Mengenal Asal-Usul Lumpia Semarang

10.31.2016

Lumpia Semarang. Dokumentasi fitrian.com

Biar adil, habis posting jalan-jalan di Medan, kita balik ke pulau Jawa aja, yuk. Kali ini kita ke Semarang. Hmm kalau dengar kata Semarang, yang kebayang di kepala saya adalah .... Iya, bukan Lawang Sewu atau Sam Poo Kong, tapi lumpia. Padahal, ya, yang khas Semarang itu gandjel rel, tapi saya lebih suka yang gurih-gurih sedap, jadi keingetannya lumpia terus. Hahaha. Dasar otak makanan!

Lumpia Semarang itu, beda banget sama lumpia Bandung. Biar kata sama-sama berbahan kulit lumpia dan isi reung, tapi rasa juga jauh beda. Kalau yang dari Bandung itu basah, nah yang dari Semarang ini kering karena digoreng, dan dilengkapi dengan saus untuk cocolannya. Ah, sedapnya.

Ngomong-ngomong soal lumpia, saya jadi penasaran sama sejarahnya. Kayaknya seru, yah, kalau saya bahas di sini, secara saya juga baru ngerti sekarang. Dari penulisannya aja, saya masih bingung antara lunpia atau lumpia. Nah, ternyata ejaan yang benar adalah loenpia, tapi itu kan ejaan jaman dulu, ya, jadi sekarang yang dipakai itu ejaan yang baru, yaitu lunpia. Tapi, makin ke sini, orang lebih mudah mengucap 'lumpia' daripada 'lunpia'.

Konon, lumpia Semarang ini dibuat pertama kali oleh keturunan Tionghoa yang menikah dengan bangsa Indonesia dan menetap di Semarang. Makanan ini mulai dikenalkan pada masa pemerintahan Soekarno, yaitu di akhir tahun 1962, ketika perayaan olahraga GANEFO, yang disebut sebagai acara tandingan Olimpiade kala itu.



Ada yang tahu apa itu GANEFO? GANEFO adalah singkatan dari Games of The New Emerging Forces, atau bahasa Indonesianya adalah Pesta Olahraga Negara-negara Berkembang. GANEFO ini sendiri merupakan ajang pertandingan olahraga yang didirikan oleh Presiden pertama kita, Ir. Soekarno. Kalau mau tahu lebih lengkap mengenai GANEFO, silakan searching sendiri, ya, banyak, kok, infonya di internet.

Nah, balik lagi ke lumpia Semarang tadi. Orang pertama yang menciptakan lumpia adalah Tjoa Thay Yoe. Beliau menikah dengan Wasih, dan kemudian mewariskan ilmunya pada anak turunnya. Keturunannya, saat ini, membuat lumpia dengan berbagai cita rasa dan tiga aliran yang berbeda. Aliran pertama ada di Gang Lombok (Siem Swie Kiem), aliran kedua di Jalan Pemuda (alm. Siem Swie Hie), dan yang ketiga ada di Jalan Mataram (Siem Hwa Nio).

Sementara aliran keempat, yaitu para pegawai yang dulu pernah bekerja di ketiga aliran tadi. Dan aliran kelima adalah para penghobi kuliner yang membuat lumpia dengan racikannya sendiri. Salah satu generasi keempat, yaitu keturunan dari Siem Swie Kiem, meneruskan kios milik ibunya di Jalan Mataram (Jl. MT. Haryono).

Tentang citarasa berbagai macam aliran ini, saya sendiri belum pernah membedakan semuanya. Tapi, saya jadi tahu, bahwa lumpia yang aslinya adalah yang dibuat oleh keturunan Tionghoa, bukan yang saat ini tengah hits di dunia perkulineran di Semarang.

Wah, kalau udah ngomongin sejarah-sejarah begini, saya jadi kepengin ketemu langsung sama yang punya keturunan pembuat lumpianya. Ini baru sejarah salah satu kulinernya aja, belum lagi sejarah tempat-tempat wisata yang ada di Semarang seperti Klenteng Sam Poo Kong yang juga ada hubungannya dengan etnis Tionghoa, atau Lawang Sewu yang katanya horor dan membuat bulu kuduk meremang ketika kita masuk ke sana.


Akomodasi Murah di Semarang



Kalau pergi ke Semarang, nggak puas rasanya kalau cuma satu hari aja. Paling enggak, menginap semalam dulu gitu supaya bisa mengeksplor tempat wisata lainnya, jangan cuma kulinernya aja. Hehe. Jika kamu penasaran dengan sejarah Semarang dan pengin belajar langsung di sana tapi budget terbatas, tenang aja, sekarang sudah banyak hotel murah di Semarang berfasilitas oke dengan harga terjangkau sekali. Salah satunya, Airy Rooms.

Di Airy Rooms, bukan cuma murah dan fasilitas oke aja yang bisa didapat, tapi juga kemudahan dalam booking kamarnya. Soalnya, bisa kita lakukan lewat website atau aplikasinya langsung. Nah, kalau udah ada website, kan kita bisa sambil bandingin harga juga, ya, dengan hotel lain. Harga yang ditawarin Airy Rooms nggak banyak-banyak ternyata, lho!

Download aja aplikasinya di smartphone kamu untuk memudahkan proses booking :)

Terus, bayarnya? Nggak usah ribet-ribet nyiapin uang cash pas check in. Hare gene nyetok uang cash di dompet? Transfer, dong, cyiiin. Kartu kredit juga boleeeh.

Saya kasih contekan dikit, yah. Kalau mau nginep di hotelnya, cari yang dekat sama Lumpia Mataram. Itu, lh, lumpia yang terkenal tadi, yang udah saya tulisin di atas. Terus, dari situ juga masih dekat kalau mau ke Masjid Agung Jawa Tengah, Lawang Sewu, atau nge-mall di Paragon Mall. Jauh-jauh ke Semarang, yang dicari tetep mall juga. Hehe. Buat mamak-mamak kayak saya, wajib ituh, ninggalin jejak kaki di setiap mall di kota yang dikunjungi. Hahaha.

4 comments :

  1. lumpia kesukaan saya banget, pernah nulis tentang lumpia dapat juara hehe, juara harapan sih tapi

    ReplyDelete
  2. Wah baru tau aku kalau lumpia Semarang ini sejarahnya terhubung dengan event pesta olahraga Ganefo. Di Bandung rada susah nemu tukang Lumpia Semarang yang jualan. Ga semua tukang lumpia basah juga menjual lumpia Semarang ini. Kalau ada juga jarang banget.

    ReplyDelete
  3. yang penting enak lumpianya hehehe

    saya jarang nemu nih lumpia yang enak di Depok, bisa beli online ga yah??

    ReplyDelete
  4. aku sukaaaa banget dengan lumpia semarang...berharap ada yang kirim ke NYC hehehehe

    ReplyDelete

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^