Money Changer Pinggir Jalan

11.11.2014



Yang begini banyak di sepanjang jalan pasar. Di Suly. Tumpukan uang terpampang di depan mata. Bergepok-gepok. Nggak ada yang berminat atau sekali pun berniat untuk mencuri. Padahal kalau waktunya sholat, mereka ke masjid dan tinggalin begitu aja. Palingan cuma ditutupin selembar plastik atau kain aja. Sebagai penanda bahwa mereka sedang nggak di tempat. Itu aja.


Meski uang yang ditukar rada lusuh, dan memang keliatannya jelek, namun rate yang diberi sama. Semua money changer di sini, mau yg bagus maupun yg pinggir jalan begini, nggak ada keistimewaan dari rate-nya. Entah gimana caranya mereka mengambil untung dari rate yang sama itu.

Waktu awal-awal pindah, dua setengah tahun yang lalu, saya sempat takut kalau menukar uang di tempat begini. Takut dibuntutin orang lain. Takut kenapa-kenapa ngeluarin selembar 100 USD di tempat umum. Ternyata mereka biasa aja, nggak silau sama uang. 


Kalau di Jakarta, setelah saya menukar uang di money changer, biasanya selalu saya pegang kuat-kuat tasnya. Dan langsung memasang wajah seolah-olah sedang nggak bawa uang banyak, biar nggak tegang. Tapi di sini, saya nggak perlu mendekap tas. Aman.

Memang, kondisi perekonomian di sini masih jauh lebih baik daripada negara kita. Meski begitu, nggak bisa dipungkiri, banyak juga para pengemis yang meminta-minta. Tapi nggak sebanyak di Indonesia juga, sih. Maaf, bukannya saya mau menjelek-jelekkan negara sendiri, cuma mau sharing aja gimana kondisi di tempat saya tinggal ini.



Pengemis di sini, rata-rata adalah orang pendatang, alias bukan penduduk asli Kurdistan, atau pun Irak. Pengemis di sini, bukan hanya bermodalkan mangkok kosong atau tangan yang menegadah, tapi mereka berjualan. Pernah saya lihat ibu-ibu yang sedang duduk dengan anak balitanya di pinggir jalan atau anak-anak di bawah sepuluh tahun yang berkeliling menjajakan dagangannya: permen karet. Iya, permen karet itulah yang nantinya kita tukar dengan selembar uang seribua atu lima ratus, sesuka kita. Semau kita. Saya kadang kasihan, penginnya kasih uang aja, tapi nggak enak juga karena mereka nggak mau "cuma" meminta, yang mereka mau adalah menjual dagangannya. Supaya laku. Supaya cepat habis.

Kita semua tahu, masalah paling besar dalam hidup adalah lapar. Kalau perut kosong, maka otak pun sulit untuk berpikir secara cerdas. Lha wong saya makan cukup pun tetep aja nggak cerdas-cerdas -___-. Abaikan. Tapi bener, kan, kalau perut kosong, maka cara apapun akan digunakan supaya kebutuhannya terpenuhi. Kebanyakan kriminalitas terjadi ya karena faktor ini. Mereka nggak bisa terpuaskan, maka akan mencari kepuasan dari milik orang lain. 

Well, penduduk asli di sini sebenarnya mendapatkan jatah bulanan dari pemerintah. Mereka mendapatkan semacam sembako; beras, minyak, gula, dan lain sebagainya, saya lupa apa aja yang dikasih. Nah, karena itulah saya bilang di awal tadi kalau kondisi perekonomian di sini jauh lebih baik daripada negara kita! Masalah perut mereka sudah teratasi, maka otak bisa berpikir jernih, kalau mereka mau. Lalu apa lagi yang dicari jika harus merampas milik orang lain? Nggak minat, tuh!

Yah, di samping faktor ekonomi, bisa juga karena kejujuran. Tingkat kejujuran di sini tinggi sekali. Mungkin, kalau masyarakatnya pada ngga bisa jujur, mata pencaharian seperti ini bakalan rawan sekali. Pun bagi penukarnya. Tapi ya tetep balik lagi ke permasalahan awal: perut. Perut isi, otak nggak akan basi.




25 comments :

  1. kalau dinegara kita kebutuhan dasar sudah disediakan pemerintah, yakin bgt kriminalitas pasti turun ya, karena uang beberapa puluh ribu aja nyawa bs melayang ya, bahkan hanya masalah lapak pinggir jalan, bisa tega menghajar sesama pedagang kaki lima.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa jadi, Mbak. Mudah2an kita bisa membantu negara kita untuk memperbaiki kekurangannya, ya. :)))

      Delete
  2. mirip penukaran uang kalau mau lebaran ya disini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku malah baru tau kalo mau Lebaran ada penukaran uang di pinggir jalan juga. :D

      Delete
  3. duit digelar macam jual legen siwalan gitu ya :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ho oh, Mbak. Banyak bingit yang begini malah. Kalo dipoto semua, sejejeran di pinggir jalan ada kali lima, deketan. Dan pada biasa aja mereka.

      Delete
  4. hasil tukerannya mana?

    udah masuk kantong kresek yah?

    hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bhahahha aku gak nuker, Mbak. Itu yang nuker si Tante, istrinya Pak Joko. :D

      Delete
  5. maaf kalau oot, saya membayangkan kalau di negara kita setiap yang tidak mampu di berikan jatah sembako oleh pemerintah apakah kriminalitas akan menurun atau malah meminta lebih dari sekedar sembako?mungkin mentalitas dan kepribadiannya juga berbeda ya mak...
    senang mampir ke blog mu mak, jangan lupa mampir juga ya mak, aq masih newbie, terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah. Itu tugas masing-masing kalo gitu, Mak. Kita kan nggak bisa ngatur pribadi orang. Tapi paling enggak, sepertinya, bisa dimulai dengan yang jatah itu tadi. Ya itu sih cuma pendapat saya aja. Toh, pemerintah lebih ngerti kan rakyatnya seperti apa. :)

      Delete
  6. Di tempat saya sekarang, Negara Yaman, situasinya hampir sama: selusuh apa pun uang yang kita pakai--asal masih kelihatan nomornya--tetap dihargai sama; para pengemis kebanyakan berasal dari Somalia. Bedanya, di Yaman saya belum pernah melihat tempat penukaran uang di pinggir jalan seperti itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, mirip2 ya. Pengemisnya adalah warga dari pendatang, bukan warga aslinya. Salam kenal ya Mas. :)

      Delete
    2. Dengan senang hati ... salam kenal kembali. Ditunggu cerita-cerita menarik berikutnya dari Irak.

      Delete
  7. Huaaaaa coba malo disini langsung dirampokkkk

    ReplyDelete
  8. uwaa..asik ya dapat sembako dari pemerintah..kalo disini bubar ya uangnya,atm aja dibobol..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya yah, atm aja sampe dibobol. Serem. :(

      Delete
  9. Wow.... senang bisa tau info ini. Thx for share nya mb. :))

    ReplyDelete
  10. Iya nih kayak menjelang lebaran di kota-kota besar di Indonesia, cuma musiman emang. Tapi enggak ditarok gitu, dipegang penjual dan ditawarkan pada pengendara yang lewat :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh iya ya, di Jakarta juga gitu, tapi duitnya mah dipegang sama orangnya. :)

      Delete
  11. Wahh seneng aku baca tulisanmu tentang Suly, dilanjut ya Mak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, trimikisi, Mak Irits! InsyaAllah mau diseriusin lagi tentang Suly-nya. :)))

      Delete
  12. Maf gangu..sya punya uang 1000 rial yaman,masih berlaku gak yah n klo masih se x an info tempat_na donh

    ReplyDelete
  13. Puyeng euy mbak bacanya hahaha

    ReplyDelete

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^