[Kehamilan Ketiga]: USG Radiologi dan Plasenta di Bawah (2)

11.07.2015


USG Radiologi Kedua


Kali ini saya ke RS khusus ke ruangan radiologi aja, untuk USG lagi menyangkut bulan lalu. Dokter mau ngecek letak plasenta saya sekarang udah bergeser apa belum.

Waktu daftar sehari sebelumnya, saya nggak ditanyain mau ke dokter yg namanya apa. Saya pikir juga dokter radiologinya cuma ada satu, jadi setelah nama saya masuk di daftar, saya pulang. Nah, waktu saya datang besoknya, si resepsionisnya bingung, dong, saya ini mau daftar ke dokter radiologi yang mana. Lah, saya juga nggak apal nama dokternya!

Ditanyain terus saya mau ke dokter yang mana, karena mereka punya tiga dokter radiiologi dan semuanya cowok. Oh, my... Akhirnya saya browsing ke web-nya RS ini, ke bagian dokter radiologi, dan ketemulah dokter yang bulan lalu USG-in saya. Ribet, yes. -____-

As usual, waktu masuk ke ruangan USG, kami selalu dapat greeting dari dokternya. Beliau masih ingat saya. Ya iyalah ya, lha wong pasiennya yang mukanya imut cuma saya aja! LOL.

Kurang lebih, kata-kata yang keluar dari mulutnya sewaktu meng-USG saya hampir sama dengan bulan lalu. Sambil menggeser-geserkan alat di atas perut saya, beliau menjelaskan keadaan janin saya.

"Alhamdulillah."

"Masha Allah."

"Masha Allah, this is the nice picture."

Gitu-gitu terus. Pengen ngekek tapi, yah, yang diucapinnya kalimat bagus, ya. Syukurin aja, deh. Alhamdulillah, semua perkembangan janin saya baiiiik sekali. Saya menunggu-nunggu bagian plasentanya, tapi lama sekali karena harus ngecek dulu ukuran-ukuran kepala, kaki, perut, tangan, dan lain-lainnya dulu. Nggak apa-apa, lah, yang penting semuanya sehat.

"Bulan lalu saya bilang apa jenis kelaminnya, ya?"

"Perempuan, Dok."

Duh, saya deg-degan kalau tahu-tahu monasnya muncul. Ya nggak apa-apa juga, sih. Tapi saya udah kadung belanja baju bayi cewek minggu lalu. Hahahaha.

"Iya, bener, kok. Ini perempuan yang kelihatan lagi. Insha Allah, it's a girl."

"Alhamdulillah."


Plasenta yang Masih di Bawah


slideshare.net

Tiba di bagian pemeriksaan plasenta. Jujur, beberapa hari sebelum periksa ke radiologi ini, saya browsing tentang plasenta previa. Saya takut banget kalau benar-benar divonis plasenta previa. Masalahnya, usia kandungan masih 24 minggu, jadi belum boleh divonis plasenta previa. Saya cuma harus nunggu aja sampai 28 minggu. Kalau di usia 28 minggu letak plasenta masih di bawah, benarlah sudah saya punya plasenta previa.

FYI, plasenta previa itu keadaan di mana plasenta letaknya bukan di tempat yang biasanya. Plasenta harusnya ada di atas, gunanya sebagai alat penyambung makanan yang dari sang Ibu yang akan dikonsumsi janin di dalam rahim. Maka itu letaknya, normalnya, di atas.

Kalau kita lihat gambar di atas, plasenta previa itu sendiri ada 4 tipe.

  1. Tipe I disebut plasenta previa low lying, posisi plasenta ada di pinggir rahim.
  2. Tipe II disebut pasenta previa marginal, posisi plasenta mendekati dan hampir menutupi serviks (jalan lahir).
  3. Tipe III disebut plasenta previa partial, di mana posisi plasenta menutupi sedikit serviks.
  4. Tipe IV disebut plasenta previa total, yaitu posisi plasenta ada di bawah semua dan menutupi serviks. 
Untuk tipe I dan II, masih termasuk minor, maksudnya, masih bisa melahirkan secara normal. Sementara yang tipe III dan IV, mau nggak mau pasien harus melahirkan secara operasi caesar karena akan membahayakan jika dipaksa untuk normal. Nah, waktu dokter radiologi saya mengecek plasenta, beliau bilangnya termasuk tipe marginal to partial. Kalau udah begini, saya bisa apa? :(

video


Besoknya, saya ke dokter kandungan untuk memberikan hasil USG radiologi kemarin. Saya rasa beliau juga membaca hasilnya bahwa saya punya plasenta previa tipe marginal to partial. Beliau langsung geleng-geleng kepala baca hasilnya.

"Kita nggak bisa sebut ini plasenta previa sebelum usia kandungan 28 minggu."

Syukurlah ya, beliau masih belum pasti tentang plasenta saya ini. Dan masih menyarankan saya supaya jangan terlalu capek. Duh, gimana, ya. Saya itu di rumah bisa dibilang nggak ada kerjaan. Ya, ada, sih, tapi saya santai ngerjainnya. Kalau lagi good mood ya dikerjain, kalau nggak, ya, nggak usah. Kebanyakan nggak mood-nya daripada mood benernya. :D

Saya keingetan, waktu masih usia 2 atau 3 bulanan, saya sempat bleeding. Tapi nggak banyak. Dokter kandungan saya di Jakarta waktu itu juga menyarankan untuk berhenti berhubungan dulu. Setelah saya cerita, dokter kandungan saya yang sekarang juga setuju. Menurutnya, kalau berhubungan, dikhawatirkan ada sperma yang masuk dan bisa merusak kondisi janin atau plasentanya. Juga bisa menyebabkan kontraksi palsu.

Hmm, jadi ini sebabnya, saya dilarang berhubungan dulu. Baiklah. 

"Okay, see you 2 or 3 weeks later. Don't too tired. No housework! And no sex!"

Oh, my...  Gimana ceritanya no housework? Lah yang mberesin rumah siapaaa?

6 comments :

  1. Dulu waktu hamil Aisyah sempet berdarah dikit dan gak dijinin berhubungan. Tapi aku bandel gak dgrn. Maklum msh pengantin baru, haha.

    ReplyDelete
  2. Andai aku di situ, aku bantuin ngepel, masak, nyapu, cuci baju. . . *percaya ngga?* hahaha

    Semoga semua baik2 saja, ya. Ibu dan dede bayi sehat!

    ReplyDelete
  3. Pernah denger, katanya kalau banyak nungging bisa naikin plasenta.

    ReplyDelete
  4. Saya 2x hamil jg placenta previa, Mak. Yg pertama caesar, yg kedua normal. Iya, banyak2in doa, sujud/nungging, jg komunikasi terus (stimulasi) sm si kecil. Smg mama dan bayinya sehat selalu, ya, sampe lahiran nanti :)

    ReplyDelete
  5. Semoga lancar yah mba untuk persalinan yang ke-3nya :)

    ReplyDelete
  6. Bismillah semoga di lancarkan smeua nya, sehat terus bumil ama jabang bayi nya

    ReplyDelete

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^