Don't Judge A Clinic by Its Door

6.04.2014

Jadi, ceritanya anak-anak saya ini lagi sakit, beberapa hari yang lalu. Dimulai dari Shaki yang panas, lalu pas I'am pulang sekolah ternyata badannya anget juga. Itu hari Selasa. Lalu Rabunya badan I'am panas, nggak sekolah deh dia sehari. Sementara Shaki udah mendingan, tapi masih muntah-muntah. Saya bertahan nggak mau ke dokter, pengin observasi dulu, ples kalo bisa ya nanganin sendiri aja dulu.

Kamisnya, badan I'am udah mendingan. Tapi kok muncul bentol-bentol di kaki, tangan, leher, perut, punggung. Dan, gatel. Nggak sekolah lagi jadinya. Karena kuatir, nanya Mama sama Papa, katanya itu kayak campak. Yah, apalah sebutannya, campak, tampek, yang jelas bukan cacar air.






Saya baru ingat punya kenalan dokter yang terakhir kali berobat, di klinik dekat rumah di daerah Cipinang, Jakarta Timur. Saya tanyalah beliau, sebut aja dokter D. Saya kirimin juga foto-foto I'am yang ditumbuhi bentol-bentolnya. Kata dokter D, si I'am itu bukan sakit campak atau tampek. Soalnya kalau campak itu merah-merahnya rata sama kulit, sedangkan I'am timbul (yaiyalah kan bentol).

Jadi saya disaranin beliau supaya I'am nggak boleh keluar rumah, maksudnya nggak boleh kena angin, gitu. Boleh mandi, pakai air hangat aja. Nggak usah sekolah dulu sementara. Untuk obatnya, disuruh beli antibiotik, obat muntah, obat anti gatal, salep atau bedak gatal, mandi pakai Dettol (saya bukan buzzer), dan jangan lupa kasih vitamin untuk menambah nafsu makannya. Baiklah, karena udah kemaleman, jadi suami saya ke apotek aja beli obat-obatan yang nggak dipunya di rumah.

Pulang-pulang, suami cuma bawa salep gatal, vitamin, obat muntah, obat paraetamol (buat stok aja). Saya kecarian deh itu antibiotiknya. Terus inget kata dokter D bisa kasih antibiotik dewasa. Berhubung saya punyanya yang 500 mg, jadi kudu dibagi empat, diminum sehari dua kali. Okehsip.

Suami cerita, apotekernya bingung waktu dia mau beli obat banyak banget. Setelah paracetamol, vitamin, masih minta obat muntah dan antibiotik. Apotekernya kaget kok beli banyak-banyak amat. Terakhir, antibiotik nggak perlu katanya. Itu aja udah cukup. Udah kebanyakan soalnya. Saya geli sendiri. Sementara kalau berobat di Indonesia, mesti dikasih obat banyak. Lah itu tadi dokter D aja ngasih resep banyak gitu, ya saya ikutin aja karena nggak ngerti. :/

Hari Sabtu, dokter D nanyain lagi kabar anak saya. Saya bilang belum ada perubahan. Lalu beliau menyarankan untuk ke dokter aja biar lebih jelas penanganannya. Baiklah, kami ke klinik hari itu juga. Klinik yang belum pernah saya kunjungin sebelumnya. Berdasarkan rekomendasi dari teman suami yang sering bawa anaknya ke klinik itu. Kliniknya 24 jam dan ada laboratoriumnya juga. Cukup lengkap.

Kliniknya sendiri ada di daerah Azhadi Park, di depannya tepatnya. Sopir-sopir taksi pada tau, kok. Dan, ketika sampai, saya masih kebingungan nyari mana pintu kliniknya. Atau paling enggak tanda atau plang gitu yang ada tulisan "CLINIC"nya atau "DOCTOR" gitu. Yang ada, saya nemu tembok putih dan ada pintu kayu tua berwarna coklat.

Pintu gedung apa coba ini?

Iya, itu pintu kliniknya. Serem, yak. Tadinya nggak yakin kalo itu pintu masuk kliniknya sampai suami saya nanya sama salah satu pria yang lagi duduk-duduk di dekat tembok ini. Begitu masuk, langsung disambut anak tangga.


Nggak ada apa-apa lagi selain anak tangga itu. Kami naik, lalu ketemu pintu kaca. Ah, mungkin di dalam itu ruangan kliniknya! Sepertinya ini memang klinik untuk anak-anak. Sedari masuk tadi poster-poster yang dipajang hanya yang bergambar bayi.

Pintu kaca menuju klinik.

Melewati pintu kaca, barulah kelihatan bentuk dalamnya seperti apa. Ternyata luas. Ada apotek dan laboraoriumnya juga di sebelah kanan, tapi nggak sempat saya foto. Saya lihat ada seorang bapak yang duduk di kursi pendaftaran. Ya, dari mana taunya coba kalau itu pendaftaran? Hahaha. Nebak aja. Suami ke tempat bapak itu, terus ngasih tau kalau kita mau berobat. 

Komunikasi yang alot, karena si Bapak nggak bisa bahasa Inggris dan suami nggak ngerti Bapak itu ngomong apaan. Hahaha. Lucu, deh, ah!

Ruang tunggunya gede, padahal yang nunggu cuma kita doang. Wkwkwkwk.


Setelah selesai urusan pendaftaran dan diharuskan membayar 10.000 Dinar, kami disuruh masuk ke ruangan yang ada di sebelah kiri Bapak itu. Hoh! Tampaknya memang lagi sepi. Habis daftar bisa langsung masuk, dong! 

Pas masuk, taraaaa! Dokternya mana, ya? Eyaampuuun, itu yang pake baju biru dokternya? Kirain asistennya. Kok ya ganteng? Hahahaha. Plak! 


Menurut dokter Bilal, iya namanya Bilal, I'am itu nggak kenapa-kenapa dan nggak perlu dikasih apa-apa. Kita tanya dong tentang obat yang udah kita kasih kemarin itu, sesuai anjuran dokter D, dan vitaminnya juga. Nah, kata beliau, "Kenapa kamu kasih vitamin? Kalau anak lagi sakit, jangan kasih vitamin, percuma. Malah nggak bekerja dia."

Nah, lho! 

"Antibiotik juga nggak usah kasih. Nggak perlu itu. Kasih obat anti gatalnya aja. Ini saya resepin untuk dua hari. Diminum tiga kali sehari, setiap delapan jam, selama dua hari aja, ya!"

Weleh-weleh. Kali ini makin bingung dengan pernyataan dua dokter yang kontra. Saya sendiri masih nggak ngerti penggunaan vitamin itu untuk kapan? Apalagi antibiotik! Sementara di Indonesia, sepertinya antibiotik itu selalu diberi kalau kita atau anak kita sakit. Iya, nggak? Tapi di sini, bahkan apoteker sekali pun bilang antibiotik itu nggak perlu.

***

Dan kepulangan kami dari klinik hari itu hanya membawa sebotol obat anti gatal, yang harus diminum selama dua hari aja. Saya malah lebih suka, ke dokter itu bukan untuk berobat, melainkan untuk berkonsultasi. Nggak apa-apa bayar mahal, asalkan saya dapat ilmu atau pengetahuan dari dokter tersebut, daripada harus pulang dengan bermacam-macam obat seplastik penuh, tanpa penjelasan apa-apa dari dokternya.

Don't judge a book by it's cover.

Mungkin perumpamaan itulah yang cocok untuk klinik ini. Terkadang, kita merasa kurang atau bahkan nggak yakin dengan sebuah tempat yang kelihatannya buruk. Kita enggan untuk masuk ke dalamnya, meski kita butuh dan banyak orang ke tempat itu. Malah jadinya takut duluan sebelum bertindak. Yang kita perlu lakukan hanyalah mencoba. Masuk saja, kalau memang nggak cocok, tinggalkan. 

Pemandangan pintu kayu tua pada tembok putih besar yang sama sekali, buat saya, mengerikan, justru meyakinkan hati saya. Mungkin, saya akan kembali ke klinik itu lagi, jika anak saya sakit. Bukan untuk berobat, tapi untuk berkonsultasi. Menyerap ilmu dokter yang baru lagi buat saya.

Don't judge a clinic by its door.
- Istiadzah

35 comments :

  1. Itu lagi berobat, sempet poto2 gitu Mak? dokternya ga marah apa? hahaha. :D
    Ya emang gitu, dokter di sini juga 'pelit' obat. Dan hampir GA PERNAH diresepin antibiotik. Malah kalo si dokternya ga tau ini sakit apaan, ya dokternya bilang aja gitu ga tau (walopun udah cek lab, dll), jd paling cuma diresepin obat pain killer aja, dan liat reaksi beberapa hari lagi. Kalau sembuh ya Alhamdulillah, kalau ga sembuh ya balik lagi. ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. pake hape motoinnya mak, terus di-silent. jadi pas ngejepret nggak bunyi. :D
      sama ya dokter2 di luar? gpp ya, kita mah ga butuh obat. butuh ilmunya sajah. :D

      Delete
  2. pantesan tl fb sepi biasanya rame ada km mak hehe....tuh kan saya perhatian.plak!!
    mas i`am mg cepet sembuh ya ganteng...isyrib dawa`..syafakallah ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hiyaaaaah wkwkkwkwk.
      aamiin, makasih tante :)))

      Delete
  3. that's good to know I'am sudah ditangani oleh dokter yang 'benar' hehehe...kliniknya gak ghetto gitu ya mak, tapi bagus deeh kalau servicenya bagus :)..cheers..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyah, Mak Indah. Aku seneng kalo ke dokter di sini, soalnya nggak selalu dikasih obat. Hahaha.
      Kalo kliniknya, di sini emang deh rata2 pada begitu modelnya: menyeramkan. -____-

      Delete
  4. kalo disini minimal 3 macam mak....makin banyak keluhan, makin banyak botolnya.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nha, iya bener, Mak! Untuk flunya, untuk batuknya, untuk demamnya, belom lagi antibiotik sama vitaminnya. -___-

      Delete
  5. terkesan kumuh klau dilihat dari pintunya ya mak. btw waktu aku cacar air aku dikasih vitamin tuh sama dokter, trus kan aku kontrol lagi ke dokter kulit yang kebetulan tempat tanteku kerja. Nah si dokter itu juga ketawa ngapain dikasih vitamin lagi udah gak perlu katanya gitu. Dokter kulit yang ini memang sih lulusan dari luar, apa memang gitu ya diluar mak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga kurang ngerti, Mak. Kenapa, ya?

      Delete
  6. Dokternya masih muda. #kedip2. :D
    Beda Dokter beda resep ya, Mak. Terus, pasiennya yang bingung.

    Sehat selalu Shaki dan Mas I'am.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahha iya masih mudaaaa, Idaaaah. Ganteng, lagi. Sayang aja aku nggak minta foto bareng kemaren. :D
      Iya beda resep, tapi seharusnya kalau masalah antibiotik dan vitamin semua dokter udah paham, harusnya ya.

      Aamiin. Makasih ya Tante Idah. :)))

      Delete
  7. Pintunya serem bgt, ternyata kliniknya bagus ya mba, dr bilalnya seganteng apa? *sambil gedein fotonya...

    Wah, kalau disini, malahan kita disuruh beli vitamin banyak2 dan mahal2, pdhl kan vit gak diganti asuransi he he he kok jadi curcol ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya serem, kayak masuk rumah hantu. Hahahaha.
      Sayang aku nggak minta foto bareng kemaren, wkkwkwkw.

      Ho oh, kayaknya vitamin itu wajib yah, selain antibiotik. :|

      Delete
  8. udah lama denger kalau dokter indonesia suka berlebihan kalau ngasih obat. dikit-dikit antibiotik, dikit-dikit antibiotik. aku pernah sampai 'diomelin' bidan dekat rumah karena menolak memberikan antibiotik ke anakku. hihi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, aku pun Mbak. Udah lama denger, tapi kok ya baru sekarang ini ngalamin bener-benernya kalo dokter luar itu pelit ngasih obat. Padahal mereka sama kan belajarnya? Apa yng bikin beda, ya?

      Delete
  9. Mak, anaknya temen kantor kemarin sakit mirip gitu, diagnosanya flu Singapura. Obatnya emang cuma dikasih salep anti gatel sih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Flu Singapura, ya? Itu sama mulutnya juga kan ya? Anakku ini di mulutnya nggak kenapa-kenapa, Mak. Makan juga biasa. Awal-awal emang nggak mau makan karena sedikit2 langsung muntah. Tapi aku liat di mulutnya norma-normal aja.
      Makasih ya Mak udah mampir :))

      Delete
  10. Modus ah bilang mau konsultasi hehehee... aku tau yg diincer apa hohohooo... *ingat kaos ijonya Mama Bo :)

    I'am lekas baikan ya nak, biar bisa segera main dan aduk2 isi rumah lagi, yeeaaayyy...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hiyaaah ketauan, deh. Wwkwkkwkwk. Enggak kok Mak Antag, beberapa kali ke dokter di sini, dokternya tua2. :p Baru kemaren itu muda dan ganteng, hahhahah. Jarang ada dokter cewek lagian.

      Mas I'am alhamdulillah udah sembuh, Tante, tinggal bentol2nya aja yang lagi mengering. Udah sekolah lagi dari kemarin juga. Nanti hari Sabtu mau konser di sekolahnya. Trimikisi, ya, Tante Antag. :)))

      Delete
  11. Mungkin roseola kali ya, biasanya ruam muncul setelah demam turun. Tapi kalau anak sy kena roseola ruamnya tidak sebanyak itu. demam tidak lebih dari 72 jam itu menunjukkan virus biasa. Apalagi antibiotik. Antibiotik biasanya untuk infeksi bakteri saja. Alhamdulillah dapat dokter RUM-rasional using medicine. Di indo susah cari dokter seperti itu. Kalau ada pasien bawaannya kasih obat yang banyaaak aja, padahal, kita ke dokter butuh konsultasi juga kan...salam kenal ya mba..:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Roseola ya? Belum tau juga sih. Pernah gugling roseola, tp kemaren gak keingetan itu. Tapi demamnya sih nggak sampe 72 jam, Mbak. Iya bener, susah cari dokter kayak gini di negara kita ya. Hehe.

      Delete
  12. Perlu renovasi pintunya... tetapi buat apa bagus pintunya kalau pengobatan dokternya gak maksimal... jadi tak mengapalah seperti itu wujudnya yang penting dah banyak jiwa yang dibantu dengan klinik tersebut...
    Cepat sembuh I'am...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harusnya diganti itu pintunya! Hahhahah. Kayak mau masuk rumah hantu. Asli.

      Delete
  13. Klo seinget saya dulu mak, waktu masih kerja. mereka yg dpt beasiswa keluar nggak ada yg mau ngambil jurusan kedokteran, padahal ada jg yg mantan mahasiswa kedokteran ui sm unsri, mereka malah pindah jurusan. katanya klo belajar diluar nggak bisa praktek di Indonesia, karena kondisi pasien tiap negara itu ada perbedaannya, bisa karena tergantung kondisi tubuh yang dipengaruhi udara, alam, cuaca, lingkungan, kebiasaan hidup, dll sesuai negaranya masing2.

    klo soal antibiotik, itu gunanya untuk membunuh bakteri atau biar bakterinya nggak menyebar yah "klo nggak salah" :D nah menurut saya sih, Indonesia termasuk negara yg memiliki iklim yg bisa membuat semacam virus atau bakteri berkembang lebih cepat "kayaknya sih" :D hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hooo gitu ya ternyata asal-usulnya... Hmm kalo gitu, saya kan jadi ngerti, dan nggak bersuudzhon ria ya. Hokelah, semoga aja memang begitu kenyataannya, mak.

      Btw, apa kabar, mak Rini Uze? :)))

      Delete
  14. Kalau di Indonesia pasiennya pulang cuma di kasih salep, tanpa obat-obatan mungkin banyak yang ngedumel sama dokternya. Karena budaya kita kalau ke dokter pulang pasti bawa obat. Salam kenal mak Isti :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahha iyaaa. Itu Mamaku pernah begitu. Pulang dari dokter aku nggak bawa apa2, marah2. Bayar mahal2 nggak dikasih resep? Wkwkkwkw.

      Delete
  15. pintunya horor...
    untunglah anak2 sudah membaik ya, mak.

    ReplyDelete
  16. Jiaah,, bentuk pintunya beda banget sama rumah sakit di Indonesia ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahhaha iyaaa. Kalo kita ya, meski klinik sekali pun biasanya pada keren2 pintunya. Paling enggak pintu kaca biasanya yak. :D

      Delete
  17. penampakan depannya memang meragukan gitu yah hihihi...
    saya jg mulai cari2 dokter yg komunikatif nih... klo ga suka ngomong & lgsg ngasih antibiotik, saya ga akan ke dokter itu lg :D

    senangnya dsana nemu dokter yg komunikatif, ganteng pula :))

    ReplyDelete
  18. Kalau Dokternya komunikatif apalagi ganteng, jadi semangat konsultasinya heheheh :D

    ReplyDelete
  19. dokter langganan anakku jg tipe yg ga mw ksh obat macem2 mba... antibiotik ga mw kalo ga terpaksa, obat jg seadanya... makanya aku suka ama dia..mertua yg malah misuh2 katanya kalo sakit ya hrs antibiotik.. Tapi untuk kali ini aku trpkasa ngelawan mertua krn lbh setuju ama dokternya ;)

    ReplyDelete

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^