Dikunjungi Dubes Indonesia untuk Irak, Pak Safzen Noerdin

4.01.2013

Tulisan ini saya post di Kompasiana juga
_________

Kemarin, Sabtu, 30 Maret 2013, saya dan teman-teman Indonesia lainnya yang di Suly mendapat undangan dari Pak Safzen Noerdin. Yap, beliau adalah Duta Besar Republik Indonesia untuk Irak, yang berdomisili di Baghdad, Irak.


Di saat negara lain kantor Kedutaan Besarnya sulit didatangi, entah sibuk menerima tamu atau menerima "saudara" setanah air, kami malah dikunjungi oleh Duta Besarnya! Bukan hanya kami aja yang di Suly, tapi juga temen-temen yang tinggal di Erbil. Ya, saking sepinya pengunjung yang bertamu ke Kedutaan Besar Indonesia di Baghdad mungkin, ya. Fyi, jarak Baghdad-Suly sekitar 600km. Nah, berapa jam deh, tuh?

Pertemuan diadakan di Hotel Mamuzen. Saya sekeluarga dan Mas Arif (teman kantor suami) datang awal. Baru kami aja waktu itu dan kami ngobrol-ngobrol di lobi hotel. Kemudian datanglah Bu Yeni, yang mengabari saya bahwa Dubes datang hari ini. Bu Yeni ini penampilannya seperti orang kantoran, lho. Beliau bukan TKW yang bekerja sebagai asisten rumah tangga. Dari caranya berbicara nampak seperti orang pandai. Ya, gimana sih kalo kita sering di kantor dan ketemu banyak pejabat tinggi?

Sekitar pukul 10 pagi kami diajak ke atas untuk menemui Pak Dubesnya. Kami digiring menuju sebuah ruangan meeting. Kesan pertama saya bertemu dengan Dubesnya adalah orangnya sumeh, hihi. Welcome sekali.

Pertemuan kemarin, sebagian besar yang datang adalah para TKW. Hebat, ada yang sudah bertahun-tahun tinggal di Suly ternyata! Ada yang memang bukan menjadi pekerja kasar di sini, tapi hanya 1-2 orang, lainnya memang TKW. Dan, saya baru kali ini bertemu dengan temen Indonesia selain yang tinggal di lingkungan apartemen saya. Hihihi. Where've you been, Isti?

Pembicaraan memang nggak resmi dan formal. Cukup santai tapi tetap mengacu pada norma kesopanan. Nggak ada agenda khusus dari Kedubesnya mau membicarakan hal apa, semua mengalir begitu aja sejak duduk bertanya kabar hingga permasalahan paspor TKW yang ditahan oleh majikannya. Di sinilah fungsi Kedubes, sebagai jasa konsultan paling nggak. Para TKW ini butuh bimbingan.

Semua TKW di Suly (Kurdistan, Irak) adalah ilegal menurut Pak Safzen Noerdin. Mengapa? Karena mereka pada awalnya nggak berniat untuk bekerja di Suly, melainkan negara-negara lain seperti Singapura, dll. Namun pada praktikknya mereka dikirimkan oleh agen ke sini. Pihak Kedubes Indonesia sebenarnya nggak pernah mengeluarkan visa untuk para TKW tersebut. Kasihan, kan?

Cukup seru juga perbincangan kemarin. Sayang, Shaki, anak saya, rewel terus selama di ruang meeting. Ia takut melihat banyak orang yang belum dikenal jadi begitu melihat saya nggak ada di dekatnya langsung nangis. Malu juga, sih. Tapi ya mau gimana lagi?

Kira-kira pukul 12.30 siang pembicaraan disudahi dan kami diajak makan siang oleh Pak Safzen. Yeay, inilah yang ditungg-tunggu! Hihihi. Selesai makan, kami berfoto-foto bersama Pak Safzen. Baik sekali beliau. Seperti punya Pakdhe di Suly.

Saya sekeluarga bersama Pak Dubes Safzen Noerdin

Berfoto bersama, sayang ada yang udah pulang duluan karena ada acara Paskah

Para TKW berharap jika ada undangan seperti ini lagi supaya diberitahunya nggak mendadak. Banyak memang yang nggak bisa datang, bahkan teman-teman kantor suami saya aja cuma Mas Arif aja yang bisa, lainnya ada meeting di kantor. Sedangkan para TKW yang nggak datang kebanyakan karena nggak dikasih ijin sama majikannya, ada juga kemarin yang datang dengan majikannya!

Pertemuan kemarin cukup berkesan. Saya jadi punya teman baru yang banyak dan mereka sangat baik. Kami bertukar nomor telepon. Semoga ke depannya para TKW ini punya lembaga yang melindungi mereka selama bekerja di Kurdistan atau Irak, agar nggak banyak lagi terjadi kasus TKW kabur sementara paspornya masih ditahan majikannya. Hidup Indonesia! :)

6 comments :

  1. ketawa ketiwi klo liat ini inget koment :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkkwkww
      next time diterawang dulu mak itu fbnya siapah :D

      Delete
  2. Dubes nya keliatan baik ya, ke-bapak-an :) jadi merinding ngebayangin merantau jauh, untung sama keluarga ya, Mak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya betuuul. kirain ukanya yg tegas gimana gitu ya, eh pas liat enak banget, low profile, sumeh (suka senyum). seneng deh kalo semua dubes kayak beliau tampangnya :D

      Delete
  3. salam kenal mba, wah di irak ya mba,, dulu saya juga punya teman kuliah dari kurdistan...nice sharing :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba saya di irak, kurdistan tepatnya.
      makasih udah berkunjung ke sini. salam kenal juga :)

      Delete

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^