Jalan-jalan yang Nggak Ngabisin Duit di Sulaymaniyah

12.08.2015

Pemandangan kota Suly dari atas gedung City Center. Itu, gedung yang menonjol sendiri, merupakan landmark-nya Suly. Hotel Grand Millennium, atau dalam bahasa Kurdinya adalah Shari Jwan Hotel.

Meski nggak banyak yang tinggal di Suly, dan saya yakin yang pengin tau tentang tempat-tempat di Suly ini juga nggak banyak, tapi tetep aja pengin dokumentasiin. Kali-kali aja beberapa tahun mendatang Kurdistan jadi negara mandiri, dan sudah terbuka untuk umum, bisa jadi pada baca blog ini, kan, sebagai referensi? Hahaha. Mari berkhayal!

Etapi, emang ada, jalan-jalan di Suly yang nggak ngabisin duit? Ya, ada, dong! Saya janjian sama Mbak Mita, minta diajakin keliling Suly. Sebenernya janjiannya udah sejak summer tahun lalu, tapi baru kesampean spring kemarin. -___-

Slemani Museum




Pertama, kami ke Slemani Museum. Udah luamaaa banget pengen ke sana. Secara anak-anak juga belum ngerti, plus kalau weekend museumnya tutup. Jadi mau nggak mau harus pas hari kerja. Akhirnya saya ketemu sama Mbak Mita, temen WNI yang juga tinggal di sini. Dia menikah sama orang Amerika, dan suaminya kerja di sini. Alhamdulillah, punya temen hang out, deh! :D

Slemani Museum tempatnya di seberang City Star Mall. Iya, kamu pasti nggak tahu mall-nya yang mana. Pokoknya ini di seberangnya aja. Titik. :D

Masuk museumnya, nggak pakai bayar. Pas masuk, kita harus titipin tas dan barang bawaan yang kita bawa ke loker yang udah disediain. Boleh bawa hp, dompet, dan kamera ke dalam museum. Dengan catatan, kalau moto nggak boleh pakai flash. Entah apa maksud dan tujuannya itu, tapi saya manggut-manggut ajalah. :D

Di dalam museum, sepi banget. Yah, tipikal museum lah. Kalau rame, mall namanya. Iya, kan? Menurut teman saya, museumnya ini udah lebih rapih daripada waktu pertama kali dia ke sini. Waktu itu karena sedang renovasi, jadi banyak yang nggak dipajang, pun ruangannya terbatas.

Untungnya, di museum ini nggak ada patung yang aneh-aneh. Eh, ada, ding. Tapi nggak kayak museum di Indonesia gitu, yang kalau baru masuk ruangan yang ada patungnya, hawanya langsung seram dan bikin bulu kuduk merinding. Terus kalau pas lagi baca-baca keterangan patungnya, berasa lagi dilihatin sama patungnya. Hiiiiy.

Patung Terbalik di Depan Perpustakaan


Patung terbalik.
Keterangannya ditulis dengan Bahasa Kurdi. Di situ saya merasa apalah apalah. -__-

Selesai dari museum, karena cuaca mendukung, kami jalan kaki ke pasar. Mbak Mita ngajakin saya untuk ke toko buku yang dibolehin ngeteh-ngeteh cantik di dalamnya. Bayangan saya, ya, tempat ngeteh seperti kebanyakan di sini, yang isinya cuma bapak-bapak doang yang ngeteh. Tapi, katanya, beda. Tempatnya ini enak banget. Okelah kalau begitu.

Di perjalanan, kami ngelewatin perpusatakaan. Tapi udah siang banget, dan saya kelaperan. Jadilah nggak masuk, nanti-nanti aja dijadwalin lagi waktunya.

Ada beberapa patung di depan perpustakaan. Dan saya sekarang jadi nyeseeel banget kenapa nggak moto-motoin patungnya. Tapi ada satu patung yang menarik perhatian saya. Patung terbalik. Sejak pertama lihat perpustakaan ini beberapa tahun lalu, sebelum saya tahu kalau tempat ini adalah perpustakaan.

Sayang sekali, saya nggak dapat info apa-apa mengenai patung ini. Padahal udah nanya-nanya juga ke teman suami yang orang lokal, tapi belum dapat jawaban sampai sekarang. Entah udah berapa bulan saya nanyanya. Kan, kasihan, ini draft mangkal terus nggak di-publish-publish

Patung Kepala Keledai




Lewatin perpustakaan, ada taman keciiil di pinggir jalan. Yang bikin saya suka, taman-taman di sini tuh bersih. Nggak ada sampah-sampah, karena biasanya dipasangin bangku-bangku kayu yang bersebelahan dengan tempat sampah. 

Di dalam taman ini, ada patung juga yang jadi simbol. Kepala keledai berdasi. Konon, pendiri taman ini adalah salah satu petinggi di sebuah partai di Kurdistan. Saya sendiri nggak tau apa nama partainya, yang jelas, sih, katanya partainya bukan termasuk partai besar. Yang saya tahu, di Suly ada dua partai besar yang berkuasa. Ya tahu sendiri, partai di sini ada buanyak. Hampir lima puluhan. Tuh! Nggak cuma Indonesia aja, kan, yang partainya banyak! :D

Nah, konon, beliau mengambil keledai sebagai simbol karena kontribusinya keledai sebagai alat transportasi jaman dulu sangat dibutuhkan. Keledai bukan menjadi bawahan, melainkan yang paling dibutuhkan. Sampai-sampai akhirnya ia jadikan simbol untuk di taman ini. 


Mengenai dasinya, saya juga belum tahu lagi gimana ceritanya. Aslinya, dasinya panjang sampai ke bawah. Namun, waktu saya foto waktu itu dasinya kepotong. Sayang, nggak dirawat. Padahal, untuk membuat patung keledai berdasi ini menghabiskan uang hingga jutaan dollar US, lho! Wuih! Kalo dibeliin kerupuk bisa buat lima tahun kali, ya? :D

14 comments :

  1. wa,partai sampai 50an???banyak bener ya mak hehe...
    harus dan wajib didokumentasikan mak setiap pindah ke tempat baru,buat kenang2an^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebayang nggak gimana peningnya lihat gambar pas buka kertas suara? Hahahahahha

      Delete
  2. Kurdi ini bahasnya, bahasa Arab apa ya, Mbak? Wah kapan-kapan kalau ketemu bisa cakap pakai bahasa Arab nih. O, ya kenapa ya patungnya terbalik? Wkwkwkwk maap pertanyaanku yang aneh aneh hihiihi. Sukaa sama patung terbalik soalnya ehe :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, itulah yang saya nggak ngerti. Nggak dapat info apa-apa tentang patung ini. Kenapa juga dia terbalik, dan di bawahnya ada buku? Penasaraaaan banget. >____<

      Bahasa Kurdi pakainya, bukan Arab. :)

      Delete
  3. Jadi tau sisi lain suly nih...jd tau bnyk ttg suly baca blog mba isti.aku juga punya tmn org kurdistan mba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Mbak Meutia. Oh ya? Kurdistannya di mana, Mbak? :)

      Delete
    2. tak tanyain dulu dimananya, dulu pas kuliah bareng.. jadi pingin ke suly ternyata ada sisi keindahan disana :)

      Delete
  4. selama ini saya malah belum pernah dengar tentang sulaymaniah. baru dengar ketika berkenalan dengan blog ini haha. nice info, Mbak. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi, saya juga kalau nggak pindah ke sini, nggak bakalan tau kalau ada kota namanya Sulaymaniyah, Mas. Makasih ya udah mampir. :))

      Delete
  5. aku baru kali ini denger Sulaymaniyah, taunya Arbil ajah. hehehe.
    ngomong-ngomong, kurdistan pake bahasa arab ya mbak? atau ada bahasa kurdistan sendiri?? :DDD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, pakai bahasa Kurdistan, beda dengan Arab dan Irak, Mbak. Btw, kok Mbak bisa tahu Erbil juga? Ada temen yang di sana kah?

      Delete
  6. Nah, siipp nih, mulai rajin mengulas Suly, bisa jadi trademark mu Mak Pol ^^

    ReplyDelete
  7. jalan-jalan nambah ilmu pengetahuan ini sih

    ReplyDelete
  8. Mbak, mau nanya, kalau orang Indo yang disana banyak kah?

    ReplyDelete

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^