(Gagal) Berburu Ikan Laut di Pasar Suly

4.16.2013

"Ikan laut? Emang ada di Suly?"

Begitulah kira-kira pertanyaan yang keluar dari mulut saya, suami saya, Mbak Gita, dan beberapa teman suami saya. Maklumlah, Suly (baca: Irak) itu nggak dekat dengan laut. Jadi, wajar aja kami menanyakan begitu kalau ada yang bilang di pasar ada yang jual ikan-ikan laut.


Yah, berawal dari pertemuan dengan Pak Dubes tempo hari, saya banyak kenalan dengan beberapa TKW dan bertukar nomor hp. Seminggu kemudian, tepatnya hari Jumat (5/4), dua di antara mereka datang bersilaturohim ke rumah saya. Mbak Budiwartini dan Bu Farida namanya.

Mereka baik sekali, bahkan datang tanpa tangan kosong! Shaki, anak saya, dibelikan boneka. Dua boneka. Kenapa repot-repot segala beliin boneka? Padahal saya udah bilang nggak usah bawa apa-apa, datang aja. Titik.

Lalu kami ngobrol-ngobrol seputar Suly dan teman-teman TKW lainnya. Sayang, Mbak Gita sedang nggak enak badan waktu itu, jadi nggak bisa datang ke rumah saya juga. Lagipula, cuaca juga nggak mendukung; angin kencang sekali dan dingin.

Dari situlah saya tertarik dengan perkataan Mbak Budiwartini bahwa dia sering beli ikan laut di pasar. Saya bingung, perasaan selama saya ke pasar nggak pernah lihat ada yang jual ikan. Jadi saya penasaran pengen diajak jalan-jalan sama dia ke pasar ikan, bersama Mbak Gita tentunya.

Akhirnya, Jumat kemarin (12/4), untuk pertama kalinya saya dan Mbak Gita pergi sendirian tanpa suami dan anak-anak. Yes! Hahaha! Kami janjian dengan Mbak Budiwartini di Kaso Mall, mall yang isinya rata-rata orang Cina, lokasi masih di pasar juga.

Gambarnya saya comot dari sini

Sambil menunggu Mbak Budiwartini, kami naik ke lantai tiga dan empat yang terdapat toko penjual bahan makanan Cina. Di lantai empat, kami mendapatkan udang ebi, kacang tanah, dan cabai merah kering. Alamak senangnya bukan kepalang! Bagaikan bertemu Adam Levine di pasar dan foto bareng dengannya! *lebay* :D Harga-harganya pun nggak mahal. Untuk belanjaan semua tadi saya hanya membayar ID 7.500, sekitar IDR 60.000,-.


Karena beli kacang tanah, jadi kepikiran untuk bikin sambel goreng teri kacang. Akhirnya kami ke lantai tiga karena di sana ada salah satu toko yang menjual teri. Bukan teri medan, sih, tapi nggak apa-apa deh toh sama-sama teri juga. Dan si teri ini mahal, lho. Seplastik harganya ID 9.000 atau sekitar IDR 72.000,-.

Selesai belanja, kami bertemu Mbak Budiwartini. Perburuan dimulai. Kami keluar mall, menyeberang, lurus terus menyeberang lagi lalu belok kiri. Masuk ke dalam pasar, belok-belok lagi. Sungguh, saya dan Mbak Gita belum pernah masuk ke pasar yang ini! Kami sampai terheran-heran ini bagian pasar mananya sih ya, kok sama sekali nggak kenal daerahnya. Pantas aja selama ini kami nggak pernah tahu kalau sebenarnya ada ikan laut dijual di pasar!

Sambil menghapal jalan, karena manatau besok-besok mau ke sini sama suami, tau-tau kami udah keluar pasar lagi. Terminal bus. Katanya, di samping terminal bus itu ada penjual ikan laut. Tapi, sayangnya waktu kami ke sana nggak ada satu pun penjual ikan lautnya. Mba Budiwartini bertanya pada salah satu pedagang di sana (dengan bahasa Kurdi tentunya), dan ternyata penjual ikannya udah pindah. Kami putar balik menuju arah yang dimaksud.

Kami masuk ke dalam pasar lagi, kemudian bertanya lagi. Belok-belok lagi, lalu keluar pasar. Nah, katanya lagi, seharusnya ada di situ. Pinggir jalan. Tapi, lagi-lagi, sayangnya nggak ada penjual ikan laut satu pun yang tampak. Mereka nggak berjualan pada hari Jumat, katanya. Padahal, kata Mbak Budiwartini, dulu ia belanja ikan lautnya hanya hari Jumat aja dan memang ada.

Dia bilang, dulu dia sering beli ikan laut karena setelahnya masak dan makan bareng di rumah salah satu TKW yang menikah dengan orang Bangladesh. Namun, beberapa bulan belakangan, mereka udah jarang makan-makan bareng lagi, jadilah dia nggak tahu kalau penjual ikan lautnya pindah. Hmmm, tak apalah. Saya jadi tahu sisi lain pasar Suly. Benar-benar sisi yang lainnya, ya.

Dengan merasa bersalah (mungkin), ia mengantar kami ke Twemalek Street, tempat yang menjual ikan air tawar segar. Kami membeli 2 kg ikan mas besar. Sulit memilih ikan mas yang kecil karena memang semuanya berukuran besar. Kami membawa pulang masing-masing tiga ekor ikan mas besar dan entah mau dimasak apa di rumah nanti.

-image-

Meski saya dan Mbak Gita gagal berburu ikan laut, tapi hati kami puas karena bisa berbelanja tenang tanpa gangguan anak-anak. Hehehe. Dan meskipun kami gagal berburu ikan laut, toh kami bisa dapat ikan mas segar dan teri dkk.

Kalau sudah begini, memang, Indonesia begitu dikangenin. Semua jenis ikan bisa dengan mudah ditemukan di pasar. Indonesia, i miss u so. :)

No comments :

Post a Comment

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^