#TuesdayTravel: Sight Seeing In Dukan

10.06.2015


Perjalanan dari Suly ke Erbil, ibukota Kurdistan, memakan waktu kurang lebih tiga jam. Jalur yang kami lewati berbeda dengan jalur kalau menumpang dengan taksi sewaan. Kalau taksi biasa lewat jalur Kirkuk, karena lebih cepat sampai, sementara kami lebih suka lewat Dukan. Kirkuk sendiri kotanya rawan. Kami nggak berani lewat sana. 



Nah, kalau Dukan, lebih lama nyampainya karena melewati danau dan harus mengitari gunung dengan jalanan yang berbelok-belok. Semenjak punya kendaraan pribadi, saya sekeluarga jadi sering main ke Erbil. Bukan cuma karena ingin refreshing ke kota yang banyak mall-nya. Lebih dari itu, saya dan suami menikmati perjalanan menuju ibukota.

Salah satunya ini.

Saya minta berhenti sebentar cuma buat motoin ini doang. :)

Niat awalnya, sih, emang pengin refreshing ke kota yang banyak mall-nya. Tapi kalau udah sampai sana juga mall yang dituju itu-itu aja, karena tujuan utamanya adalah belanja ke Carrefour. Iya, kamu nggak salah baca. Carrefour.

Melewati tiga jam perjalanan demi ke Carrefour. Lalu selesai belanja langsung balik lagi ke Suly, makan waktu tiga jam lagi.

Ngik.

Salah satu penunjuk arah desa yang bisa ditemui di sepanjang jalan menuju Erbil, sebelum Dukan.

Di sepanjang jalan, ada beberapa penunjuk arah dengan nama desanya. Tapi, herannya, desanya itu nggak kelihatan dari jalanan. Harus masuk jauh dulu kali, ya, baru bisa ketemu sama desa yang dimaksud.

Terus jadinya saya sama suami suka bingung, gimana cara mereka ini bertahan hidup sehari-harinya? Secara warung aja nggak ada, apalagi supermarket. Sementara sekarang lagi summer, otomatis tanaman pun nggak bisa tumbuh dengan sempurna. Terus lagi, mereka kerjanya apa?

Iya, banyak yang kayak begini. Terpencil. Namun justru yang begini ini jadi daya tarik kami selama perjalanan. Banyak yang dilihat, banyak yang diobrolin, banyak juga yang dipikirin. Hahaha.

Saya pernah bikin video perjalanannya setahun yang lalu, waktu pertama kali banget ke Erbil naik mobil sendiri. Bisa dilihat di Youtube saya ini. Jalan ke Erbil itu harus melewati gunung dan berbelok, kalau ambil yang via Dukan dan Koya. Kayak gini.

Enjoy the trip!



21 comments :

  1. pemandangan mantab banget..seru pastinya ya

    Goodluck GAnya mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Mbak. Tapi ini bukan GA, kok. :)))

      Delete
  2. Panas banget ya mbak kayaknya... lebih panas mana sama di Indonesia mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau pas summer, sih, lebih panas di sini. Bisa sampai 40 derajat suhunya. :)

      Delete
  3. indaaaah pemandangannya...iya ya gimana mereka bertahan..? kita yg udahk kenal supermarket mungkin ga akan bertahan tinggal di tempat terpencil seperti itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Persis! Masih penasaran sama mereka yang bisa bertahan tinggal di tempat seperti itu. :)

      Delete
  4. 6 jam di jalan, cuma buat ke Carefour. Ga tahu musti kasian apa ketawa :))))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gapapa dua-duanya aja :D :D :D
      Tapi kami enjoying karena sepanjang perjalanan nggak melulu ketemu gedung-gedung bertingkat. Tapi alam. :)))

      Delete
  5. Replies
    1. Masih banyak yang lebih indah lagi selain ini. Nanti, yah, saya post juga. :)

      Delete
  6. Mbak Isti, desa-desa yang gak terlihat dari jalan besar terlihat, ini banyak banget di Thailand. Sering melakukan perjalanan antar provinsi, dengan melalui jalur jalan-jelan besar, yang di sampingnya kebuh karet atau hutan, jadi sering melihat ada plang sebuah desa tetapi desanya entah di mana. Kayaknya masuk jauuuuh ke dalam. Aku juga mikirnya kayak mbak Isti dulunya; gimana mereka harus memenuhi kebutuhan sehari-hari, apa ada toko di sana, dan sebagainya itu. Secara di jalan besar yang mana masuk ke desa itu, cuma ada plang doang, bebrapa meter ke depab dan belakangnya, jangankan warung, rumah-rumah pun tak ada.
    Sampai suatu hari aku punya kesempatan masuk ke sebuah daerah yang aku sempat bertanya-tanya tersebut. ternyata... kehidupan mereka lebih 'canggih' dari desa-desa di kampung saya di Indonesia, hahaa...
    Pekerjaan sebagai petani, sudah pasti, namanya juga desa. warung-warung juga banyak didesanya, walaupun bukan supermarket. Seruuuu, hehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaaah asiknya bisa punya kesempatan kayak gitu, Mbak! Saya juga pengin bisa lihat secara langsung, tapi kalau nggak ada teman orang lokalnya kayaknya saya mendingan tahu diri aja. Ngeri-ngeri sedap, sih, di sini meski keliatannya aman-aman aja. Hahahaha.

      Delete
  7. Yaaa ampunn Mbak Isti.. Menempuh waktu 3 jam buat ke Carrefour, jauhnyaaaa.... Tapi kalo diniatin jalan2 sih jadi gak berasa ya.. Ditambah pemandangan yang super indah gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe iya emang niatnya cuma jalan-jalan aja. Nyampe sana ngaso dulu sambil maksi terus sekalian belanja, beli yg ga ada di Suly. :D

      Delete
  8. Replies
    1. Iya, Mbak. Nanti yang lainnya saya masukin juga ke blog, ini baru sedikit soalnya.

      Delete
  9. Belanja ke Carrefour 3 jam perjalanan?

    ReplyDelete
  10. jauh amat maksul xD
    kalau aku disana belanjanya kudu langsung banyak biar g bolak balik... xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkkwkwkw belanjanya bukan niat utama sebenere, Mak. Tapi ya udah kadung nyampe sana masa ga sekalian belanja, lagian di Suly ga ada Carrefour. :D :D

      Delete
  11. Dukan..aku pikir Dufan hehehehe...pemandangan di sepanjang jalannya cakep ya. AKu sering gitu tuh di Swiss, jalan dari satu kampung ke kampung lain dan asliii cantik. DI NYC udah kayak kota, kalau mau jalan cari pemandangan yang cantik kudu agak jauuuh :)

    ReplyDelete

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^