Cara Membayar Ongkos Bus yang Unik di Suly

4.16.2013

Naik bus? Sungguh, setahun lebih saya tinggal di Suly, nggak pernah sekali pun naik bus. Kepikiran, sih, pernah. Tapi untuk benar-benar naikinnya? Eits, pernah juga, sih. Cuma, waktu itu kan nyewa bus untuk ke Erbil, bukan yang sengaja naik untuk rute dalam kota Suly.


Kemarin, Sabtu (13/4), saya sekeluarga mencoba naik bus. Bukannya apa-apa, saya memang penasaran dan kebetulan biar anak-anak kenal bus juga. Selama ini mereka cuma tahu bentuk bus tapi nggak pernah tahu apa rasanya naik bus. Kasihan, ya? :D

Kami naik bus menuju pasar, sehabis bertandang ke rumah Bu Yeni, salah satu teman baru saya juga di Suly. Beliau bukan TKW seperti Mbak Budiwartini atau Bu Farida, tapi semacam relawan. Yak, relawan yang membantu orang-orang Kurdistan sejak masa penjajahan Saddam.

Kami diantar ke tempat halte bus dekat rumahnya, lumayan jauh terasa karena jalanannya menanjak. Begitu dapt bus yang dicari, kami langsung naik dan beliau menyarankan supaya jangan duduk dekat pintu karena kami akan kebagian operan ongkos. Saya nggak menegerti sebenarnya tapi saya ikuti aja sarannya.

Sopir pun naik dan nggak lama kemudian bus jalan. Satu per satu penumpang mengoper lembaran seribu pada kami, lalu kami mengoper kembali ke penumpang yang duduk di depan kami. Kemudian penumpang di depan kami mengoper kepada penumpang yang duduk di sebelah sopir untuk diberikan pada sopir bus. Begitulah cara pembayaran ongkos bus di Suly. Cukup unik, ya?

Dan nggak lama setelah kami membayar, bus berhenti sebentar. Ternyata sopir kami menukar uangnya pada salah satu sopir bus lain yang juga berhenti dari arah berlawanan. Lalu, setelah bus jalan kembail, diopernya lagi uang lembaran ID 250 kepada penumpang di sebelahnya, kemudian dioper lagi kepada penumpang di depan kami. Penumpang tersebut mengoper lagi kepada penumpang di sebelah kami. Itulah uang kembalian mereka. Benar-benar unik!

Bus berhenti mengambil penumpang yang sudah menunggu di halte lain. Penumpang tersebut naik dan duduk di belakang kami. Nggak lama, uang lembaran seribu dinar dioper kepada kami untuk kami oper ke depan agar sampai ke sopir. Kemudian sopir memberikan kembaliannya dengan mengoperkan kepada penumpang sebelahnya lalu dioper ke penumpang depan kami terus sampai kepada suami saya. Dan akhirnya suami saya mengoperkan uang tersebut kepada si empunya kembalian.

Hihihi, sepanjang oper-operan, saya terus tertawa karena merasa aneh dan lucu dengan cara pembayaran ongkos bus di sini. Kalau saja kemarin itu saya nggak naik bus, saya nggak bakalan tahu ada metode seperti ini di dunia. Nggak ada kernet bus, nggak ada tiang untuk memasukkan uang/ koin, nggak ada tiang untuk menggesek tiket juga.

Seorang pria mengoper uang pada penumpang sebelahnya. Foto saya ambil dari sini.

Kami turun di pemberhentian terakhir yaitu terminal. Syukurlah, saya kenal dengan lokasinya karena sehari sebelumnya saya ke sana untuk mencari ikan laut bersama Mbak Gita dan Mbak Budiwartini.

Nggak usah bandingin sama bus kota di Jakarta, ya. Hehehe. Gimana pun juga, Jakarta tetap dirindukan. Nah, di tempat kalian, gimana cara membayar ongkos busnya?

5 comments :

  1. Hehehe. Lucu juga ya, Mak. *ngebayangin*
    Di sini, mah, seperti biasa. Kasih ongkos bus ke kenek atau sopir. :) Tfs, Mak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, mak. lucuuuuu dan unik. baru kali ini tau metode begitu. dan iya, jujur yang paling utama, sih. :)

      Delete
  2. hihihi, lucu. untung ga ditilep duitnya. :D
    di jepang bayarnya pake mesin, Mak. naik lewat pintu belakang, ambil tiket di mesin. tarifnya nanti keliatan di monitor depan. kalo mau turun pencet tombol. trus turunnya lewat pintu depan, tiket sama uangnya masukin ke mesin yg ada di samping supir. klo ada kembalian, uang kembaliannya keluar otomatis (untuk recehan). klo uangnya gede biasanya supir yg ngasih kembaliannya. Jepang praktis ya? tp di kota saya bisnya gratis, Mak. turunnya cukup bilang "Arigatou gozaimasu". ^_^

    ReplyDelete
  3. Salut atas kejujuranny... kpn y bisa naek bis sprti itu

    ReplyDelete
  4. btw mba, ini metodenya mirip angkot elf jurusan bekasi - cikarang atau uki - cikarang loh,

    jadi uangnya dioper ke salah seorang penumpang yg mau kordinir aja, nanti pas diitung udah pas sama jumlah penumpang baru dioper ke supir, nah kalo emang butuh kembalian nanti tinggal bilang sama supirnya, gitu, hihihi unik juga yaahh

    ReplyDelete

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^