Berbalas Fiksi: Project di Awan (4)

3.30.2013

-cerita sebelumnya bisa dibaca di sini-

"Suka, nggak, Bu? Tadi Umar beli di emperan belakang pasar," ujar Umar sambil cengengesan.

Ibu mengernyitkan keningnya kemudian menjiwit isi tas kresek tersebut.

"Ap ... pa in ... ni?"


Mata Umar terbelalak. Direbutnya tas kresek dari tangan Ibu. Dilihatnya benda sejenis kain berwarna ungu muda berenda di dalamnya. Ia menganga.

"Tadi Umar beli jilbab baru buat Ibu, supaya Ibu ngga malu kalau mengaji."

Pikiran Umar melayang ke sebuah lapak di emperan belakang pasar. Ia ingat betul membeli jilbab tipis berwarna putih untuk ibunya. Jilbab dari uang hasil kerjanya pagi tadi.

Di kejauhan, Benu, si preman pasar bertubuh kekar tadi, terus megumpat dalam hati. Ia mengintip dari balik tembok ujung gang dekat masjid. Ia melihat seorang wanita paruh baya dan anak kecil yang dikejarnya tadi sedang memandang aneh isi tas kreseknya. Mereka saling melongo. 

Ia tak tahu apa yang diucapkan mereka berdua. Yang jelas, ia akan kembali lagi ke rumah tersebut untuk mengambil tas kreseknya yang tertukar. Tapi, kapan dan bagaimana caranya? Sementara barang itu harus ia serahkan kepada Bos Besar sore ini.

Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Benu, "Heh, Bang, ngapain lo ngumpet deket tong sampah?"

Benu terkejut.



3 comments :

  1. hmmmm kok kayak ga sinkron ya.. hmmmmmmm..... kalo Umar beli kenapa musti takut sama si Preman?

    ReplyDelete
    Replies
    1. namanya preman pasar berbadan kekar. semuanya takut sama dia. apalagi sampe dikejar2. Umar sendiri ga tau kenaap dia dikejar2 sama preman itu.
      ada saran? apanya yang harus aku ganti?

      Delete
    2. hmmmm... jangan.. jangan diganti. ini penjelasannya yang jadi tantangan :D karena itu harus ada penjelasannya nanti...

      baeklahhhh *kretekin jari*

      Delete

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^