Ma, Boleh Main Salju di Luar?

1.14.2015


Kadang kita lupa pernah susah kalau bahagia sudah. Kadang, kita lupa rasanya sakit kalau sehat diterima. Itulah manusia. Ketika hujan rintik-rintik turun, kami menyambut sukacita. Salju! Kami bersiap mengenakan segala perlengkapan agar tetap hangat di luar. Untunglah, kami tinggal di apartemen lantai bawah. Begitu buka pintu, nggak perlu turun lift lagi udah bisa langsung keluar gedung. Untuk bertemu salju.

Duh, asa aneh ya kalau saya nulis pakai gaya begitu. Tapi memang begitulah yang terjadi. Ketika musim dingin tiba, kenangan akan panasnya kota selalu munguap. Seiring dengan butiran salju yang turun perlahan kemudian menjadi deras. Meski dingin menusuk, nggak menyurutkan keinginan saya dan anak-anak untuk keluar dan bermain-main barang setengah jam.




Sejak anak-anak tahu sekarang udah masuk winter, mereka selalu bertanya setiap hari, "Sekarang winter? Kok, nggak ada salju? Nanti ada Santa?" Iya, Santa. Karena sejak masuk bulan Desember gurunya selalu menggaung-gaungkan Christmas dan Santa. Saya dan suami harus menjelaskan perihal perbedaan agama dan hari raya pada mereka yang masih balita. Dan berkali-kali itu pula kami harus menjelaskan pelan-pelan mengenai musim dingin dan salju, bahwa turunnya salju dan hujan itu kita nggak tau pasti kapan, hanya Allah yang Maha Tahu. Allah yang memberi, dan semua itu adalah rahasia Allah. Secret.

"Kok, secret?"

"Karena Allah mau kasih kita surprise, jadinya nggak bilang-bilang."

Barulah mereka bisa sedikit mengerti sistem pemberian Tuhan. Mereka harus meminta kalau ingin sesuatu. Harus berdoa, dan sholat. Nggak bisa minta begitu aja sama Mama atau Papanya, karena harus sabar menunggu.

Sabar menunggu salju datang. Hingga akhirnya saat itu tiba.

"Ma, boleh tiduran?"

"Boleh."

"Yeeey! Asyiiik!"



Seharian Sabtu kemarin, saljunya turun tanpa jeda. Pagi pukul sembilan, kami keluar karena hujannya masih sekadar gerimis. Salju yang menempel di jalan pun belum tebal, tapi nggak bertahan lama, karena dengan cepat gerimis berubah jadi hujan yang deras. Kami pun cepat-cepat masuk ke dalam setelah sebelumnya membuat boneka snowman sekadarnya karena pemintaan anak-anak.

Sekitar setengah dua belas, saya keluar lagi, kali ini ke belakang rumah. Salju yang turun masih saja belum berhenti, tapi nggak setebal tadi pagi. Saya terpana melihat timbunan salju yang masih perawan, belum dilobangi oleh jejak-jejak kaki. Putih. Mulus. Siapa yang menyangka, halaman belakang bisa menjadi begitu indah dipandang mata, saat itu. Anak-anak pun saya ijinkan untuk rebahan.




Butiran salju yang turun berubah jadi deras dan besar-besar. Saya rasa anak-anak udah kedinginan main di luar, saya pun. Kalau suami mah dari tadi cuma moto-motoin doang dari balkon dapur, nggak mau ikutan repot dia kudu pake tebal-tebal. Etapi, anak-anak nggak mau udahan, dong, rebahannya! Hahaha.

Alhamdulillah, meski jauh dari keluarga dan saudara, menetap di negara yang (katanya) penuh konflik, hidup di kota yang (masih) belum layak disebut kota, bertetangga dengan warga lokal yang sampai sekarang pun kami nggak kenal dan nggak pernah ketemu, sangat bersyukur dihibur oleh salju-salju yang bertabur.

Kami, hanya perlu melangkah ke luar apartemen aja dan langsung bisa berjumpa, atau lebih enak lagi ke belakang halaman, seperti pada foto anak-anak saya yang sedang rebahan. Meski hawa dingin membuat saya selalu lapar ingin makan soto ayam, mie ayam, apalagi itu yang berkuah-kuah. Hilang sudah segala gundah tentang keadaan di kota ini.


Saya sangat bersyukur, bisa diberi kesempatan untuk tinggal dan menikmati kebesaran Tuhan di belahan bumi lain. Meski kotanya terpencil dan jauh dari kata modern, saya masih bisa merasakan empat macam musim yang ada di dunia.

Dan, hei, bulan depan genap tiga tahun saya tinggal di Suly! Nggak pernah berekspektasi sepanjang ini perjalanan kami tinggal di sini. Tapi Engkau-lah yang menuntun selama ini.

Maka, nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan? :)


*Foto2 oleh suami saya.

18 comments :

  1. subhanallah....seru banget ya mak,kalo di indonesia mau hujan2an kan tinggal keluar aja,tapi di suly kl mau main salju2an harus pake baju tebel ya hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Maaak. Makanya kalo nggak ada salju males banget mau keluar karena kudu lengkap kap kap. baju dobel, sweater, jaket tebel, celana dobel juga. Hadeuh... Belom lagi anak2 kudu pake topi sama syal, ples sarung tangan. :D

      Delete
  2. Seruuu.. ntr klo pulang ke Indo bawain saljunya ya mak :D

    ReplyDelete
  3. Maaakk... foto2nya bagusss. Seruu ya salju pas weekend. Jadi ada bapaknya anak2 yang bisa moto2in. hihihihi.
    Memang salju ini hiburannya mahluk tropis kayak kita2 ya. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih, mak. suamiku semua yg motoin, hihihihi.
      ember, maaak. kalo ga ada salju, suram yah :D

      Delete
  4. subhanallah salju dimana2 .... pengeeeennnnnn

    ReplyDelete
  5. seneng banget ya anak2 main saljunya,jadi pengn ikutan........

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak, pada girang banget karena udah nunggu lama. :)

      Delete
  6. saya kira kalo di Suly itu mayoritas muslim.. nggak ya mak?

    ReplyDelete

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^