunci. bagaimana dia kembali lagi, diceritakan dengan flash back. jadi main timing. karena itu kan selang beberapa bulan kemudian ya...

    mmmmm... belum terlalu mengalir ceritanya. IMHO sih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ooooh.. pengulangan itu sebenernya aku selipin supaya pembaca bisa narik benang merah dari cerita si narator dengan cerita orangtua Pria. tapi ternyata malah bikin ceritanya ga ngalir ya? yah, ini salah satu cerita yg aku bikin waktu masa2 kuliah, hihi, belum mateng banget ya ternyata.. masih butuh polesan lagi.

      anyway, makasii koreksinya, mak. gini dong kalo ngomen di ffku lainnya :p

      Delete
    2. lah... emang ngomen di ff yg lain kayak gimana? :))))))

      Delete
    3. hihihi pada saat aku minta ini dirimu kan belum ngasih kripik2 pedas ke tulisanku, huhuhu...
      btw, aku bingung mau diedit begimana.. maybe nanti kali ya kalo pas punya waktu luang, aku edit khusus. sementara sekarang masih ngejar tulisan2 yg lainnya, jadi kebagi banget waktunya..

      Delete

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^