Berlibur Lebaran #ErbilPart2

9.20.2012

Ramadhan di Suly

Ceritanya waktu Lebaran Idul Fitri kemarin kan saya ga pulang, soalnya nanggung rencana pulang bulan Oktober, jadi ya sekalian aja deh ga usah pulang pas Lebarannya. Nah, yang berpuasa dan berlebaran di Suly bukan cuma saya sekeluarga aja, tapi ada temen suami 1 orang yang tetap fight dengan tanpa keluarganya, Mas Arif. Mas Arif ini baru aja pulang ceritanya awal bulan Juli sekeluarga, terus baliknya ke Suly dia sendiri, soalnya kebetulan anaknya lagi liburan sekolah (summer holiday) dan jadwal masuknya masih lama, September.

Berpuasa di musim panas sangatlah tidak menyenangkan. Saya harus bangun jam 1 malam untuk sholat Isya dan Tarawih dilanjut sahur. Kok gitu? Adzan Subuhnya jam 3 dini hari ya, terus adzan Maghrib jam 7.30 pm waktu Iraq, dan adzan Isyanya baru kedengaran ketika pukul 9.30 pm. Kalau saya dan suami sholat Isya ja msegitu, anak-anak mau tidur jam berapa lagi? Jadi kalo udah jam 9 malam tuh saya dan suami langsung nidurin anak-anak, sekalian ikut tidur juga. Tengah malamnya baru bangun untuk sholat Isya, Tarawih, lanjut sahur dan sholat Subuh. Meskipun begitu, saya senang Ramadhan di sini, karena suami saya pulang lebih awal dari biasaya. Jam 3 sore biasanya dia udah selesai kerjaan kantornya dan sampai rumah bisa jam 3.30 pm.

Ramadhan di Suly tidak seramai dan seheboh di Indonesia, di mana orang-orang sibuk berjualan menu tajil, pinggir-pinggir jalan ramai dipenuhi pedagang kolak, bubur sumsum, sup buah, martabak, dankawan-kawannya. Tidak ketinggalan juga pedagang kembang api, petasan, mercon, dan mainan-mainan peledak lainnya yang (sebenernya) dilarang. Belum lagi setiap menjelang adzan Maghrib hiruk-pikuk rekaman mengaji dari loudspeaker mesjid terdengar, bedug Maghrib, kembang api dan petasan yang diledakkan ketika malam hari, sampai anak-anak SD yang berkeliling membangunkan sahur pada pukul 2 sampai 3 pagi. Di Suly? Sepi.

Sama seperti hari-hari biasa, tidak ada yang berubah, tidak ada yang berbeda, tidak ada yang indah, tidak ada yang bermakna. Bahkan penduduk asli sini pun tidak sedikit yang tidak berpuasa. Sungguh mengherankan, negara Islam di mana hampir 99% penduduknya beragama Islam, tidak berpuasa di bulan Ramadhan, puasa yang diwajibkan sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Dan mereka terang-terangan tidak berpuasa di muka umum (berdasarkan cerita suami saya yang mengamati tema-teman di kantornya). Makan siang bersama kawan-kawan sesama Muslim dan non Muslim, menyediakan minuman dan snack ketika meeting kantor *tak peduli bulan Ramadhan*, yang laki-lakinya hanya melaksanakan sholat Jumat saja, yang wanita hanya mengenakan scarf sebagai penutup kepala (jilbab) untuk menghormati Ramadhan tanpa ikut berpuasa.

Yah, tidak perlu aneh juga sih sebenernya, toh saya udah tau sejak kedatangan pertama kali, ketika saya nge-mal dan melewati waktu sholat, tidak bisa ditemukan yang namanya mesjid atau musholla di dalam mall. Terus, gimana mereka (karyawan mal) sholatnya? It's so simple, because of they don't ever doing pray. Bahkan ketika ditanya di mana ada mesjid terdekat di lokasi tersebut, mereka pun tidak tahu.


Lebaran di Erbil

Ramadhan berakhir, libur Lebaran di depan mata. Mas Arif ternyata bosan di rumah. Dia mengajak kami berlibur ke Erbil (lagi) dan kali ini menginap. Horeeee! Kata suami saya, tak apalah keluar duit di Erbil daripada harus ke Turki *hehehe*. Setelah deal tanggal keberangkatan, suami saya mengontak salah satu supir taksi yang bisa berbahasa Inggris, Wafa namanya. Kami berangkat H+2 Lebaran, pukul 8 pagi,  naik taksi. Biasanya, Wafa mematok ongkos sepergian ke Erbil US $100, jika pergi-pulang hari itu juga US $150. Karena kami berniat bermalam, jadi ia meminta US $200, dihitung bolak-baliknya dia untuk menjemput kami nanti.

Tidak tahu akan bermalam berapa lama kami di sana, karena memang belum pernah bermalam sebelumnya, jadi kami putuskan untuk lihat sikon dulu sesampainya di sana nanti, termasuk bagaimana penginapannya. Kata Wafa, mencari hotel di Erbil mudah. Banyak hotel di sana. Ia akan mengantar kami ke hotel yang dekat dengan pusat kota dan Family Mall (yang ada Carrefournya itu, looh). Okelah, kami menuruti saja apa katanya.

Perjalanan Suly-Erbil kali ini sungguh berbeda. Kami memilih jalur yang cepat sampai, yaitu lewat kota Kirkuk, di mana jalanannya lurus seperti jalan tol dan hanya ada pemandangan gurun pasir di kanan-kiri mobil. Karena kendaraannya mobil sedan, jadi berasa sempit (yang dulu kan naik bus ya, anak-anak juga bisa tidur dengan sempurna badannya). Saya sekeluarga duduk di belakang, masyaAlloh puanasnya ya, rasanya itu matahari nembus deh dari kaca jendela belakang ke punggung saya! Kayak kebakar, terus silaunya ga nahan. AC mobil udah paling pol, tapi masih kalah sama teriknya matahari yang masuk lewat jendela belakang. Kalau jendela pintu dibuka, bukan sejuk sepoi-sepoi angin yang didapat, melainkan debu dan pasir yang beterbangan seakan-akan berebutan ingin masuk ke dalam mobil.

Perjalanan yang kurang mengasyikkan, ditambah lagi anak-anak saya tidak ada yang mau sarapan. saya udah menyiapkan sarapan makaroni schotel panggang untuk di jalan, tapi tidak tersentuh sedikit pun. I'am cuma mau minum, minum, dan minum saja. Dan Shaki hanya mau nyusu pada saya saja, akibatnya ia muntah.

Tidak terasa juga pukul 11 kami sudah tiba di Erbil. Pertama yang dituju adalah hotel dekat Family Mall. Mahal, kata suami saya. Dan memang penuh. Lalu Wafa mengajak kami berkeliling mencari hotel yang menurutnya murah. Saya tidak ingat berapa kali kami berhenti untuk mengecek hotel ada kamar kosong atau tidak. Akhirnya setelah hampir 1 jam berkeliling, kami berhasil mendapatkan kamar kosong. Cukup jauh dari Family Mall letaknya, tapi tak apalah, yang penting kami bisa istirahat sejenak.

Tidak seperti di Indonesia, bangunan-bangunan di sini cukup kuno. Begitu pula dengan hotel-hotelnya. Tidak ada yang megah dan mewah seperti hotel-hotel di Indonesia. Dan kamarnya pun hanya ada kasur dan televisi, tidak ada meja-kursi kerja. Saya mendapat kamar tipe single bedroom dan mas Arif yang double bedroom. Untuk biaya bermalam, ternyata cukup mahal. Kata suami saya, dari beberapa hotel yang dikunjungi sebelumnya mematok harga tidak kurang dari US $100 perkamarnya. Fiuh.... Kalo di Indonesia udah dapet kamar yang deluxe kali ya.

Ini gambar hotelnya tampak dari depan 

Ini tampak dari samping yah, heheh

Ada yang lucu dari penawaran kamar-kamar ini. Kata resepsionisnya, Mas Arif hanya boleh memakai kamar yang double, sedangkan suami saya yang single karena membawa keluarga. Begitu ditanya harga, resepsionisnya bilang biaya yang double US $150 dan yang single US $150. Hah, apa bedanya?? Dikarenakan yang single ada ada extra bed, biayanya menjadi US $180. Suami saya merasa tidak butuh extra bed karena tidur berempat dengan anak-anak di satu kasur single saja sudah cukup. Maka suami saya meminta tidak memakai extra bed, dan resepsionisnya (akhirnya) setuju dengan mengurangi biaya menginap dari US $180 menjadi US $150. Hahaha, nginep di hotel bisa nawar cuma di Iraq nih :p

Sayangnya, suami saya tidak berminat sedikit pun untuk menjepret isi kamarnya. Lucu lho, padahal. Begitu masuk, seperti kamar-kamar hotel lainnya, di sebelah kiri pintu ada kamar mandi. Masuk lurus ketemu kasur single yang gede ya, terus ada 1 kasur single yang kecil juga ternyata. Wah, jadi kami dapat 2 kasur nih. Begitu ngelewatin kasur yang kecil tadi, eh masih ada kasur lagi yang tanpa dipan. Mungkin ini yang dimaksud resepsionis tadi si extra bednya. Jadi memang extra bednya udah tersedia di kamar, dan ukurannya gede pula. Hihihi, anak-anak bisa tidur sendiri-sendiri nih di kasurnya, sementara saya dan suami tidur berdua di satu kasur :p
Gimana dengan Mas Arif? Dia dapat kamar yang tempat tidurnya single kecil dan ada 4 buah! Hahahah. Bisa tidur gantian kasur nih tiap 2 jam.

List tujuan yang pertama adalah ke Majidi Mall *teteup ya ke mall*, setelah selesai istirahat sebentar di hotel tadi. Majidi Mall ini merupakan mall terlama di Erbil. Majidi Mall sudah ada sebelum si Carrefour meramaikan bersama Family Mall. Kami makan siang dan berbelanja yang kira-kira tidak ada di Suly, hehe. Dan sekalian mencari oleh-oleh untuk keluarga di Indonesia juga. Ketika hari sudah sore, kami istirahat sejenak di foodcourt sambil mencicipi hotdognya Fatburger lalu kembali ke hotel untuk istirahat supaya perjalanan esok hari tidak begitu lelah.

Kecil ya gambarnya, saya nyolong dari sini nih soalnya :p

Over all bermalam di hotel yang kami tempati tidak ada bedanya dengan hotel-hotel biasa di Indonesia, padahal hotel kami ini terbilang hotel bintang 5, paling tidak begitulah tulisan di setiap kemasan souvenir hotelnya. Menu sarapan prasmanan, sama seperti di Indonesia. Bedanya, menu sarapan di hotel bintang 3 di Indonesia bisa lebih banyak macamnya dari menu sarapan Indonesia sampai mancanegara, tapi di i hotel kami ini hanya ada 1 makanan pokok yaitu roti. Lainnya ya teman-temannya roti, seperti selai-selaian, keju-kejuan, telur rebus, sup krim, salad buah dan sayur (khas Iraq tentunya ya), dan minuman teh dan kopi saja. Ada sih susu cair, tapi hanya sebagai temannya teh, untuk teh susu. Cukup sedikit untuk ukuran hotel berbintang 5, bagi kami.

Hari kedua di Erbil, kami mengunjungi Family Mal (lagi) dan kali ini dari pagi bok ya, hahhaha... Sekalian check out hotel soalnya, sih. Koper-koper kami titipkan sementara di resepsionis hotel, dan kami melanjutkan perjalanan ke Family Mal. Sekitar pukul 10.30 am kami tiba, dan mal masih tutup sodara-sodara. Alias belum buka, yah. Di luar mal orang-orang banyak mengantre dan menunggu untuk dipersilakan masuk, dan dibuka dulu tentunya. Taklama kami menunggu, pintu mal dibuka, tapi aneh, orang-orang yang menunggu di luar tadi tidak langsung berbondong-bondong masuk ke dalam mal. Namun kami akhirnya mengetahui dari seseorang yang berdiri dekat kami bahwa jika yang berkunjung adalah family dipersilakan masuk duluan ke dalam, dan itu pun hanya Carrefour saja yang baru buka. *maybe that's why they named Family Mall*


Kami masuk langsung belanja dulu akhirnya, padahal rencana awal hanya ingin keliling-keliling saja baru ke belanja, tapi tak apalah. Acara belanja selesai, langsung menuju Texas Chicken *yeeey makan nasi*. Namun lagi-lagi menu nasi tidak tersedia di sana. Akhirnya suami saya membeli ayam dan roti yang segede gaban sebagai makanan pokoknya. Setelah makan, kami lanjutkan jalan-jalan sebentar membeli sedikit oleh-oleh untuk dibawa pulang ke Indonesia, sambil mencari musholla. Selesai sholat kami berkeliling (lagi) dan kali ini mengunjungi toko-toko mainan anak-anak.

Di mall ini banyak banget butik-butik ternama, ga kayak di Duly, hihi. Sebut aja Mango, ada. 9 West, ada. Mothercare, ada. Adidas, ada. Maaf yah, saya ga bgitu hapal merek-merek terkenal, jadi cuma bisa sebut seadanya aja. Di halaman samping Family Mall sebenarnya ada park, semacam dufan kecil-kecilan. Niat awal pengen main-main sebentar di situ, pengen ngerasain gitu, tapi apa daya matahari tidak bersahabat dengan kami. Puanaseeee puooolll.... Jadi kami urungkan kembali niat itu.

Sekitar pukul 5 sore, kami keluar mall menuju taman yang cukup besar di Erbil, Sami Abdul Rahman Park. Saking besar dan luasnya, kami hanya sebentar saja masuk ke dalamnya lalu duduk-duduk sembari menikmati angin sepoi-sepoi di sore hari.

Luas banget kan? Gempor deh kaki gue keliling-keliling tamannya

Cukup puas di taman, kami kembali lagi menuju hotel untuk mengambil koper dan menunggu Wafa datang menjemput. Wafa tiba sekitar pukul 18.30, kami langsung pulang. Rencana awal perjalanan pulang kali ini mau melewati kota Dokan, yang mana harus naik-turun gunung seperti perjalanan ke Erbil tempo hari. Alhamdulillah perjalanan pulang begitu santai dan Shaki tidak muntah-muntah lagi. Sampai di Goizha, Suly, sudah pukul 9.30 pm. Waktu yang tepat untuk istirahat.


**sebenernya masih banyak foto-fotonya, menyusul aja ya, soalnya ada di laptop suami saya semua nih**

2 comments :

  1. Saya rasa... kita tak boleh nak kira pendapat kita ajer.
    .. pendapat org lain patut juga di beri keutamaan.

    Tahniah admin atas pos yg bermanafaat.

    Here is my web site Tips Bisness Utk Wanita

    ReplyDelete
  2. Wah..mantabs sekali...bisa jalan-jalan ke Kurdistan....saya hanya dapat menjelajah Kurdistan lewat dunia maya di Skyscrapercity.com..memang benar2 Indah kKurdistan, penuh gunung lembah ngarai..hijau saat musim semi...dan kebetulan saya juga tertarik dengan sejarah bangsa Kurdi..


    salam

    ReplyDelete

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^