Rumah Pertama

6.01.2017

 

Setelah menikah, saya ikut suami tinggal di kost-an, selama beberapa bulan sampai akhirnya orang tua saya visit ke Jakarta untuk kangen-kangenan sama anaknya. Mungkin, karena ngerasa nggak enak, suami saya lalu mencari rumah kontrakan. Rumah petak biasa, yang sebulannya tujuh ratus ribu sudah termasuk listrik dan air. Untuk sebuah rumah kontrakan di wilayah Bangka, Mampang, harga tersebut sudah termasuk lumayan. Di sanalah kami mulai mengisi beberapa perabotan dengan modal pinjaman kas.


Beberapa bulan tinggal di rumah kontrakan, sepertinya membuat orang tua saya enggak tega karena saya sedang hamil. Pasalnya, kontrakan saya berada di lantai dua. Jadi harus naik-turun tangga jika ada keperluan untuk beli-beli sayur dan makanan. Lalu kami pindah lagi, ke rumah orang tua saya yang tadinya disewa orang. Rumahnya cukup besar buat saya dan suami. Yang paling enak, lokasinya cukup strategis. 

Kurang lebih setahun menempati rumah orang tua, pada akhirnya kami harus dihadapkan mencari rumah sendiri. Kebetulan orang tua saya pensiun dan akan menempati rumahnya yang kami pakai. Dengan tabungan yang sedikit dan minimnya ilmu pengetahuan tentang harga rumah, kami dikagetkan karena ternyata rumah-rumah di Jakarta harganya selangit! 

Syukurnya, kami bisa dapat rumah dengan harga seratus juta saja dengan luas 70m di pinggir jakarta timur. Mencicil? Tentu saja! Tapi enggak bisa cicil ke bank. Bank mana yang mau menerima ajuan kredit rumah kalau letaknya di dalam gang, tidak ada akses mobil? Jadi kami kubur dalam-dalam harapan untuk memiliki rumah pribadi. Alhamdulillaah, doa kami diijabah Allah. Kami mendapat keringanan untuk mencicil rumah langsung kepada yang pemiliknya. Sampai lunas selama kurang lebih 2 tahunan. 

Sekarang, rumah ini sudah kami lepas demi mendapatkan yang lebih baik; ada akses mobilnya, dan tidak jauh dari rumah pertama. Di rumah pertama, saya hanya bisa menikmatinya beberapa bulan saja, karena harus pindah ikut suami mencari maisyah di negeri orang.

Tapi di rumah pertama inilah, saya pertama kali benar-benar memulai hidup bertetangga. Lucunya, tetangga depan saya punya anak namanya Jefri. Jadi kalau ibunya sedang mencari anaknya yang masih bermain di luar, beliau akan teriak kencang, "Jepriiiii! Pulaaang!" 

5 comments :

  1. Udah pindah berapa kali aja ya Kak. hihi. Semoga nyaman di rumah barunya nanti yaa :)

    ReplyDelete
  2. Memori banget ya Mbak rumahnya...

    ReplyDelete
  3. rumah kenangan..., masih dekat jadi masih bisa dilihat2 ya mbakk
    dan ingat2 masa awal2 membina rumah tangga lengkap dengan segala sukadukanya

    ReplyDelete
  4. Rumah pertama saya, dirumah mertua mba (╯︵╰,)

    ReplyDelete
  5. Rumah pertama saya, dirumah mertua mba (╯︵╰,)

    ReplyDelete

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^