Reuni yang Tak Direncana

10.13.2016

Kak Ilis & Kak Rina. Ini teman-teman yang tinggalnya beda kota.
Coba matanya nggak usah fokus ke bagian perut saya, deh! 

Saya masih ingat, pertengahan 1994 pindah dari Jakarta ke kota Pangkalan Berandan, Medan. Saat itu masih kelas 3 SD, dengan 3 adik yang masih kecil-kecil, dan tinggal di komplek perumahan tempat orang tua saya dinas. Hingga akhirnya lulus SMA, saya nge-kost selama beberapa bulan di Medan, lalu pindah lagi ke Jatinangor untuk kuliah.

Sembilan tahun tinggal di kota orang, tentu banyak kenangan masa lalu yang masih tertinggal di ingatan. Dari mulai kaget dengar kata 'kelen' sebagai kata ganti 'kalian', kata 'honda' untuk sebutan 'motor', atau 'pasar' untuk mengganti 'jalan' dan 'pasar lebar' untuk 'jalan raya'. Hahaha. Itu baru beberapa kata aja, belum lagi logat dan nada bicara yang kalau kita baru dengar pertama kali, kayak orang ngajak berantem. :D



Kebukti, setelah saya tiba di Medan bulan lalu, langsung logat bicara saya balek ke semula, macam awak anak asli Medan aja lah ya kan. Hahaha. Jumpa sama kawan-kawan lama, dah macam reuni aja pun, padahal kami ini beda angkatan sama beda sekolah juga. Awak tinggal di Berandan, orang tu tinggalnya di Medan. Tapi kami tetaplah berkawan. Sampe awak terkejut kali nengok orang tu datang di nikahan Kak Bunga. Hahahaha.

Duh, maaf ya, saya jadi kangen lagi sama suasana di sana. Meski cuaca panas, tapi tetap sejuk ketemu teman-teman yang nggak direncana. Karena nggak direncana, pas ketemuan, adegan yang terjadi adalah ....

"Pak, itu anak Berandan*, ya?" tanya sesecewek ke Bapaknya Kak Bunga sambil nunjuk-nunjuk saya.
Refleks, mata saya langsung ngenalin si cewek itu. "Heh, Kak Ilis?!"
"Eh, Kakak lupa lah. Ini siapa, ya?"
"Ish, Kakak ni lah! Iis!"

"Ya Alloh, Iis!"

Terjadilah pukul-pukulan bahu instead of peluk-pelukan sama teman lama yang ketemu nggak sengaja di acara pernikahan Kak Bunga. Oh ya, Kak Bunga itu, teman saya dari jaman masih SD, SMP, SMA. Ke mana-mana selalu bareng. Ngaji juga bareng. Tapi pas kuliah, kami pisah. Dia di Purwokerto, saya di Jatinangor.

Nah, kalau Kak Ilis ini, teman nge-kost sewaktu saya ikutan bimbel setelah lulus SMA. Kak Ilis udah kerja waktu itu. Jadilah saya semacam adik ketemu kakak yang udah gede di perantauan. Hari-hari barengan terus. Gimana enggak, orang tidurnya aja sekamar! Hahaha. Setelah saya kuliah di Jatinangor, blas nggak pernah kontak-kontakan lagi sama Kak Ilis. Facebook-nya juga saya nggak punya, dong. Kan waktu itu belum musim Facebook, ya, Friendster-nya aja saya nggak tahu. Bertahun-tahun nggak ada kabar, baru ketemu lagi bulan lalu itu.



Ada, nggak, di antara kalian, yang kalau ketemu teman lama dan nggak pernah kontak-kontakan sama sekali bahkan di dunia maya, lalu pas ketemu malah pukul-pukulan kayak saya dan Kak Ilis? Seru, ya? Apalagi sekarang pas ketemu sama-sama udah punya anak. Tiga. Kalau bukan karena undangan nikahan Kak Bunga, entah kapan saya bisa sengaja ke Medan dan ketemu mereka. :))

4 comments :

  1. Ett... belum pernnah mbak. Kbanyakann pakae unsur janjian.n yg refleks ketemu langsunh blum prnah. Huehee

    ReplyDelete
  2. jadiinget masa lalu ya kalau ketemu temen lama. tapi ga pake pukul2an lah aku sih :)

    ReplyDelete
  3. yang tidak direncanakan justru malaaah jadi ketemu hehehe

    ReplyDelete
  4. awak jugalah mantan anak Brandan tahun 70an ha.. ha..
    banyak kenangan masa kecil yang tertinggal di sana, mulai main di bekas kebun karet dan cari jambu monyet sampai main perosotan kardus ha.. ha..

    jauh kali jaraknya ya.. Isti tahun 90an
    penasaran Brandan seperti apa sekarang

    ReplyDelete

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^