[FF] Teman Anak Lelakiku

2.03.2014

Semua berawal ketika anakku mendapatkan tugas kelompok. Seharusnya ada sepuluh orang yang datang ke rumah, namun hanya lima saja yang hadir; empat perempuan dan satu lelaki. Aku tahu kenapa. Anakku memang bukan anak yang populer di kampusnya. Ia pendiam, dan feminin. Aku akui itu. Ia takbisa kuubah.

Penampilannya yang takbisa kusarani lagi, berbuah takmanis dari teman-teman lelakinya. Ia bertingkah seperti perempuan. Malu? Tentu saja. Tapi aku harus berbesar hati menerima kenyataan. Dan sejak tugas kelompok itu, ia jadi lebih semangat setiap harinya. Aku tahu kenapa.

Pun ketika takada tugas kelompok, teman lelakinya itu lebih sering datang ke rumah. Hatiku gundah sebenarnya. Takdapat kubayangkan masa depan anakku jika terus-terusan didatangi olehnya setiap hari. Tapi aku selalu menepis segala kemungkinan.

"Siang, Tante," sapanya ketika kubuka pintu siang itu.

"Siang. Ada tugas lagi?"

"Nggak ada, Tante. Katanya Andi mau minta diajarin main gitar sama saya."

"Oh ...," mataku melirik gitar yang dibawanya, "sebentar, ya. Masuk aja dulu."

Kemudian ia duduk di sofa, dan aku ke kamar anakku. Perlahan kuketuk pintunya, takada jawaban. Kuputuskan untuk membukanya.

"Andi! Kamu ngapain?"

Ia terkesiap.

"Andi gerogi, Ma. Zio datang lagi. Andi harus gimana?"

"Terus, ini baju-baju siapa?"

Kulihat ia sedang memilih gaun merah sepaha dan biru yang panjang di atas dipan.

"Punya Andi, Ma. Andi minta temenin Zio hari Minggu kemarin, Andi bilang mau beliin baju buat Mama. Terus, Zio yang bayarin," ucapnya centil.

Oh, Tuhan! Kecurigaanku selama ini terjawab. Tubuhku terasa melayang.

"Mama temenin Zio dulu, ya! Bilang aja, Andi masih di kamar mandi."

Aku masih takpercaya. Kulangkahkan kakiku ke ruang tamu menuju anak itu. Gulana.

"Andinya lagi ngapain, Tante?"

"Kamar mandi. Zio, Tante mau tanya ...."

"Tante suka bajunya?" tanyanya tampak malu-malu.

"Iya, Tante suka. Terima kasih. Tapi, seharusnya kamu bantu Tante untuk  ...."

"Saya beli baju itu buat Tante. Bukan Andi," selanya.

Mulutku ternganga.

"Sejak pertama saya ke sini, saya merasa Tante beda. Saya nyaman kalau bertemu Tante. Tante adalah wanita yang sempurna di mata saya. Saya rela menemani Andi demi bisa bertemu dengan Tante. Maaf, Tante. Tapi saya jatuh cinta sama Tante."

Ya, Tuhan! Tak cukupkah perceraianku sepuluh tahun lalu sebagai cobaan?

14 comments :

  1. Waduh, gimana rasanya disukai berondong ya? hehe.
    Ngomong-ngomong itu anaknya umur berapa mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haduh, saya juga gak tau harus jawab apa ini. Hahaha
      Itu anaknya kuliah, Mbak. ^_^

      Delete
  2. Hah? Ikutan menganga. Kaget aku Mak. Jadi, Andi suka sama Zio tapi ternyata Zio suka sama ibunya?? *nebak nebak berhadiah* :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, begitulah. Hidup memang kadang nggak adil, ya? Lalalalalalla *nyanyi2 geje*

      Delete
  3. keren mbak..
    saya suka idenya..liarrrr...

    ReplyDelete
  4. kaget di belakang, hihihi..
    sukses deh bikin melongo :))

    ReplyDelete
  5. lhaaah...saya kirain beneran. Ternyata fiksi toh...Baguus. Bikin saya melongo... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lha iya Mak, mosok beneran? Naudzubillahimindzalik! :(

      Delete
  6. Gak ketebak lagi. Kirain si Andi nya gay atau melambai2. Apalagi judulnya anak lelakiku. Jadi dr awal fokusku ke Andi, ternyata mama nya yg bikin kaget, wkwkwk. Niceeeeee <3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Si Andi memang gay. Tapi gebetannya deketin Andi karena dia suka sama mamanya Andi. :D

      Delete

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^