Bapak Tua Itu

5.22.2013

Baru lima hari kami pindah ke pinggir pantai ini. Ayah selalu berangkat subuh-subuh dan kembali ketika senja tiba. Aku masih belum bisa bersekolah, karena harus menjaga adik yang masih balita. Sementara ibuku .... Ah, karena ibulah Ayah memutuskan pindah ke sini. 

Hampir setiap hari, aku dan adik selalu bermain di pantai. Dan ketika lelah, kami akan berteduh di warung Bapak Tua. Memang begitu sebutannya. Takbanyak penduduk di pesisir pantai ini. Kalau pun ada, jarak rumah kami berjauhan, sekitar lima meter. Warung Bapak Tua satu-satunya yang paling dekat dengan pantai, dan rumah kami.

Dok. Pribadi Mbak Orin
Hampir setiap hari pulalah beliau menemani kami. Beliau begitu baik, dan tampak sayang pada adikku. Taksegan-segan beliau menggendong dan menciumi adikku ketika kami singgah di warungnya. Mungkin ia rindu pada cucunya yang entah dimana. Ia sendirian.

"Adikmu ini masih balita, kan?"

"Iya, Pak!" jawabku sambil mengangguk.

"Masih balita aja udah cantik begini. Gimana besarnya nanti? Pasti ibumu juga cantik, ya?"

Aku hanya mengikik pelan.

"Pak, boleh saya titip Nisa sebentar? Saya mau ke rumah dulu, mau ambil mainan Nisa. Kami mau main pasir nanti."

"Oh, ya jelas boleh! Boleeeh! Lama juga nggak apa-apa, kok!" katanya sambil tersenyum lebar.

*

"Nisa, ikut ke dalam, yuk? Di sini gerah."

Nisa menuruti ajakan Bapak Tua. Ia menggendong Nisa, kemudian menuju kamarnya yang gelap. Di dalam kamar, Nisa diberi permen. Permen yang dapat membuatnya fly. Dan ketika Nisa taksadar, Bapak Tua mulai membuka celananya dan celana Nisa juga.

***
237 kata

Catatan: Sumpah. Pas bikin ini, jadi deg-degan sendiri. Takut. Was-was. Semuanya, deh, ngumpul jadi satu. Masalahnya saya punya anak perempuan dan masih balita. :(

16 comments :

  1. Kok jadi serem, mbacanya yah hm....

    ReplyDelete
  2. meskipun endingnya sudah bisa saya tebak, saya juga merinding maaak. amit2 jabang bayiii, naudzubillah min dzaalik >.<

    ReplyDelete
  3. wah si kakek.....
    smoga cuma sebatas FF ya mba kakek yg kayak gini :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. tapi di dunia nyata emang ada lho kakek yang kayak gini. hiiii....

      Delete
  4. saya juga nebak sih mak, cuma nebaknya ga pake permen fly..


    anakku cewe juga seremmmm

    ReplyDelete
  5. hot hot pop muncul lagi.. heeuuu :)
    pak tua kurang pedofil maunya sama bayi huuhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. typo.. maksudnya --> pak tua kurang ajar dan pedofil >.<

      Delete
  6. Hiyy serem deh. Tua2 keladi tuh si bapak

    ReplyDelete
  7. aw aw aw...
    merinding endingnya mbaaa.... hiiyyyyy

    ReplyDelete
  8. aaaaah.... mak istiii.... Nisa itu anak saya maaak, dan masih balitaaaaa. *kekep nisa*

    ReplyDelete
  9. Ya ampun, serem amat mak. ngeriiii

    ReplyDelete
  10. kayanya lebih pas kl naratornya orang ketiga dr awal sampai akhir..

    ReplyDelete
  11. atuttt.... T,T

    jadi inget bapak yang katanya perkosa anaknya dan nularis penyakit itu.. :(

    ReplyDelete
  12. seperti ada yang "ngruel-ngruel" (bahasa mana tuh?) di dalam perut (maaf maaf)
    *butuh keberanian yg tinggi untuk nulis cerita kayak gini. paling tidak itu yg saya rasa :)

    ReplyDelete

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^