Terima Kasih, Ya!

1.11.2016


Malam semakin larut. Jalanan hampir sepi. Hei, saya kan sedang ada di mall! Kenapa kesepian? Ternyata, mall yang saya datangi waktu itu terbilang baru. Baru sebulan usianya. Lagipula, lokasi mall tersebut bukan di tengah kota atau di tempat strategis yang banyak angkutan umumnya. Mall tersebut berada di dalam salah satu perumahan yang bisa saya sebut mewah di pinggiran Jakarta.

Tepat pukul 21.30 saya keluar mall untuk mencari taksi. Suami dan adik saya keliling jalanan yang ternyata hanya parkiran. Suami saya bertanya pada satpam mall, memang tak ada taksi yang melintas di perumahan tersebut ternyata. Jadi kami diharuskan mengantre di depan lobi utama. Dan, kami saat itu berada jauh dari tempat yang dimaksud.

Setelah berjalan cukup jauh, mengitari halaman depan mall, akhirnya kami berhasil mengambil barisan antrean. Alamak, antreannya panjang sekali! Entah pukul berapa kami akan tiba di rumah. Belum lagi taksi yang datang hanya satu tiap 5-10 menit. Kasihan, anak-anak saya. Pasti mereka sudah mengantuk.

Akhirnya tibalah giliran kami yang bisa bernapas lega sekarang. Taksi datang, pintu dibukakan oleh seorang bapak-bapak yang bertugas mengatur antrean. Menurutnya, taksi malam itu memang sedang sepi, jadilah tak ada yang masuk ke perumahan tersebut jika tak ada yang memanggil.

"Ini juga udah saya telpon dari jam delapan tadi, Bu. Emang lagi kosong. Masih pada mudik," sambungnya.

Hmm, iya waktu itu memang sedang suasana Lebaran. Jadi, wajar saja memang angkutan pribadi seperti taksi sedikit berkurang. Setelah barang kami dimasukkan dalam bagasi, secara refleks saya ucapkan, "Makasih, ya, Pak!" Beliau pun langsung tersenyum sumringah.

"Wah, dari tadi baru Ibu aja yang bilang makasih. Makanya saya males-malesan ngelayanin orang."

MasyaAlloh! Sesulit itukah mengucapkan kata "terima kasih"? Sebesar apa tenaga yang harus dikeluarkan untuk mengucapkan dua kata murah tersebut?  Mungkin menurut mereka tidak begitu penting, namun kenyataannya bisa sangat berharga bagi orang lain.

Bapak tersebut telah berbaik hati meluangkan waktu dan tenaganya untuk membantu para pelancong mengantre taksi. Di luar itu memang pekerjaannya, sudah semestinya lah kita sebagai pelanggan memberikan "bayaran" berupa "terima kasih".

Mari kita budayakan berterima kasih, kepada siapa pun setelah apa pun. Tidak sulit, lho, untuk mengucapkannya. Dan tidak perlu pula mengeluarkan keberanian sedemikian besarnya. Hanya butuh keikhlasan. Iya, keikhlasan hati untuk berterima kasih. Tidak mahal, kan, harga ikhlas Anda? :)

Sebenarnya ini cerita saya sewaktu mudik Lebaran tahun 2014 silam. Tulisan udah ada di draft lama sekali, tapi belum berani publish. Perhatiin aja bahasa saya, agak kaku? Bukan, bukan agak kaku. Itu karena di tahun-tahun tersebut saya masih rajin nulis fiksi, jadilah tulisannya terasa amat kaku. Padahal kalau yang merhatiin lagi, sekarang tulisan saya udah jauh lebih luwes ya ketimbang yang dulu. Hahaha.

Saya bilang belum berani publish tadi, soalnya saya nggak mau dibilang paling bener sendiri, padahal aslinya saya juga nggak suka nge-judge orang lain. Siapa saya ngajak-ngajak orang lain berbuat kebaikan, padahal sendirinya juga nggak sedikit kesalahannya? Siapa saya emangnya? Sempurna juga enggak! Tapi saya selalu berusaha bilang 'terima kasih' di setiap kesempatan, juga ngajarin anak-anak untuk ngucapin hal yang sama.

Ini juga menjadi reminder buat saya untuk selalu bersyukur atas pemberian Tuhan melalui orang lain. Toh, ngucapin kata 'terima kasih' kan juga merupakan bentuk bersyukur kita pada Tuhan, kan? Semoga apa yang saya sampaikan di tulisan kali ini bermanfaat, dan menambah warna-warni blog saya, biar nggak cuma curcol-an aja isinya. :D

7 comments :

  1. bener sekali mbak...kadang ucapan terima kasih sulit sekali diucapkan...kalo dibudidayakan sepertinya akan jd kebiasaan...

    ReplyDelete
  2. kata 'terima kasih' memang bisa menjadi kalimat sakti

    ReplyDelete
  3. Bener banget, mengucapkan terima kasih sepertinya sederhana. Tapi sangat berarti untuk yang menerimanya :)

    ReplyDelete
  4. Makasih, maaf dan tolong itu sebenar nya mudah tapi akan terasa berat kalo kita ngak terbiasa

    ReplyDelete
  5. gitulah mak... Mesti sering2 mengingatkan diri kalau mengucapkan terima kasih itu gak berat dan bisa membuat hari orang lain bisa jadi lebih cerah

    ReplyDelete
  6. thanks for sharing another nice story

    ReplyDelete

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^