PromptChallenge Quiz #2: Pintu

4.19.2013

Foto: dok. pribadi

Pukul 23.56.

Akhirnya suamiku pulang juga. Tampan sekali ia malam ini. Aku mengintipnya dari balik jendela kamar. Kami akan merayakan ulangtahun pernikahan yang kelima. Tanpa anak.

"Dia datang! Mati!"

Suara-suara itu datang lagi. Aku lelah mendengarnya. Kemudian aku mendengar derap langkah suamiku menuju kamar.


"Hai, Adelia Maharaniku Sayang! Gimana kabarmu hari ini?" tanyanya sambil mengecup keningku.

"Sudah dekat. Ayo cekik!"

Aku tersenyum dan memeluknya, "Baik sekali. Aku taksabar menunggu kepulanganmu."

"Aku tahu. Lihat, apa yang kubawa untukmu! Happy anniversary for us!"

Tangannya mengeluarkan sebuah pengaman. Lagi. Aku muak dengan pengaman. Mungkin dilihatnya raut wajahku berubah sendu.

"Bunuh saja!  Bunuh!"

"Kenapa merengut? Kali ini pengamannya baru lagi, lho! Lihat gambarnya, ada yang bergerigi dan ada rasanya!"

"Kamu nggak butuh itu, Mas!"

PLAK! Ia menamparku.

"Aku memang hanya butuh hartamu!" desisnya.

Kemudian ia menyerang bibirku dengan kulumannya yang dahsyat. Kudorong ia hingga terjatuh ke tempat tidur. Aku benci selalu terlena dan lupa bahwa aku marah. Ia tampak lebih menggairahkan. Maka kubiarkan ia menjamah tubuhku malam ini.

Berjam-jam kemudian, aku takbisa tidur. Padahal cahaya lampu masih remang. Kulihat gunting di meja rias, tampak indah sekali. Dan seolah-olah menggodaku untuk mengambilnya.

"Ambil aku! Ambil aku!"

Suara itu terngiang di telingaku. Kulihat suamiku masih terlelap.

"Ambil! Ambil!"

Kuraih gunting tersebut.

"Tusuk! Tusuk!"

Lalu kutusukkan berkali-kali ke ulu hatinya. Ia sempat membelalakkan matanya sebentar. Kemudian kutancapkan saja guntingku di matanya. Mati.

"Hahaha!" suara itu menertawaiku, dan suamiku.

 Aku puas. Aku bisa memiliki anak dari lelaki lain. Bukan darinya.

"Hahahaha! Selamat, Adelia!"

Aku tersenyum puas.

Kemudian tiba-tiba pintu terbuka sedikit. Lampu dinyalakan. Silau.

*

Aku melihatnya melalui jeruji kecil sebesar kepala dewasa pada pintu. Remang. Tak banyak yang bisa kulihat. Hanya seseorang dengan strait-jacket yang sedang terduduk di pojok ruangan. Dialah calon klienku. Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku. Aku terkesiap.

"Eh, maaf, Dok," ujarku malu.

"Tidak masalah. Ia baru beberapa hari di sini. Hanya saja, Anda belum bisa masuk dulu, cukup lihat dari sini. Ia belum bisa menerima kedatangan orang lain ketika lampu dinyalakan."

Aku manggut-manggut. Perawat di depanku merogoh saku bajunya.

"Saya hanya ingin memastikan saja, Dok. Oh ya, kasus sebenarnya seperti apa, ya?"

"Ia membunuh dengan dalih diperintah oleh suara-suara."

Ah, jangan-jangan?, batinku.

Kulihat perawat memutar kunci pintu.

"Siapa namanya, Dok?"

"Adelia Maharani."

Mulutku ternganga.

Kemudian perawat membukakan pintunya. Lampu dinyalakan. Ia silau.

Istri kekasihku.

***



Words: 379/500


Catatan: ff ini terinspirasi dari novel "Pintu Terlarang" karya Sekar Ayu Asmara. Entah kenapa, begitu selesai memotret pintu, langsung kepikiran ide schizophrenia. Semoga inti ceritanya dapat ditangkap oleh pembaca. ^^

44 comments :

  1. hihi. pengaman itu maksudnya k*nd*m kah? pantes ga punya anak selama 5 tahun ya. hehe. tadinya saya berharap ending yg menghibur ato sedih. tp pas tahu mati karena dibunuh gini, kening saya jd berkerut mak isti. mungkin masalah selera aja sih, hihihi. endingnya dia masuk RSJ ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, mak. itu k*nd*m. tadinya pengen nulis gamblang, tapi ntar banyak yang protes jadinya aku perhalus deh kata2nya :D
      yap, masuk RSJ. hihi, selera kita beda, ya.. semoga pembaca lain yg belum kenal aku nggak ngira aku "sakit" gara2 tulisanku beginian. :D

      Delete
  2. Tema schizofren memang salah satu tema favorit yang sering dipakai dalam FF ya :)
    Agak bingung pada kalimat ini 'Aku melihatnya melalui jeruji kecil sebesar kepala dewasa pada pintu.'

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh, ya? saya nggak tau kalo skizo jadi tema favorit, soalnya saya belum pernah baca satu karya temen2 saya yang ngangkat tema ini.

      bingung gimana? jadi itu maksudnya, ada jeruji di pintu. jerujinya itu pas banget ukurannya sama kepala kita. gitu lho.

      Delete
  3. mbak, kata 'takbisa' dan 'taksabar' itu memang digabung ya? *tanya*

    ohya mbak, skizofrenia itu, memiliki setidaknya dua gejala. waham (keyakinan untuk menjadi sesuatu) dan halusinasi. dan dua gejala ini timbul karena kemungkinannya ada dua, adanya garis keturunan yang mengalami psikosis (sakit mental) atau gejala muncul karena kerusakan pada sistem syaraf di otak. kalau dilihat dua kemungkinan itu, skizofren munculnya udah lama, bahkan bisa sejak dia kecil dan semakin parah saat berbenturan dengan keadaan sosialnya.

    sedangkan dari ceritanya mbak isti, 'kemungkinan' skizofrennya muncul karena muak selalu pakai pengaman. kalau dilihat, sepertinya ini bukan skizofren melainkan sakit mental yang berhubungan dengan ketidakpuasan dalam berhubungan suami istri. *pengalaman sekolah di psikologi*

    CMIIW :)

    ReplyDelete
  4. aku suka nih Ri, cerita dg latar psikologi begini, keren ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. haiyahhh...maabh mba Isti, aku siwer baca komennya Ria jd manggil 'Ri' qiqiqiqi *mlipir*

      Delete
    2. mbak orin, siwernya kejauhan. dari gresik ke iran :))

      Delete
    3. soalnya aku komen persis setelah dirimu Jeng *tetep membela diri* qiqiqiqi

      Delete
    4. wkwkkwkwk ngelesnya bisa aja, mbak orin :p
      makasih udah mampir :)

      Delete
  5. Nah... kebiasaan nulis yang begini sih... nulis yang biasa dan mengharu biru jadi ndak bisa...

    =)))) *ngakak*

    ReplyDelete
    Replies
    1. bhahhahahahhha setresss gara2 cerita yang "takbiasa" :D

      Delete
  6. kalo g mau punya anak ngapain nikah coba? #komenapaini?

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu mbak, udah aku revisi ceritanya. jadi jelas kenapa mdia nikah tapi ga mau punya anak.

      Delete
  7. kak, ini jadi dua part beda point of view yak?

    ReplyDelete
  8. Hahhahah kerennn :D
    ENdingnya mantapp!

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih, mbaaaak! TT__TT
      *terharu*
      *peyuk-peyuk*

      Delete
  9. Replies
    1. makasih juga, maaaaaakkkk!! TT__TT
      *terharu*
      *peyuk-peyuk juga biar ga iri* :p

      Delete
  10. Di bagian ini saya agk mengerutkan kening:
    "Aku benci selalu terlena dan lupa bahwa aku marah. Ia tampak lebih menggairahkan. Maka kubiarkan ia menjamah tubuhku malam ini."
    Apakah maksudnya si aku benci dirinya yang selalu terlena dan melihat suaminya tampak lebih menggairahkan justru ketika si aku marah?
    Kalau begitu, kenapa sampai jadi benci kalau memang menyukai sex gaya kekerasan?
    (idih, komennya berasa pakar seksologi ajah)

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah, kenapa ya? coba tanya sama si adelia. kenapa dia benci kalo dia suka?
      mbacanya sambil pake backsound "Love The Way You Lie" Eminem ft. Rihanna, yak :p

      Delete
    2. kayanya ga sampai ke model masokis deh... cuma dia selalu jadi lupa 'marah' kalau dicium bergairah. ya mbak isti?

      Delete
    3. iya mbak, ga sampe masokis. aku ga tau juga kalo skizo bs kolaborasi dgn masokis apa nggak, hahaha. yg jelas, "aku" jd lebih bergairah ketika di"panasin" dan liat suaminya jadi makin menggairahkan. gitu, sik.
      tapi entah kenapa pas adegan itu, aku kok ingetnta lagi eminem yg entuh, hihihihi :D

      Delete
  11. ini udah diedit ya mbak, lebih bagus tentunya :)
    eh baca komen mas Sulung jadi ketawa :D mungkin karena dia belum nikah kali ya? hihihi... *bener ga sih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya udah diedit. syukurlah hanya sekali edit dan ternyata jadi lebih bagus, alhamdulillah.
      hihihi, ga tau ya kalo yang masalah Sulung :D

      Delete
  12. Hadeuh3x mak ini kisahnya udah mulai "liar" nih. Udah masuk ke dua X nih, qiqiqiqi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. masuk kedua kali? maksudnya gimana, Bunda?
      makasih udah mampir ya, Bun :)

      Delete
  13. Replies
    1. *elap keringet mbak sari* :D
      makasih ya udah mampir :)

      Delete
  14. saat baca agak meringis pas, yg "Aku benci selalu terlena dan lupa bahwa aku marah. Ia tampak lebih menggairahkan. Maka kubiarkan ia menjamah tubuhku malam ini."
    Tapi saat berganti cerita tanpa babibu,, seolah langsung berada diruangan yang berbeda ,, sipp mbak ,,

    ReplyDelete
  15. revisiannya tambah kerren :)

    ReplyDelete
  16. aturan lebih gamblang aja mba, biar lebih berani tulisan'a, kan gamblang seru dibanding jamblang #ups hehehe :)

    ReplyDelete
  17. mak Isti pernah bikin yang romantis juga kok...he2. btw, nice idea mak...

    ReplyDelete
  18. Uduuhh, gak bisa deh bikin kaya beginian, ampuun Mak Isti :D

    ReplyDelete
  19. Setelah direvisi, udah oke *sebelumnya cuman silent reader*

    >> Ah, jangan-jangan?, batinku.

    Tanpa ada kata 'batinku' sebenarnya udah diketahui karena dimiringkan. Trus ada tanda koma setelah tanda tanya. Itu aja sih catatannya :D

    ReplyDelete
  20. nggak mudeng, mbak...#tutupmuka, kernyitkandahi# saya terbiasa dg y lugas-lugas, jadi kalo yang bikin mikir begini jadi bingung, help meeeeee...

    ReplyDelete
  21. bingung pas baca yang bagian keduanya is, gak tau klo dah ganti tokoh

    ReplyDelete

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^