Review Buku "Sebelas Patriot" Karangan Andrea Hirata: Ayah, Inspirator Tiada Banding

9.15.2012

**sebelumnya saya mohon maaf bagi yang sudah menanti cerita tentang #ErbilPart2, sepertinya saya pending dulu sampai foto-fotonya terkumpul rapih**


Judul Buku: Sebelas Patriot
Pengarang: Andrea Hirata
Jumlah Halaman: 101
Penerbit: P.T. Bentang Pustaka
Tahun Terbit: Juni 2011

Tidak sia-sia saya meminjam buku "Sebelas Patriot" ini dari seorang teman suami saya, Pak Joko, orang Indonesia yang juga bekerja di satu perusahaan dengan suami saya dan tinggal di Suly. Buku ini dilengkapi dengan CD yang berisi lagu-lagu karangan Andrea Hirata, sang penulis, tapi saya hanya meminjam bukunya saja. Awalnya saya agak ragu untuk membaca kembali tulisan Hirata, biasa, karena dulu sewaktu kuliah sering membaca karangan yang nyastra banget, jadi begitu membaca buku-bukunya Hirata seakan-akan hilang makna sastra itu. Ya, Hirata memang bukan sastrawan serius, tapi ia penulis yang santai. Tulisannya merupakan hiburan. Semata-mata untuk menghibur dan bukan untuk diselidiki kebenarannya.

Saya memberanikan diri meminjam, karena saya rindu membaca buku. Sudah lama saya tidak membaca buku, novel. Novel pernah menjadi makanan sehari-hari saya semasa kuliah. Puisi juga pernah menjadi bagian dari menu sarapan saya setiap harinya. Begitu juga dengan cerita pendek berikut pengarang-pengarangnya, pun mereka pernah mengambil alih sebagian pikiran saya setiap malamnya. Ya, karena saya dulu kuliah di Sastra Indonesia.

Hirata benar-benar membangun jiwa patriotisme kepada setiap pembaca buku ini. Lewat buku ini, ia berusaha membangun (kembali) jiwa yang (mungkin) telah dan pernah ringkuh untuk memercayai dunia sepak bola negara kita, Indonesia. Seperti kita ketahui, hiruk-pikuk masalah kepengurusan dan tektek-bengek di dalam tubuh PSSI sendiri agaknya tidak akan pernah berujung dengan indah. Sebuah pepatah yang sering kita dengar, "semua akan indah pada waktunya", mungkin tidak berlaku bagi persepakbolaan tanah air kita. Entah mengapa, walaupun saya tidak begitu menggilai bola, saya sedikit tertular gilanya dari suami saya. Apapun itu, Ayah-lah juaranya, menurut buku ini.

Ayah. Satu kata yang penuh makna, bahkan tidak ada makna apapun di dunia ini yang dapat menyempurnakan tentangnya. Seorang Ayah bisa memutarbalikkan dunia anaknya, bagaimana pun anaknya berbuat. Seorang anak bisa begitu mencintai Ayahnya yang begitu misterius. Ayah yang menyimpan banyak cerita namun enggan untuk berbagi. Ayah yang diam dalam kata, namun ramah dalam tersenyum. Ayah yang giat bekerja demi istri dan anak-anaknya namun tampak takkenal lelah. Ayah yang bertubuh kekar namun begitu mudah teriris hatinya.

Dalam buku ini, Ikal begitu memuja Ayahnya, hingga megnikuti jejak Ayahnya menyukai klub sepakbola kesayangan Ayahnya. Saya tidak peduli dengan pengalamannya menonton pertandingan Real Madrid secara langsung, karena yang begitu membuat saya terenyuh adalah kegigihannya membanggakan Ayahnya demi membeli baju bola Real Madrid dan bertandatangan asli Luis Figo. Ia rela bekerja paruhwaktu setiap harinya demi sebuah kaos bola klub kesayangan Ayahnya. Rela bekerja kasar dan dibayar murah demi Ayahnya. Semua demi Ayah.

Karena Ayahnya, telah menjadi pahlawan ketika berjuang melawan Belanda lewat sepak bola. Misteri tentang Ayahnya terkuak melalui selembar gambar kenangan. Saya bisa ikut merasakan getaran-getaran setiap persendian kaki Ayahnya bergerak seperti berusaha menggocek lawan yang padahal sudah rusak. Lebih teriris lagi ketika mengetahui bahwa Sang Penjajahlah yang mematikan tempurung kakinya. Ayahnya, seorang inspirator bagianya yang tiada bandingan, yang istimewa diciptakan oleh Yang MahaKuasa, untuknya.

Sayang, ending yang saya harapkan tidak terwujudkan dalam cerita. Cerita pengorbanan Ikal demi membanggakan Ayahnya "hanya" berhenti sampai ia mengirimkan kaos bola klub kesayangan Ayahnya setelah PSSI, Real Madrid. Tidak ada kelanjutan bagaimana sang Ayah ketika menerima paket dari anaknya yang nun jauh di seberang benua.

Saya pernah menjadi seperti Ikal. Jika Ikal mengetahui cerita Ayahnya dari mulut seorang sepuh di kampungnya, saya mengetahui cerita Ayah saya dari mulut yang sangat terpercaya: Kakek saya. Saya memanggil Ayah dengan sebutan Papa. Papa, menurut Kakek saya, adalah orang yang giat, tidak patah semangat, dan selalu bisa membanggakan orangtua. Saya sedikit lupa bagaimana cerita lengkapnya, yang saya tahu dan saya ingat, saya ikut mengucurkan airmata ketika Kakek bercerita tentang Papa dengan bahasa Jawanya (dan dengan pengetahuan bahasa Jawa saya yang seadanya) namun saya bisa mengerti semuanya. Perlahan tapi pasti, airmata yang tadinya hanya menggenang dihalangi oleh kelopak mata, tiba-tiba mengalir deras seiring cerita Kakek (yang masih dengan bahasa Jawa). Kakek mengenang sambil menangis, saya pun, cucunya, ikut membayangkan masa-masa sulit Papa sewaktu dulu sambil berlinang airmata.

Papa hidup dalam kesusahan. Bersekolah di tempat yang jauh, berbekal sepeda. Ah, tiba-tiba saya sangat merindukan Papa. Saya tahu, saya bukan anak yang baik yang penurut dan tidak pernah membangkang. Saya (saat muda) dulu saya banyak berbuat kesalahan. Maafkan saya, Papa. Saya tidak bisa memeluk papa lagi setiap hari, namun saya bersyukur mengetahui dari suara Papa bahwa Papa baik-baik saja di Indonesia. Saya rindu Papa. Secara taksadar, novel ini telah menghanyutkan saya ke dalam lamunan Papa. Maaf, anakmu ini tidak bisa (begitu) membanggakan. Anakmu ini tidak bisa bekerja setelah lulus dari Unpad. Anakmu ini hanya ingin menjadi ibu rumahtangga yang mengasuh sendiri anak-anaknya dengan tangan dan kasihsayangnya, seperti halnya Mama.

Iis sebentar lagi pulang, Pa. Iis kangen sama Papa, Mama apalagi. Sehat-sehat, ya, di rumah :)


No comments :

Post a Comment

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^