Prompt #4 MFF Idol: Laci Ajaib di Gedung Tua

11.07.2013

sumber

Mataku menyapu sekeliling. Kudapatkan sebuah gedung tua. Ah, cocok!

"Tujuh, delapan, ...," suaranya makin menghilang.

Kumasuki gedung tersebut lewat pintu samping. Sebuah kamar porak-poranda menyapaku. Di sudutnya terdapat lemari dengan beberapa laci yang tak jelas lagi arah pintunya. Pintu-pintunya setengah terbuka, ada juga yang tertutup. Ada semacam papan yang keluar dari laci paling bawah.


Kudekati laci-laci tersebut. Bau kayu lapuk menyambut hidungku. Kemudian aku berjongkok, mengintip ke dalam laci yang papan alasnya keluar.

Hei, apa itu?

Seberkas sinar tampak dari ujung ruangan kecil itu. Kucondongkan badan, dan kunaiki papan alasnya. Wussss! Tiba-tiba badanku terseret ke dalam dan pintu tertutup . Cepat sekali! Badanku terasa berputar-putar hingga 360 derajat. Kepalaku pusing. Rambutku berkibar ke segala arah. Kututup wajahku dengan telapak tangan.

Tak lama kemudian, hening. Kurasakan dengan telinga ke mana arah angin berhembus. Tak ada angin! Kulepas tanganku dari wajah, lalu kuusap-usap kedua mata.

Tempat apa ini?

Hamparan hijau dan bebungaan tumbuh dengan sempurna. Sekelilingku rumput yang tinggi hingga menyentuh pinggangku. Kuajak kakiku melangkah, rumput tersebut menghilang! Ketika kuangkat kakiku untuk melangkah lagi, rumput tadi tumbuh kembali.

Tak henti-hentinya mulutku menganga. Tempat ini ajaib! Kulihat lebah bergandengan tangan dengan capung, sambil terbang bersama. Kemudian ada kupu-kupu yang beterbangan di atas rumah ... kurcaci? Ah, kau tak akan tahu bagaimana rasanya melihat rumah kurcaci!

Kudekati rumah itu. Ingin sekali rasanya aku masuk. Lalu tiba-tiba badanku mengecil. Aku panik. Oh, tidak! Sekarang ukuranku sama seperti kurcaci.

"Masuklah!" seuah suara menyambutku datang.

Aku masuk ke dalamnya, sepi. Hanya ada meja makan kecil beserta kursinya. Semuanya serba mini. Lucunya! Tiba-tiba perutku lapar. Lalu muncul sebuah mangkuk berisi sup tomat di meja makan. Disusul segelas coklat panas.

"Makanlah!" suara tadi menyuruhku makan.

Kusapu pandanganku ke segala arah. Tak ada siapa-siapa. Kuhabiskan sup dan coklat panas itu. Kemudian muncul lagi sepiring kue bolu dan segelas teh hangat.

"Makanlah!" suara itu muncul lagi.

Kuhabiskan kembali makanan yang ada di depanku.

"Sekarang, tidurlah!"

Entah kenapa, mataku rasanya berat sekali. Tiba-tiba meja di depanku hilang dan kursi yang kududuki berubah menjadi sebuah tempat tidur yang nyaman sekali. Aku berbaring, lalu selembar selimut tebal muncul dan menghangatkanku

***

"Subhanalloh! Pa, jarinya bergerak!"

Suara Mama! Ah, Mama, aku kangen sekali padanya. Rasanya baru saja tadi sore aku pergi bermain. Aku tersenyum.

"Pa, Riga senyum!"

Memangnya ada apa? Aku tak mengerti.

"Riga, ayo bangun, Nak! Sudah satu minggu kamu tidur terus. Bangun, ya, Sayang!" Mama terisak kembali, sambil menciumi tanganku.

Di mana aku?

*****

Pas 400 kata.
Ini harusnya bisa jadi cerpen. Soalnya dibuat 400 kata rada sulit juga, mungin ideku yang terlalu panjang. Ini udah pangkas sana-sini. :D 
Semangat ya The Writers!
Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat, cerita ini hanya fikstif belaka. :p

4 comments :

  1. cerita seperti ini memang harus lebih dari 400 kata. soalnya punyaku jadinya lebih dari 400 kata *cari teman**dikamehame sama juri*

    ReplyDelete
  2. Eh Riga, kamu bermimpi, pingsan atau koma? :)

    ReplyDelete
  3. Ini Riga tetangga sebelah bukan? :D

    ReplyDelete

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^