Plus & Minus Menggunakan Ayunan Bayi dan Tips Membelinya Secara Online

6.11.2017

Bouncer
Ayunan bayi Amanda

Setelah drama pencarian stroller yang terbagi dalam beberapa babak berakhir, saya dibuat bingung lagi dengan ayunan bayi, atau biasa disebut dengan bouncer. Ini semacam perlu nggak perlu sebenarnya. Perlu, karena saya sendiri di rumah, nggak ada asisten rumah tangga. Dibilang nggak perlu, waktu itu Amanda masih bayi banget. Yang artinya bisa aja saya tidurin di sofa, atau di kasur sekalian lalu saya tinggal ke ruang tamu untuk bekerja. See? Tapi, kalau Manda udah agak gedean, masih perlu nggak, ya? Takutnya udah kebeli nggak kepake, gitu. Kan sayang. Apalagi kalau udah bisa tengkurap dan guling-gulingan.

[Baca: Drama Babak Pencarian Stroller, Bagian 1]

[Baca: Drama Babak Pencarian Stroller, Bagian 2]

Tapi karena waktu beli baby box udah sepaket ada bouncer-nya sekalian, ya saya pake juga. Apa manfaatnya? Saya jadi punya waktu untuk bekerja disambi ngasuh. Ketika Amanda tidur, cukup saya letakkan di bouncer-nya dan diayun-ayun pelan. Sementara itu, saya bisa lancar mengetik di sampingnya. Nggak perlu lari tergopoh-gopoh ke kamar kalau dengar dia menangis.

Berdasarkan pengalaman saya pakai bouncer atau ayunan bayi selama Amanda bayi dari usia 0-5 bulan, saya coba paparkan plus dan minus-nya, juga tips untuk membelinya. Semoga membantu, ya, buat yang lagi galau dalam memilih ayunan bayi.

Plus & Minus


Multitasking Mom 😎

(+) Bisa dipindah-pindahin ke mana kita mau. Misal kita lagi di ruang keluarga tapi nggak mau jauh dari bayi, ayunannya bisa dibawa. Dengan begini, kita bisa bekerja multitasking.

(+) Nggak perlu menggendong demi menidurkan bayi. Cukup digoyang-goyangkan sedikit bouncer-nya, bayi sudah merasa nyaman. Apalagi kalau punya yang otomatis. Tangan kita nggak perlu menggoyang-goyangkan bouncer-nya, cukup tekan tombolnya aja dan bouncer akan mengayun otomatis untuk sekian menit dan akan berhenti sendiri.

(+) Bukan cuma fitur ayun aja, di beberapa bouncer yang berkualitas baik malah ada fitur getarnya juga, dan suara atau musik yang bisa membantu menidurkan bayi.

(+) Bisa diberi gantungan mainan yang dapat membantu motorik halusnya dengan melihat benda yang berwarna cerah dan menarik.

(+) Bouncer yang mahal, biasanya bisa digunakan sejak bayi baru lahir sampai usia toddler, atau balita. Karena, tipe ini memiliki level sandaran yang cukup lengkap sehingga ketika si toddler mengantuk, bisa tetap tidur di bouncer-nya dengan sandaran yang nyaman. Jadi irit, kan.

Ada tambahan lagi? Lanjut ke minus-nya, ya, kita.

(-) Kalau bayi sudah bisa tengkurap, lebih baik jangan ditinggal sendiri di atas bouncer-nya. Ngeri aja, kan, tau-tau si bayi bisa jatuh meski sabuk pengaman sudah dipakai sekali pun. Lagipula bayi biasanya sudah mulai explorasi ketika sudah bisa tengkurap, sepertinya bakalan susah betah lama-lama di bouncer.

(-) Kalau bouncer tipe kayak punya saya, nggak bisa bertahan lama. Paling-paling cuma bisa dipakai sampai bayi umur 3 bulanan aja. Saya sendiri, pakainya sampai usia 5 bulan karena masih muat dan kebetulan Amanda belum bisa tengkurap di usia segitu.

(-) Menuh-menuhin tempat. Terutama kalau rumah kita minimalis, nggak perlu juga pakai bouncer kayaknya. Udah, ngampar aja di bawah gelar kasur playmat. Malah lebih aman. :D


Kayaknya segitu, deh, yang saya rasain. Apa ada tambahan dari teman-teman lain? Boleh tambahin di kolom komentar, ya, nanti. Sekarang saya mau lanjut untuk tips membelinya.


Tips Membeli Ayunan Bayi secara Online


4moms MamaRoo. Salah satu ayunan bayi canggih yang harganya lima juta saja.

Ada baaanyaaaak sekali macam-macam ayunan bayi atau bouncer ini. Dari yang paling murah seharga tiga ratus ribu, atau yang mahal sampai dua-tiga jutaan. Waaaks! Apa bedanyaaa? Bedanya, ada di rangka dan kecanggihan. Wah, kalau gitu, emang enaknya kita datang langsung ya ke tokonya untuk pegang langsung. Kalau beli online takut aja gitu ditipu.

Tapi, yang namanya beli online, itu selalu lebih menggiurkan. Soalnya kita nggak perlu capek-capek keluar rumah dan bermacet-macetan di jalan. Belum lagi kalau ternyata di tokonya nggak lengkap. Ih, kesel, kan? Apalagi ke sananya itu pas lagi hamil. Oh, atau malah pas bayi udah lahir? Niscaya acara ke toko bisa makan waktu seharian. Pengalaman saya, sih, begitu. Kalau nggak lengkap, masih penasaran mau ke toko yang lain lagi, dan itu nggak deket jaraknya. Macet-macetan lagi. Bete.

Kebetulan waktu saya lihat-lihat di website Matahari Mall, ternyata jual ayunan bayi juga! Wah, kesempatan, deh! Tapi, kalau belinya online, gimana bisa mastiin itu ayunannya berkualitas bagus atau enggak? Selama yang kita beli bukan barang bekas, insyaAllah kita bisa ngandelin review orang yang sudah pernah pakai. Untuk review-nya sendiri, bisa kita cari di blog atau Youtube.

  1. Seberapa penting kah kita butuh ayunan bayi ini? Silakan di-review sendiri di rumah. Jika sudah ada bayinya, lebih mudah lagi. Untuk apa kita beli bouncer-nya nanti? Untuk gengsi aja atau memang butuh karena di rumah tidak ada asisten rumah tangga? Bila benar-benar butuh, siapkan keungannya.
  2. Pastikan budget yang kita punya. Jangan mudah tergoda dengan ayunan canggih yang ada remote-nya jika budget kita nggak sampai harga segitu. Jangan menyiapkan budget sesuai dengan ayunan atau bouncer yang kita incar, tapi sesuaikan ayunan dengan budget yang kita punya. 
  3. Sesuaikan tipe ayunan dengan kebutuhan. Tipe seperti apa yang akan benar-benar membantu kita dalam mengasuh bayi? Apakah hanya sebatas yang bisa mengayun saja untuk newborn, atau yang bisa sampai toddler?
  4. Cari review ayunan tersebut di blog atau Youtube. Ini yang saya lakukan setiap hari sebelum membeli saat itu. Saya nggak mau menyesal, maka itu setelah saya menyiapkan budget, saya cari tipe yang dibutuhkan, kemudian baca-baca review-nya. Ada banyak reviewer dari dalam maupun luar negeri. 
  5. Jangan searching lagi kalau sudah membeli! Bahaya! 

Saran saya, jika benar-benar membutuhkan ayunan bayi atau bouncer ini, lebih baik beli yang bisa digunakan sampai usia toddler. Soalnya, bouncer bisa berguna juga sebagai kursi main anak. Tapi itu juga jika budget memungkinkan loh ya. Kan, semua balik lagi ke budget.

Mudah-mudahan tulisan saya cukup berguna dan membantu teman-teman dalam memilih bouncer. Saya sendiri, setelah pindah ke Indonesia ini, nggak pakai bouncer lagi, soalnya nggak muat rumahnya. Menuh-menuhin space aja. :D

8 comments :

  1. Intan dulu pakai bouncer mbaaak..sama pakai ayunan rotan aja.hehehe

    ReplyDelete
  2. Wuiih, bisa jadi ibu multitasking ya. Hihihi. Yasmin dulu ngga beli bouncer, Manda. Karena ada mbah uti yg sll siap. :D

    ReplyDelete
  3. Jadi inget bouncernya anak-anak pada kemana yaaa.. dulu semangat banget belinya soalnya lucu.. Bo et Obi juga suka

    ReplyDelete
  4. emang bener mbak, kalau sendiri di rumah tanpa asisten, ada bayi pula. Perlu banget bouncer. Aku juga pakai bouncer yg bisa dipakai sampai berat bayi 15 kg. Ibu bs melakukan aktifitas apapun sembari ngobrol sama bayi di atas bouncer. Aku bawa ke dapur pas masak, bawa ke tempat jemuran dan bisa disambi makan. Jd bayi gak bau tangan. Apa apa minta digendong kalau mo bobo. Di bouncer fira suka tertidur loh, terus aku pindahin.

    ReplyDelete
  5. ketiga anakku pake bouncer aja. gak paje ayunan

    ReplyDelete
  6. ketiga anakku pake bouncer aja. gak paje ayunan

    ReplyDelete
  7. Aku dulu nggak pake bouncer, padahal enak juga ya jadi bisa dipindah-pindah

    ReplyDelete
  8. Juna dulu juga pakai bouncher, cum 2 bulanan dipakainya tapi ngebantu banget... sekarang sich aku lipat dan aku simpen

    ReplyDelete

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^