[BeraniCerita #11] Kembalinya Cincin Ibu

5.12.2013

credit
"Nduk, kamu lihat cincin Ibu?"

"Endak, Bu. Memangnya tadi Ibu lepas?"

Aku mengingat-ingat bagaimana bisa cincinku lepas.


"Tadi sepulang dari pasar, Ibu kan ke kamar mandi."

"Iya, justru di kamar mandi Ibu baru sadar cincinnya hilang."

Aku cemas. Cincin itu memang hanya emas sepuhan, tapi inilah satu-satunya kenangan dari suamiku.

"Coba Ibu ingat-ingat lagi!"

Aku mencoba merunut mundur. Sebelum naik angkot untuk pulang, aku menyebrang. Ah, iya! Entah kenapa tadi pangkal jariku terasa gatal. Cincinku memang sudah longgar, karena jariku mengecil. Berat badanku menurun semenjak ditinggal suamiku.

"Nduk, Ibu rasa cincinnya terjatuh di jalan saat menyebrang dari pasar. Ibu balik ke sana dulu, ya."

Aku bergegas menuju jalan ke pasar. Dan dua puluh menit kemudian, aku tiba. Begitu turun dari angkot, mataku langsung menyapu jalanan, berharap cincinku masih terlihat.

Kulihat sesuatu yang kecil dan kuning di tengah jalan. Jalanan sedang kosong kurasa, jadi kuputuskan berlari ke tengah jalan lalu kupungut benda itu. Benar! Ini cincinku!

Baru saja aku menggenggamnya dan bersiap menyebrang, tiba-tiba sebuah mobil pick-up melaju kencang ke arahku.

BRAK!!

*

"Marni! Marni!" teriak Pak Misno dari luar.

Marni berlari keluar, "Ada apa, Pak, teriak-teriak?"

"Ini cincin Ibumu?"

Marni mengambil cincin dari tangan Pak Misno. Senyumnya merekah lebar. Wajahnya terlihat girang sekali.

"Iya, Pak! Di mana Bapak nemunya? Tadi Ibu nyari-nyari sampai ke pasar."

"Ibumu yang nemu di jalan. Sabar, ya, Marni. Ibumu tertabrak waktu ngambil cincin ini. Ayo, kita ke Rumah Sakit sekarang! Ibumu kritis."

***
231 kata
Berani Cerita

11 comments :

  1. baca ini, saya jd pny ending versi sendiri:
    ibunya diantar ke rumah dgn kondisi sdh tdk bernyawa.. jadi sbelum ketabrak ibunya sempet make lg cincinnya..

    :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo ending versi saya, setelah ibunya nemu si cincin, tertabrak pick up, lalu jari manis yg bercincin terputus dan menggelinding ke kedua kaki anaknya x_x *edisi sadis*

      Delete
    2. wahahahah mba Nathalia dan noichil, memang tadinya saya juga mau bikin ending ibunya meninggal tertabrak. tapi entah kenapa, yang tertulis kok alah ibunya kritis. tapi gapapa deh, sekali2 bikin cerita yang ga mati2an mulu buat refreshing. hahhahah

      fyi, begitu suamiku selesai baca cerita ini aja, dia bilangnya, "Tumben bikin ceritanya ngga ada bunuh2an. Biasanya kalo ga ada yg mati ga seru kayaknya!" :D

      Delete
  2. separuh pertama cerita, semuanya baik-baik saja. memasuki bagian kedua setelah si ibu tertabrak, cerita menjadi aneh. Pertama: dari mana pak misno dapat cincin itu? Oke, kalo pake versi pengarang sih (edisi sadis tapinya, :p ) jari si ibu putus..dst. Tapi itu kan terlalu luas kemungkinannya. Sisa 200-an kata bisa pengarang manfaatkan untuk memberi sedikit petunjuk buat pembaca. Kedua : jika pak misno memang tetangga para tokoh, tentu dia akan langsung bilang : "Marni, ibumu kecelakaan! Ayo segera ke rumah sakit." Lazimnya orang tidak akan 'berputar-putar' dulu sebelum memberi kabar kecelakaan.
    Itu aja sih komenku. Sorri kalo kebanyakan -dan nyakitin hati. Hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, makasih banyak mas masukannya. saya malah senang dapet respon seperti ini. sumpah :))

      pertama. memang pas si ibu dapet cincinnya ga langsung dimasukin ke jari, kan saya nulisnya cuma digenggam aja. ga langsung dipake ke jarinya.

      kedua. part 2 ini sebenernya saya juga kesulitan bangun ceritanya. pengennya langsung ngasih tau seperti yg mas tulis, tapi pengen juga ada percakapan tentang cincin tersebut. oh iya, pak misno tetangga mereka, kebetulan beliau kerja di pasar dan ketika ada keributan di jalanan (tabrakan) beliau tau.

      sip, mas. nanti saya coba revisi lagi. ga tau ini masih boleh apa ngga direvisi, ya..

      Delete
  3. waaaah adonan ceritanya oke bgt mba..twistnya ada di tengah dan di akhir...:D

    ReplyDelete
  4. kalo digenggam trus ditabrak, masihkah cincin itu dalam genggaman? *mikir*
    maaakkkk, awal cerita kita rada miripp ihh :D

    ReplyDelete
  5. sebenarnya idenya dapet, tapi pengemasan ceritanya ajah yang belum pas. terlalu tergesa-gesa di akhir, saat tiba-tiba pak Misno memberi tahu kalau si aku kecelakaan. bagaimana kok tahu kalau pak Misno kalau itu cincin milik si aku? apa orang akan sedetail itu memperhatikan pola cincin yang sangat kecil? yang bagiku seh, bentuk cincin dan ukirannya adalah hal yang perlu sekali pandang ajah buat diamati :)

    ReplyDelete
  6. Kemarin mau komen tapi tetiba inetnya lemot.

    Endingnya kurang greget mba. Dan komentar teman-teman sudah mewakili komen saya.. :)

    ReplyDelete
  7. hmmm... kurang 'mengalir' mba Is, percakapan pak Misno dan Marni agak sedikit dipaksakan kalo menurutku^^

    ReplyDelete

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^