[Cerpen] Segi Ketiga

2.08.2013


Jakarta. Selamat datang! Sudah lama tak kupijakkan kembali kakiku di sini. Semuanya masih tampak sama seperti kutinggalkan dahulu. Aku takkan kembali ke sini kalau saja mereka tidak memaksaku.
Aku kuliah di Belanda. Terpaksa aku pulang, padahal sekarang sedang musim ujian! Bisa benar mereka “membujuk” para dosen di kampusku? Kemarin, ketika sedang belajar di kelas, aku dipanggil keluar. Tiba-tiba saja ada dua bodyguard ayahku datang menjemputku! Mau apa mereka datang kemari?, pikirku. Mereka memintaku agar lekas kembali ke Jakarta. Jelas, ayah yang menyuruhku. Memang ada masalah apalagi? Masak ayah ditangkap lagi? Namun mereka tetap bungkam sampai akhirnya tiba di sini, Jakarta.

Tanpa perlu bertanya lagi, aku langsung tahu apa yang sedang terjadi. Poster-poster di sepanjang jalan pulang menuju rumahkulah yang menjelaskan.

“Cuma gara-gara ini saja ayah menyuruhku pulang? Pemilihan calon Gubernur??” tanyaku penuh heran dan kesal.

Mereka tetap diam.

“Aku sedang ujian! Kalau sampai aku tidak lulus, kalian yang bertanggungjawab, TAHU?!” kesalku sudah memuncak. Tak habis pikir, ada apa dengan mereka? Ada apa pula dengan ayah? Agak janggal, memang. Kalau kalian ingin tahu, ayahku seorang mafia. Paling tidak, itu yang aku tahu. Yang orang-orang tahu tentang ayahku adalah sebaliknya. Orang-orang selalu memuji ayahku. “Pak Danang berhati mulia, seperti emas”. Cuihh!! Emas yang ada di septiteng, mungkin!

Itulah sebabnya mengapa aku lebih memilih kuliah di luar Indonesia. Aku malu. Malu kepada diriku sendiri. Aku bersumpah tidak akan pernah menggunakan uang yang ayah dapat dari pekerjaannya sebagai mafia itu. Maka itu, aku bekerja sekaligus kuliah di Belanda. Tak sia-sia aku belajar berbagai macam bahasa sewaktu sekolah di Indonesia dulu. Semuanya terpakai dan menghasilkan uang. Dari situlah kupakai uangku untuk kuliah.

Mobil yang kutumpangi berhenti perlahan. Halus sekali. Ternyata ada banyak perubahan pada rumahku. Banyak bunga-bungaan di taman depan. Ayah memang menyukai bunga. Apalagi sejak ditinggal ibuku. Kasihan ibu, meninggal di tangan yang salah. Kalian tahu? Geng mafia musuh ayahku yang membunuhnya! Jelas sekali karena mereka benci terhadap ayahku lalu mencari data orang yang dekat dengan ayahku. Tentu saja ibuku!

Aku masih ingat bagaimana ibu meninggal. Ketika itu usiaku masih sebelas tahun. Telepon rumah berdering. Aku dilarang mengangkat telepon itu. Penting, katanya. Jadi aku hanya bisa memandanginya saja dari jauh. Ketika ibu sedang berbicara dengan si penelepon, tiba-tiba saja gagang teleponnya meledak. Aku terkejut. Kemudian kudapati ibuku tengah terlentang dengan wajah ketakutan. Dan dari telinga kanannya mengalir darah segar. Pada waktu itu aku sudah tahu, ibu pasti sudah tidak bernyawa.

Sekarang aku mengerti bagaimana taktiknya. Kalau kalian ingin tahu, mereka sebelumnya pasti pernah berkunjung ke rumahku, dan tentu saja berjalan-jalan ke tempat telepon yang berada di dekat jendela, lalu menempelkan sesuatu yang sangat kecil, berbentuk chip mungkin, ke dalam gagang telepon tersebut. Tentu saja mereka membongkarnya juga. Kemudian sesuai waktu yang telah ditentukan, mereka datang kembali dengan menelepon ibuku, dan dari jarak yang tidak begitu jauh mereka memantau rumah kami. Pintar juga mereka. Ketika ibuku shock atas perkataan mereka di telepon, langsung mereka tekan tombol pada remote yang menyambungkan ke chip dalam gagang telepon rumah kami. Meledaklah seketika. Ternyata chip yang mereka letakkan itu tidak banyak berpengaruh. Hanya untuk melukai telinga saja, sedangkan ibuku meninggalnya pasti karena serangan jantung. Entahlah. Mungkin mereka salah memasang chipnya.

Kurasa kalian sudah cukup mengerti bagaimana keadaan keluargaku, bukan?

“Vina sayang, selamat datang, putri Papa..!”

Aku diam.

“Oke, sepertinya putri Papa yang satu ini tidak senang, ya, dibawa ke Jakarta lagi? Begini, Sayang. Papa punya wanita lagi. Papa sudah mantap sekarang. Papa ingin menikah dengannya. Jadi, Papa pikir kamu perlu kenal dengannya. Namanya Ersa. Papa bertemu dengannya sewaktu di bar. Dia bukan wanita murahan. Dialah kasir bar tersebut. Tapi ada masalah rupanya kalau kamu ingin tahu. Usianya sebaya dengan kamu, Vin.”

“Huh! Pasti dia perempuan tidak baik! Perempuan suci mana yang mau menikah dengan seorang mafia?? Pasti dia cuma mau harta Papa aja! Apa tidak bisa Vina berharap Papa mendapatkan wanita baik-baik? Vina malu, Pa!” selaku.

“Vina sayang, dengarkan dulu cerita Papa. Papa juga malu, Papa punya banyak kejelekan. Maka itu, Papa memberanikan diri untuk melamarnya. Sebelum lamaran itu, Papa menceritakan semua kisah Papa padanya. Termasuk ‘pekerjaan’ sampingan Papa itu. Tapi siapa sangka, ternyata Ersa mengiyakannya! Dan dia berjanji mau mengingatkan Papa setiap kali Papa salah. Papa senang! Papa salut padanya!

"Setelah itu Papa cerita mengenai kamu. Memang, dia sedikit kaget begitu tahu Papa punya anak yang sebaya dengannya. Maka itu, Papa berusaha ingin mengenalkan kamu padanya. Itu juga usulnya Ersa. Dia ingin kenal dulu dengan anak Papa yang cantik ini. Kamu mau, kan, berkenalan dengannya? Masalah sapaan, katanya terserah kamu saja mau memanggilnya apa, asal jangan yang tidak sewajarnya saja. Bagaimana, Sayang?”

Aku menghela nafas.

“Baiklah. Vina ingin lihat dulu seperti apa tampangnya. Tapi tetap, tidak ada yang bisa menggantikan kedudukan Mama di hati Vina!”

*

“Erika, ayahku ingin menikah lagi.”

“Wow! Bagus itu! Akhirnya ada lagi yang mengurus ayahmu. Kamu sudah bertemu dengan calonnya? Bagaimana tampangnya?”

“Aku belum bertemu dengannya. Aku hanya berharap wanita itu adalah wanita yang baik.”

“Yah, kita berdoa saja, mudah-mudahan wanita itu sesuai dengan yang kamu inginkan, Sayang..”

“Memang cuma kamu yang bisa mengerti aku, Sayang..”

“Erika sayang Vina,” ucapnya lembut di telingaku.

Kutatap wajahnya. “Kamu cantik malam ini, Sayang.”

“Ah, kamu bisa saja! Untung kita bisa bertemu di Jakarta! Kalau, tidak...”

“Kalau tidak? Mengapa?” rayuku.

Erika langsung melumat bibirku. Kukulum langsung lidahnya. Lalu kulumat bibirnya. Masih lembut seperti dulu. Tapi tiba-tiba saja aku merasakan ada yang aneh pada ciumannya kali ini. Entah apa. Akh, mungkin hanya pikiranku saja, kami sudah lama tak bertemu. Apalagi bercumbu.

“Vina...,” ucapnya manja.

Aku terus melumat bibirnya. “Erika, jangan berhenti. Kita sudah lama tidak seperti ini lagi. Biarkan saja, ya, Sayang? Aku selau merindukanmu di sana,” ucapku. Erika memang menggairahkan. Aku suka kalap dibuatnya.

“Vina, sebentar dulu, Sayang,” pintanya. Aku berhenti menciuminya.

“Aku ingin bertanya saja. Apakah ayahmu tahu tentang aku?”

Aku menghela nafas. Panjang. “Belum.”

“Kamu egois!”

“Erika, dengar dulu, Sayang... Aku tidak mungkin menceritakan hal ini sedangkan keadaan keluargaku masih kacau! Kamu mengerti, dong!” tuntutku. Erika menghela.

“Vin, aku mendapat pekerjaan baru. Besok aku mau pergi menghadap bos baruku. Aku akan segera mengubah kehidupanku!”

“Aku senang mendengarnya. Tapi mengapa besok?”

“Ada apa dengan besok? Kalau kamu sibuk, tak apa. Aku bisa pergi sendiri. Oh iya, mereka bilang aku akan dijemput. Jadi kamu tidak perlu mengantarku.”

“Aku senang sekali mendengarnya. Lalu apa kamu akan menikah?”

“Menikah?”

“Ya... Menikah!”

“Aku? Menikah?”

“Ya... Kamu.. menikah... denganku!”

“Mana mungkin kita menikah? Kita kan sama-sama wanita! Bagaimana bisa punya anak?”

“Memangnya punya anak hanya bisa dari berhubungan dengan pria saja? Kita bisa mengadopsi!”

“Tidak! Aku ingin punya anak dari rahimku sendiri!”

“Ternyata kamu sama saja dengan wanita-wanita murahan lainnya! Kukira hubungan kita bisa berlanjut. Sayang sekali...”

*

Sulit menghilangkan bayangan Erika. Apalagi kejadian semalam, yang kukira akan menjadi malam terpanjang seumur hidupku, ternyata merupakan malam kesialan bagaikan batu besar—seberat seribu ton—menimpa kepalaku.

 “Vina, lekas turun, ya. Ini Ersa sudah datang. Papa tidak mau semuanya gagal,” ucap Papa di telepon.

“Ya, Vina ganti pakaian dulu,” ucapku ketus.

Rumah kami terlampau besar. Jadi, jika terlalu malas menyuruh pembantu, biasanya kami gunakan fasilitas telepon yang ada di setiap ruangan.

Dari tangga atas aku melihat ayahku bersama seorang wanita di sampingnya, mungkin itu yang namanya Ersa. Terlihat mesra sekali. Mereka berpelukan, seperti akan berpisah. Mungkin si wanita itu takut aku tidak menerima kehadirannya. Dan akh.. Mereka berciuman! Seperti aku dan Erika semalam! Oh, Erika.. Andai saja aku bisa mendapatkan kenikmatan itu lagi....

Aku berhenti sebentar di tengah tangga menatap punggung seorang wanita yang sepertinya kukenal. Seperti Erika. Akh, tak mungkin! Hilangkan pikiran Erika! Jangan terpengaruh oleh bayangan semata!
Seakan-akan hatiku berkata benar. Itu pasti Erika. Tapi bukankah hari ini ia sedang bertemu dengan bosnya?

“Halo, Vina, putri Papa yang tercantik! Kemari, Nak. Papa kenalkan kamu dengan...”

Wanita itu menoleh ke arahku. Kami sama-sama terkejut.

“Hei, aku lupa nama panjangmu. Kupanggil Erika saja, ya?”
“Boleh. Namaku Erika Sadewa. Teman-temanku menyingkatnya Ersa.”
Tiba-tiba saja perkenalan itu tampak jelas di depan mata. Seperti takdir telah mengutuk hidupku.

***

©iis.
Jatinangor, 2006-2007

5 comments :

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^