PromptChallenge Quiz: Kekal

2.19.2013

Tiba-tiba, Rim, wanita setengah gila yang terkenal seantero desa, masuk ke dalam pekarangan rumah Net. Rim setengah berlari, tergopoh-gopoh sambil menggendong buntalan kain di tangannya. Kemudian Rim lari  melewati halaman samping dan bersembunyi di belakang rumah Net. Net tinggal bersama Mbah Mis, pengasuhnya sejak kecil.

"Rim! Ngapain kamu di sini? Apa itu?" Net kaget melihat Rim tiba-tiba muncul di belakang rumah. Net dan Mbah Mis sedang mencabut rumput hama di kebun bunga melatinya itu.

Rim, seperti biasa, hanya tertawa saja setiap kali ditanya. Tapi kali ini ia tidak hanya tertawa. sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, ia mengajak Net untuk melihat isi buntelan tersebut.

"Astaghfirullah! Bayi siapa ini, Rim? Mosok ada yang hamilin kamu?" Net memekik pelan. Ia berpikir keras lelaki bejat mana yang tega menghamili Rim, wanita yang hampir gila.

Rim memang hampir gila, karena ia pernah kehilangan bayinya setelah melahirkan. Bayinya dibawa kabur pembantu bidan dan tak pernah kembali lagi. Dan setiap kali ia melihat bayi, barulah tampak gilanya.

Net melihat lagi bayinya dan ingin menggendongnya, namun ditepis oleh Rim. Kemudian Net hanya melihatnya kembali dan keningnya mengerut. Ia mengira bayinya sedang tidur. Dipegangnya tubuh bayi itu; tak hangat dan tak bernafas.

"Inna lillah! Mbah, bayinya sudah meninggal!" Net setengah berteriak kepada Mbah Mis yang sedang mencabut rumput.

“Inna lillah! Bayi? Bayi apa? Kapan lahirnya kok tiba-tiba sudah ada jenazahnya? Kapan Rim hamil?” Mbah Mis memberondong Net dengan pertanyaan-pertanyaan yang tiba-tiba memberondong kepalanya.

Rim tertawa lagi kemudian marah dan berlari ke dalam rumah Net. Net mengejar lalu berhenti ketika melihat Rim mengarahkan pisau kepadanya.

“Hoi, Mbah Dukun! Suruh orang gila itu keluar dan menyerahkan bayinya!” teriak Kepala Desa dari luar.

Beberapa warga desa lainnya menyusul Kepala Desa menuju rumah Net. Rim masih memegang pisau, Net takut. Mbah Mis apalagi.

“Bakar aja rumahnya!” teriak salah satu warga.

“Bakar! Bakar!”

Di dalam ketegangan dan keriuhan warga, Rim menancapkan pisau ke perutnya sendiri, tepat di ulu hatinya. Net lemas melihat kobaran api mengelilingi rumahnya.

*

Aku memang sudah renta, mereka kira aku bisa mati terbakar. Tapi sayang, aku masih bisa tetap hidup 100 tahun lagi, selagi masih ada bayi-bayi mati yang terbuang dan melati untuk pencuci mulutku.

"Ah, nikmat sekali daging yang dibawa Rim tadi pagi. Sayang, ia sudah mati."

***
Words: 365/500

25 comments :

  1. Replies
    1. maap mak, kalo ketendnag, ga sengaja nih :p

      Delete
  2. idiiih untung nggak lagi makan mak :-D
    SUKSES yaaa mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi... aku dapat idenya malah pas lagi makan ayam :p

      Delete
  3. Untung masih jam 9 malem bacanya, coba kalo agak maleman dikit, bisa kejang saya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. siapin paracetamol dulu ya mak sebelum kejang2 :D

      Delete
  4. ada sesuatu dengan mbah mis??

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi.. dia turunannya nyi roro kidul sepertinya :D

      Delete
  5. wiih...ngeri...trus nasib Net gimana mak? mati juga kah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. yap, Net ga diceritain di sini ya.. terserah pembaca aja maunya gimana :)

      Delete
  6. sukses ya mak............semua juga akan mati akhirnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. yap.. tapi kayaknya si mbah ini matinya bakalan disusahin :D

      Delete
  7. Hyaaaaa ngeriii... Itu mbah mis ya mak yg makan bayi?

    Aih g tega bayanginnya.
    Btw aq jg pernah 'hampir gila' sewaktu anak pertamaq meninggal. Aq sembuh dgn menulis. Self healing :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. haduh mak, aku ga bisa ngebayangin gimana rasanya, hiks hiks.. salam untuk anakmu yang di sana ya mak :)

      Delete
  8. saya juga tadi ikut makan :P

    keren ceritanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. waah jangan2 dihabisin sama dikau ya, mak? apa rasanya?

      Delete
  9. perasaan kemaren udah komen di sini deh.... -___-"

    belom yah?

    *malah nanya*

    ReplyDelete
  10. ada miss sedikit...

    Aku memang sudah renta, mereka kira aku bisa mati terbakar. Tapi sayang, aku masih bisa tetap hidup 100 tahun lagi, selagi masih ada bayi-bayi mati yang terbuang dan melati untuk pencuci mulutku.

    << ini berarti dia emang suka or memang makan bayi mati kan?

    "Ah, nikmat sekali daging yang dibawa Rim tadi pagi. Sayang, ia sudah mati."

    << nah yang ini semacam ada "penyesalan" kenapa bayi yg dibawa itu mati.. kalo idup kan lebih enak.. brarti dia sebenernya makan bayi hidup?

    *lanjut makan ayam bakar*

    ReplyDelete
    Replies
    1. emang makanin bayi mati, mak..
      maskud yang "Sayang, ia sudah mati", ia itu refer to Rim. Jadi si mbah menyayangkan Rim mati dan ga bisa ngerasain daging bayi bakarnya :p

      *lanjut nyuapin anak2*

      Delete
  11. Mak.. Ada kejanggalan dikit. Saya bingung ini kan ceritanya Rim bawa pisau ya? Berarti bayinya masih dalam gendongannya kan? Gimana bisa dimakan kalau bayinya masih digendong? Sebelum sempat makan, rumahnya udah dibakar warga juga kan ya?

    IMHO.

    Tapi ide ceritanya keen.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. rumah udah dibakar, mak. abis rim bunuh diri, bayi dibawa kabur sama mbah mis. kejadian makannya itu setelah semuanya berakhir, bisa jadi pas malam atau besokannya :)

      emang ga diceritain detil, mak. tapi ternyata banyak yang miss ya jadinya? hihihihi

      Delete
    2. Kendala di jumlah kata ya? Iya. Etapi ini komentar saya sebagai pembaca lho mba.. :)

      Delete
    3. gw bingung baca cerita yg in is...gak ngerti maksudnya jadinya gak memberikan kejutan di akhir kayak cerita2 isti yg lain...
      tapi tetep gw tuggu ceritanya trus y...:)

      Delete
  12. hiii, syerreeeem *mbacanya pas jam 23.15 -__-

    ReplyDelete

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^