Buat Denok, Adik Ipar Saya

3.31.2013

Gara-gara prompt #5 di blog Lampu Bohlam, saya jadi pengin cerita. Eh, curcol, sih, sepertinya. Hehehe. Maaf, ya. Tulisan ini juga saya ikutsertakan di blog Lampu Bohlam.
______

Hari ini, 31 Desember, adik ipar saya menikah. Ya, dia menikah dan saya sekeluarga ngga pulang. Sedihnya. Adik ipar saya ini merupakan adik suami saya yang kedua, berarti anak keempat dari Mamah (ibu mertua) saya. Ia adalah adik perempuan pertama yang menikah. Nadia Imtihan namanya, saya dan keluarga biasa memanggilnya Denok. Kalau kalian orang Jawa, mungkin ngerti dengan sebutan "denok".


Sebenarnya, pernikahan Denok ini nggak mendadak juga. Karena sejak kepulangan kami Oktober tahun lalu, Denok udah cerita-cerita tentang calonnya ini. Gayung bersambut, Mamah malah nanyain suami saya kapan kami bisa pulang lagi biar bisa dipas-in sama jadwal nikahan Denok. Lha, baru aja pulang, suami saya belum punya jadwal lagi kapan bisa pulangnya nanti. Kemungkinan ya Lebaran. Tapi, kalau Lebaran itu kelamaan. Kasihan Denoknya juga.

Setelah itu, hingga Maret belum berakhir, saya dan suami selalu membicarakan pernikahan Denok. Pengin pulang rasanya. Tapi kalau dihitung-hitung pengeluarannya banyak sekali. Lagipula, jadwal pernikahan Denok itu pas suami saya sedang sibuk-sibuknya di kantor. Apa lah arti uang dibanding kebahagiaan tak terkira. Memang sering juga saya keluarkan jurus rayuan maut seperti itu pada suami. Mungkin bagi sebagian kalian akan beranggapan bahwa kami pelit. Tapi, maaf, keputusan kami tidak pulang bukan karena pelit.

Pernah pertengahan Maret kemarin, ndilalah dari kantor suami ada dinas ke Indonesia. Suami saya berharap dia yang pergi dinas ke sana (pulang maksudnya). Jadilah saya dan suami sepakat kalau dia jadi pulang, saya minta I'am dibawa juga. Karena ini perjalanan dinas, saya juga nggak enak kalau minta pulang sekalian. Tapi, karena memang benar-benar suami saya sedang dibutuhkan saat itu di kantor, dia nggak jadi diberangkatkan ke Indonesia. Kalau kata suami saya, "Kena korban PHP, deh." Hihihi.

Dan, hari ini sukses membuat saya dan suami sedih setengah mati. Mama-Papa saya datang ke acara nikahan Denok di Klaten. Saya dan suami hanya bisa menikmati acara lewat gambar yang dikirimkan Mama dan adik ipar saya yang lain. Ramai sekali pastinya di sana. Semua keluarga besar suami berkumpul. Semua teman-teman Bapak (Bapak Mertua saya) ikut berdatangan dan menginap karena sebagian besar dari luar Jawa. Ah, pasti meriah sekali. Dan saya jadi rindu sekali dengan mereka.

Mas Utut dan Denok sesaat sebelum ke gedung (dikirimin sama Mama ini fotonya)

Keluarga suami saya (yang baju biru itu kakak ipar suami)

P.S:
Buat Denok, barokallohulakum. Semoga jadi keluarga sakinah, mawaddah, warrohmah. Maaf, Mba sama Mas Eri ga bisa dateng. InsyaAlloh Lebaran nanti kita kumpul-kumpul lagi ya di Morisan. Mudah2an kamu udah isi. Kita foto-foto lagi aja nanti. Kan udah nambah anggota lagi :)

*aslik, pengen nangis saya nulis postingan kali ini*

4 comments :

  1. waah barusan aku juga absen dari acara nikahan tante suami, padahal itu acara kumpul keluarga besar sebelah suami T_T
    biaya pulang kurdistan-indo brapaan mak? *ambil kalkulator* hihihh

    ReplyDelete
    Replies
    1. lumayan, mak. kalo diitung2 sih bisa untuk 2 orang umroh :D
      *pengsan*

      Delete
  2. alhamdulillah ada internet ya, sekarang tetap bisa saling berkabar walau jauhan... selamat buat Denok...

    semoga bisa lekas benar2 'pulang'...

    ReplyDelete
  3. Mba isti gimana buat visa kkurdistan?

    ReplyDelete

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^