Prompt #17: Kertas Contekan

6.19.2013

"Dina, ikut saya ke ruang jurusan!"

Mati, deh! Ada apa ini? Apa karena jawaban ujianku yang asal-asalan? Aku membayangkan kata-kata apa yang akan dikeluarkan Pak Eko nanti. Pasti aku akan dimaki habis-habisan di depan dosen-dosen lain. Jantungku berdebar cepat. Makin cepat seiring anak tangga yang kunaiki mencapai lantai tiga.

Kami berbelok ke kiri. Pak Eko dengan santainya memasuki Ruang Jurusan. Tanpa kata-kata. Aku berhenti sebentar di depan pintu. Kutarik napas panjang-panjang. Kuhela perlahan. 

"Dina, masuk!" Pak Eko meneriakiku dari dalam.

Aku memejamkan mata sejenak. Mudah-mudahan tak ada satu pun dosen atau mahasiswa di dalam ruangan. Kuraih gagang pintu kemudian sedikit kuintip ruangan di dalam. Syukurlah, kosong! Aku tersenyum senang. Paling tidak, aku tidak akan dipermalukan Pak Eko di depan dosen lain.

"Tutup lagi pintunya, ya!"

Aku menuruti perintahnya. Lalu aku duduk di depan meja Pak Eko. Sekarang aku sudah lebih siap menerima hukuman dibanding kemarin. Pak Eko menatapku tajam. Aku takut. Aku menunduk.

"Kamu tahu kenapa saya panggil ke sini?"

Aku menggeleng.

"Nih! Apa ini? Saya temukan di lembar jawaban ujian kamu! Tulisannya sama persis dengan yang ada di lembar jawaban kamu," ucapnya seraya melempar secarik kertas kecil.

credit

Kertas contekanku kemarin! Bodoh! Kenapa bisa ceroboh begini aku?

Aku masih belum mampu mengeluarkan suara.

"Cantik-cantik, kok, nyontek! Memalukan!"

Rasanya ingin hilang dari hadapannya.

"Menurut kamu, saya harus gimana kasih nilainya ini?"

"Saya siap ujian susulan, Pak."

"Di mata kuliah saya nggak ada ujian susulan!"

Aku bingung. Taktahu harus bagaimana lagi. Pak Eko berdiri menghampiriku. Jangan sampai aku ditamparnya. Aku hanya bisa menunduk dan memejamkan mata. Kemudian kurasakan tangannya merangkulku. Aku takut. Lalu diremas-remasnya buah dadaku.

"Diam saja kalau mau nilaimu selamat," bisiknya perlahan sambil mengecup leherku.

***

276 kata.
Based on true story. Semua nama yang digunakan bukan nama samaran. Tapi ending aslinya nggak begitu, ya. :D

46 comments :

  1. Aishhhh......... wkwkwk,....baca yg terakhir langsung pegang leher mak...*Gubrak

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku aja yg bikin ceritanya bolak-balik merinding karena sambil mbayangin jadi Dina. -_____-

      Delete
    2. Hiiiii mak kamu makin nakal.. pantesan aja gak ada orang dikelas merinding disko nih jadinya

      Delete
  2. wkwkwk endingnya gak nahaaan..semoga saja Pak Eko gak berkumis..weeeks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pak Eko asli sih memang ga berkumis. Tapi badannya gede tinggi dan geliin :D

      Delete
    2. berarti mba Isti dah ketemu dengan pak Eko yg asli wekekekeke

      Delete
  3. jadi ending aslinya gimana? *penasaran*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi silakan tanya aja langsung sama Mbak Dinanya :p

      Delete
  4. kok serem ya ujungnya. kata saya lebih serem hal kayak gini dari pada yg horor2 hiii

    ReplyDelete
  5. Nanya ya Mbak :), kalau berkata dalam hati bisa cukup ditulis miring gitu ya? . Dalam ceritanya mbak Is, saya sdh paham kalau yang di tulis miring itu perkataan dlm hati sebelum mbak jabarkan di paragraf berikutnya. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. oke, thank's ya. i'll edit it :)

      Delete
    2. lhi kok edit sich Mbak? wong saya ini bertanya. *garuk2 kepala.

      Delete
    3. iya bisa ditulis miring aja. Itu kalo ceritanya pake pov pertama ya. :)

      Delete
  6. amit -amit mbak dosen aku sampe kayak gitu.. huhuhuhu :((((

    ReplyDelete
    Replies
    1. amit2 juga kalo dosenku ada yg begitu.. tp memang kadang ada 1-2 dosen yg seperti itu, ya...

      Delete
  7. Ngeri banget ini ceritanya. Dosennya reseh... :|

    ReplyDelete
  8. Ahahaha ada sih yang beginian. Sunat aja dosennya sampe habis ^^

    ReplyDelete
  9. what?,trus abis leher kemana lagi...(Penasaran)..:)

    ReplyDelete
  10. aiiihhh merinding disko leher sayyyaa.. bbbrrr

    ReplyDelete
  11. Huwaaaahhhh... endingnya bikin muaaaaalll mbaaaaak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. haduh, mbak orin juga mual... jangan muntah di mari ya mbak ...

      Delete
  12. Tutup mata >.< gak berani liat

    ReplyDelete
  13. oh ya aampuuun, dosen gila! tapi emang ada lho yg kaya gitu :(
    IMHO, ruang jurusan kayaknya dengan huruf kecil deg mbak. karena tidak diikuti dg nama jurusannya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hmmm gitu ya? oke, aku edit nanti. makasih ya, pak. HBD :)

      Delete
  14. hadoooh pengen ngegampar dosennya....

    ReplyDelete
  15. Ceritanya bagus, walaupun ketebak endingnya.

    Oya, saya sepakat dengan mbak Uwien. Kalau sudah italic tidak perlu memakai keterangan "batinku". Lagipula FF ini memakai POV 1, jadi sepanjang cerita kita mendengarkan apa kata tokoh utamanya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, hebat, bisa ketebak endingnya dari awal! :)

      iya, saya edit mbak sebentar lagi. makasih ya :)

      Delete
    2. Iya, soalnya FF punya Mbak, seperti perspektif lain dari FF punya saya. Walaupun tidak sama persis. Tapi saya langsung punya insting ke sana :D

      Delete
  16. Untung pak eko, coba kalo bu eka yg begitu ... Lebih ngeri lagi

    ReplyDelete
  17. Haadeeeehhhhh..... Dosen bgni enaknya dilempar ke laut yg byk hiunya Mbak. Jd keinget slh stu dosen ku yg matanya suka jelalatan kmn2....... Jijay bajay.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. pasti ada lah ya dosen beginian, guru SD pun ada. :|

      Delete
  18. Wahahah serem ih.. wekkss.. jijay ngebayangin muka si dosen

    ReplyDelete
  19. hiyaaaa hiyyyyy... *merinding disko* *knocks on wood*

    ReplyDelete

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^