Piknik, Sebagai Rasa Syukur Pada Tuhan

10.05.2015

Piknik dadakan di sore hari.

Sewaktu spring kemarin, memang paling asyik itu piknik. Soalnya, ya, kalau di musim-musim lainnya itu susah banget mau piknik. Super panas, super dingin, atau malah berangin. Anginnya itu nggak tanggung-tanggung kencangnya. Lha wong pas spring itu aja kadang masih suka berangin, kok. Tuh, lihat aja foto di atas, anak-anak saya masih pakai jaket.

Tapi, paling enggak, tuh, kalau piknik pas spring emang paling cocok cuacanya. Langit biru cerah, bukit dan gunung hijau semua. Bunga-bunga bermekaran. Matahari juga ikut merayakan dengan menyinari yang sepantasnya. :'))

Syukurnya, di samping komplek apartemen saya itu ada perbukitan yang memang suka dijadikan tempat berpiknik ria oleh warga Suly. Buat saya yang sehari-harinya hanya di rumah aja, piknik itu sangat penting demi kelancaran berpikirnya otak saya. Hahaha. Mumet, nggak, sih, kalau di rumah terus, dengan kegiatan ibu rumah tangga yang itu-itu aja setiap hari? 

Saya, sih, mumet. 

Bosan.

Akhirnya saya suka mengajak suami untuk piknik dadakan ke sana. Gimana nggak dadakan, orang kalau sore-sore itu bingung mau ngapain, jadilah saya ajak aja ke gunung sebelah. Bawa jajanan seadanya. Dan pada akhirnya, tenda serta karpet selalu tersedia di bagasi mobil.




Kaki Gunung Goizha


Di bawah kaki gunung Goizha ini lah kami berpiknik, bersama warga Suly lainnya yang tempatnya nggak jauh dari kami. Di sini, kami bisa sepuasnya duduk-duduk aja, atau memanggang daging dan jagung yang dibawa, atau bahkan naik ke atas gunung. Bebas. Nggak ada biaya sewa tempat dan alas duduk, nggak ada biaya parkir mobil, nggak ada biaya masuk untuk berpiknik. Semua gratis!

Menanti sunset selalu masuk agenda di piknik dadakan kami.

Beberapa kali piknik dadakan di kaki gunung Goizha ini, membuat saya dan suami ingin mengajak teman-teman lain untuk ikut merasakan juga. Memang, piknik yang paling menarik dan berkesan adalah ramai-ramai, apalagi bersama teman-teman. Ceritanya juga pernah saya posting di blog ini dengan judul Piknik Murah di Kaki Gunung Sebelah.

Waktu itu, kami menyiapkan perbekalan yang akan dimasak selama piknik. Kami membeli alat barbecue serta macam-macam daging yang akan dipanggang. Karena teman-teman suami saya lelaki semua, jadi saya cuma tinggal santai-santai aja nggak ikut memanggang. Hahaha. Saya cuma tinggal duduk-duduk manis sama anak-anak, sambil nunggu daging matang. LOL.

Ada yang sibuk memanggang steak, ada yang sibuk menusukkan sate ayam, juga ada yang sibuk foto-foto.

Yang berkesan di sini adalah, saat kami mendekati waktunya sholat dzuhur. Dan alhamdulillah, teman-teman serta suami nggak mau meninggalkan sholat meski jauh dari masjid dan nggak ada yang bawa sajadah satu pun. Karpet yang semulanya kami gunakan untuk alas duduk dalam tenda, naik derajat menjadi alas sholat. Air minum yang seadanya pun, digunakan secukupnya untuk mensucikan diri, alias berwudhu.

Kebetulan saat itu saya sedang berhalangan untuk sholat, jadi saya punya kesempatan untuk mengabadikan momen langka seperti ini.



Betapa syahdunya melihat mereka beribadah di alam terbuka. Seolah-olah dunia bukan lagi yang utama, dan uang bukanlah segalanya.

Saya jadi tersentuh.

Sebanyak-banyaknya waktu yang kita gunakan untuk sibuk mengurusi dunia, luangkanlah sejenak untuk mengingat pada Tuhan. Karena semua waktu yang kita miliki itu pada nantinya akan kalah jika untuk ibadah saja susah.

Saya juga jadi ingat sebuah ayat atau hadits (maaf, lupa), bahwa sebaik-baiknya teman yang kita punya adalah teman yang bisa saling mengingatkan atau menasihati. Teman yang bisa membawa kita pada kebaikan. :)

Sah-sah saja kita piknik ramai-ramai bersama sanak keluarga atau teman-teman, tapi jika sudah waktunya sholat, janganlah ditinggalkan dengan alasan "sedang dalam perjalanan" atau musafir. Buatlah acara piknik makin berkesan dan tak terlupakan dengan mengadakan ibadah berjamaah.

Jadi, nggak salah, kan, kalau saya bilang bahwa piknik adalah sebagai salah satu cara untuk bersyukur pada Tuhan? Dengan menikmati keindahan alam-Nya, dengan menjaga kelestarian-Nya, juga dengan mengagungkan ciptaan-Nya.

Kurdistan dan Bogor


Bagi warga Kurdistan sendiri, piknik adalah sarana yang sangat penting karena mereka bisa bersenda gurau bersama keluarga, selain di rumah. Di sini saya belajar banyak dari mereka, bahwa piknik adalah bukan melulu menyiapkan hari khusus untuk jalan-jalan ke tempat rekreasi yang jauh.

Di mana pun tersedia rumput (meski sedikit yang) hijau, di situlah mereka bisa piknik bersama keluarga. Dan, nggak tanggung-tanggung, lho, bekal yang dibawa saat piknik! Selain daging yang akan dipanggang, mereka juga membawa kursi dan meja lipat untuk duduk-duduk di rumput.

Hebatnya, meski "alat tempur" yang dibawa itu banyak, nggak pernah saya lihat mereka nyampah sedikit pun di sana. Sampah-sampah selalu dibawa pulang kembali ke rumah. Itulah yang membuat kaki gunung di sini tetap indah dan nyaman untuk berpiknik.

Kelihatan, nggak, ada beberapa orang yang ngumpul di beberapa tempat? Mereka itu warga Kurdistan yang sedang berpiknik di musim semi. Asyik, ya! Sayangnya, saya motonya dari mobil, jadi nggak bisa lebih dekat lagi.

Nah saya jadi teringat Kebun Raya Bogor, kalau begini. Sewaktu mudik dua bulan kemarin di Jakarta, hampir mustahil rasanya bisa menemukan taman yang bisa dengan nyaman untuk berpiknik. Masalahnya, taman-taman yang ada, rata-rata kebanyakan dipakai untuk bermain aja, bukan untuk piknik dengan duduk-duduk lama. Malah ada taman kecil yang mudah terkena polusi dari kendaraan yang lewat.

Sayangnya, keinginan saya untuk liburan di Bogor saat mudik kemarin, belum terlaksana. Waktunya masih kurang panjang karena saya masih mabok-mabok pas hamil muda. Padahal, menurut saya, cuaca di Bogor lebih bersahabat daripada Jakarta. Dan, lebih asyik untuk piknik pastinya!

Next mudik, insyaAllah saya akan ke Bogor bersama keluarga.

Karena piknik itu penting. :)))


16 comments :

  1. lihat bukit dan hampaan hijau udah gitu bersih lagi rasanya sih piknik yang aduhai banget....coba kalau disini sadar dengan kebersihan lingkungan dan disediain area kayak di kurdistan, udah ramai aja pastinya ya mbak...
    BTW ituh pose foto atas sendiri cihuy banget.wkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bhahahha kamu jangan lospokus, bu guru kecil!!! :p :p :p

      Delete
  2. Ya, aku juga suka piknik di alam terbuka gini. Syahdu gitu dengan suasana tenang, ngga gaduh dan adem ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener, Mbak. Tenang banget rasanya ya nggak mikirin hiruk-pikuknya dunia. :))

      Delete
  3. Ah senang sekali liat foto yang lagi solat berjamaah. Dapet banget moment nya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga, Mas. Kok pas banget waktu itu lagi nggak sholat, keinginan saya tercapai sudah: motoin orang yang lagi sholat di alam terbuka. :)))

      Delete
  4. ya ampun pemandangannya kereeeeeeen... Pasti menyenangkan menikmati alam bersama orang2 tercinta ^_^

    ReplyDelete
  5. cakeeeep...pikniiik memang seruuuu ya..tapi ini udah dingin euuy di sini..

    ReplyDelete
  6. Kalo di Indo, kayak bromo, Mbak eheh. But, akkk senengnya lihat dua si unyil lucuk lucukkk :D

    ReplyDelete
  7. aww.. bukitnya bagus bgt..
    kayak bukit di Teletubbies..

    ReplyDelete
  8. Langsung google deh apa tuh Kurdistan. Salah satu nikmatnya jadi blogger. Wawasan, Alhamdullillah,, sedikit bertambah..
    Salam kenal dari Balikpapan, Kalimantan Timur bunda,, ~_*

    ReplyDelete
  9. Assalamualaikum..
    Mba, masih di Kurdistan?
    Rencananya saya mau kerja disana sebagai perawat.. Keadaan disana bagaimana mba? Saya mau cari tau dulu k orang yang langsung tingal disana ..mohon bantuannya. Jazakillah ya mba 😊

    ReplyDelete

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^