Tho Chonit? Kamu Apa Kabar? How Are You?

11.15.2014



Hari ketiga, bertepatan dengan hari libur tanggal 10 Muharram. Iya, kalau di Suly itu jadi hari libur Nasional. Anak-anak dan suami juga harusnya libur. Tapi karena ada hal lain, mereka tetap berangkat juga.


Okeh. Saya mulai diajari kalimat greeting. Di Suly, greeting biasa diucapkan oleh siapa saja kepada siapa pun. Meski saya nggak kenal mereka, pun sebaliknya, jika salah satu dari kami ada yang menyapa dengan kalimat tersebut, lawan bicaranya harus menjawab.

Kalimat greeting selain 'selamat datang' adalah 'apa kabar'. Dalam bahasa Kurdi, biasa diucap, "Chonit, basht?" (baca: choni, bash?). Kalau menurut catatan saya di atas, kalimat yang seharusnya adalah "(Tho) chonit?" Namun dalam praktik sehari-hari, kata 'tho' (yang berarti kamu) itu dihilangkan, karena biasanya diucapkan saat kita sedang bertanya pada satu orang. Jadi, 'tho' tidak perlu disebut, udah pasti itu kamu yang ditanyain. Gitu.

Lalu, untuk menjawab, kita bisa bilang, "(Mn) bashm," yang artinya "(Saya) baik." Fungsi 'mn' di sini sama seperti 'tho' di atas tadi, nggak perlu diucapkan karena 'mn' itu artinya 'saya/ aku'. Jadi, si penanya ya udah ngerti lah kalau kita cuma jawab dengan kalimat, "Bashm," aja.

Nah, biasanya, setelah menanyakan kabar kita, dia pasti lanjut dengan menanyakan kabar anak-anak kita, kalau kita udah punya anak. Kemudian nanyain suami kita (atau istri), lalu orang tua. Udah pernah saya ceritain kan ya tentang tradisi ini di cerita hari pertama?


Kami dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok saya diajak ke ruangan lain dengan Susanne, untuk belajar membaca kosakata yang ada di kertas atas. Buat saya, ini mudah. Karena saya bisa membaca AlQur'an, jadi otomatis membaca tulisan Kurdi menjadi lebih mudah. Setelah selesai membaca bersama Susanne, kami kembali lagi.

Pelajaran berikutnya adalah tentang peletakan. Susanne memegang mobil-mobilan dan menaruh di atas meja lalu mengucapkan kalimatnya dalam bahasa Kurdi. Pun ketika ia letakkan mobil-mobilannya di bawah meja. Diulang-ulang sampai kami bisa. Lalu berpindah di atas dan bawah karpet, sofa, dll.

Pulang dari kelas bahasa Kurdi, saya ngopi-ngopi cantik lagi sama Glenys dan Ayako. Oh ya, ada teman baru lagi, Rani namanya. Dari India. Dia baru datang di hari ketiga ini. Emang beda, ya, ngomong sama orang yang sehari-harinya pake bahasa Inggris? Kalau saya ngomong sama Glenys atau Rani, daya tangkap pendengaran saya bisa meningkat namun daya tangkap otak saya jadi berkurang :D. Pasalnya, mereka kalau ngomong cepet banget. Apalagi Rani. Ngomong cepet pake logat India. Bikin saya bingung bin oon. :D Saya nggak sempet foto-foto sama dia karena dia nggak bisa ikut ngopi. Mungkin next time.

Kalau kamu lihat ada cowok yang kefoto dalam gambar ini, itu adalah suaminya Ayako. Iya, Ayako nikah sama pria Kurdi. Cakep *eh*.

"Wow, did you bought this thing from Indonesia?" Ayako asked. Hahaha, hidup tongsis!

CATATAN


  • Greeting

(+) (Tho) chonit? How are (you)? (Kamu) apa kabar?
(-) (Mn) bashm. (Saya) baik.
(+) Mndaalakan conn? Kabarnya anak-anak?
(-) Awaan bashn. Mereka baik.
(+) Piyauwakat conah? Suami kamu (gimana) kabar?
(-) Au basha. Dia baik.


  • Pertanyaan letak

(+) Séyarakah lah kueyah? Di mana mobil(mobilan)nya?
(-) Séyarakah lah ser mezakeyah. Mobil(mobilan)nya di atas meja.
(-) Séyarakah lah zher kanafakeyah. Mobil(mobilan)nya di bawah sofa.


N.B.
Yang mau belajar dari hari pertama bisa dibaca di sini. Kalau hari kedua ada di sini.

13 comments :

  1. Saya kira di sana memakai nahasa Arab. Ternyata cuma aksaranya saja, ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada yang pakai Bahasa Arab juga. Tapi Bahasa Arab bukan bahasa nasionalnya Kurdistan. Bahkan Bahasa Iraq pun bukan bahasa nasionalnya Kurdistan. :)

      Delete
  2. Keren mak, bisa kenal dengan orang-rang dari berbagai negara :D saya juga pengen :D

    ReplyDelete
  3. mak Istiii.... mukanya kinclong banget deh... hehehe komen OOT ini sih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahahahhaa. Makasih, Maaak. Sesungguhnya itu hanya tipuan kamera sajah. :p

      Delete
  4. Asyik ya mbak, belajar bahasa baru selain inggris.. Man teman2nya juga kayanya asyik juga

    ReplyDelete
  5. Berarti aku dan kamu-nya enggak perlu diperjelas yo, Mak. :)

    Iya, suami Ayako cakep. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ga perlu disebut lagi.

      Hahaha, cakeeep. Untung orangnya jarang aktif fbnya, kalo ga bisa tau deh eike ngomongin lakinya di mari. :D

      Delete
  6. untungnya udah tau huruf arab ya mak jadi lebih mudah menulisnya . jadi penasaran kalau yang belum bisa tulisan arab belajar bahasa sananya gimana ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mak. Alhamdulillah udah ngerti huruf hijaiyah jadi mudah ngikutinnya. Kalo yg belom ngerti, ya mereka bener2 belajar dari 0. Berusaha ngapalin pengucapan dan bentuk hurufnya.

      Delete
  7. supas, makasih mbak nambah kosa kata.
    salam kenal

    ReplyDelete

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^