Buah Tangan

5.19.2017

troli belanjaan

Tiga tahun yang lalu kami punya kesempatan mengunjungi Dubai. Sengaja jalan-jalan juga ke supermarketnya sebelum balik ke Suly, cuma untuk cari tahu. Dan ketemulah mereka yg di troli belanjaan saya ini. Nggak tanggung-tanggung, saya ngambil tahunya sekaligus banyak. Buat nyetok? Enggak. Buat dibagi-bagiin sama teman yg di Irak juga. 


Sesama perantau, pastilah merasakan rindunya masakan rumahan yang sederhana. Karena pada waktu itu saya belum bisa bikin tahu, jadi ketemu tahu di Dubai adalah harta. Tahu, bayam, tauge. Ketika beli tahu dkk. ini, saya tanya ke suami, "Mau bawain buat temen-temen Mas juga, nggak?" Dan suami saya jawab, "Iya, ambil aja buat dibagiin satu-satu." Maka itu belanjaan tahu saya di troli ini banyak sekali. Tempe juga bawa banyak (kalau ini sekalian buat nyetok), tapi bukan di supermarket ini belinya.

Saya jadi ingat. Waktu pertama kali berhasil bikin bakso ikan, saya masak tekwan. Masaknya nggak banyak. Tapi tetap saya bagi-bagi buat teman-teman suami untuk sekadar buah tangan. Pun ketika berhasil membuat pempek. Meski sedikit, saya tetap berbagi.

Pernah juga salah satu istri teman suami membuat mie ayam. Pagi-pagi diantar ke rumah saya. Wah, walaupun rasa mie ayamnya belum seperti yg dijual abang-abang, tapi pemberian seperti ini yang membuat saya merasa berarti. "Oh, berarti saya dianggap keluarga bagi mereka." 

Nggak jarang juga saya diundang ke rumah salah satu teman WNI untuk sekadar mencicipi masakannya. Nanti ya gantian, saya yang mengundang mereka. Walau level memasak saya masih 50 out of 100. Saya tetap pede menghidangkan masakan buat mereka (soalnya kan pake bumbu masak instan yg bawa dari Indo, lol).

Karena bagaimana pun juga, inilah satu-satunya cara untuk menjaga rasa kekeluargaan di antara kami. Hasilnya? Pada saat kami sudah tidak "berjuang" lagi, masih tetap berkomunikasi dan terkadang menyiapkan waktu untuk berkumpul kembali.

Begitulah. Ketika jauh dari tanah air, saudaramu hanyalah mereka ~ teman-teman seperjuangan yang juga jauh dari keluarga.

Makasih ya yang udah mau baca panjang-panjang. Dari foto tahu aja bisa baper begini. Hahaha.

2 comments :

  1. aaah Isti..I know exactly how it feels. Kalau lagi jauh dati tanah air dan keluarga besar, semua orang Indonesia dan tetangga kita jadi keluarga! Good to know you are having the same spirit while in Sully :)

    ReplyDelete

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^