Prompt #14: Menunggu Salju

6.05.2013

Devon telah berminggu-minggu menunggu salju turun. Ia ingat benar Ayahnya akan datang begitu salju turun. Entah kenapa, ia merasa musim dingin kali ini terasa begitu panjang.

Angin berhembus kencang. Dari arah jendela terdengar denting es yang terempas dengan kencangnya melawan kaca. Devon mendengar dengan tajam, dan kemudian ia berhenti bergerak sejenak. Rupanya hujan es sedang mengguyur desanya.

Devon tersenyum ketika dibukanya gorden dan didapatinya beberapa es mendarat di kaca jendela. Dipakainya sweater, sarung tangan, syal, coat, kaus kaki tebal, dan boot yang telah disiapkan di samping pintu depan.

“Mau ke mana dingin-dingin begini?” tanya ibunya.

“Ibu, aku mau lihat salju!” aku berbohong.

“Salju belum turun, hanya hujan es.”

Namun Devon tak percaya pada Ibu. Ibunya telah berulang kali berbohon. Natal tahun kemarin, Ibu bilang Santa akan datang pukul dua belas malam. Maka sepanjang malam itu Devon tak bisa tidur demi menunggu Santa. Kemudian ibunya bilang bahwa Santa akan datang ketika ia tertidur, agar ia mau tidur malam itu.

Kali ini, ibunya bilang bahwa hujannya hanya es saja, bukan salju. Namun Devon tetap membuka pintu. 

Wusssh... Angin kencang hampir melempar tubuhnya sebelum akhirnya ia tutup kembali pintunya.

“Tidurlah, ketika salju turun akan Ibu bangunkan,” ujar Ibu sambil mengecup keningnya.

Devon menunduk. Ia menuruti perintah Ibu. Ibu mengantar ke kamarnya lalu membukakan semua perlengkapan yang masih menempel di badannya. Devon terdiam dan kecewa menunggu salju datang.

“Bu, Ayah pernah bilang, Ayah akan datang ketika salju turun. Ibu jangan berbohong lagi, ya! Aku ingin bertemu Ayah malam ini.”

Tiba-tiba mata Ibu berkaca-kaca. Ah, Ibu menangis! Devon merasa menyesal telah membuatnya sedih.

“Sayang, Ayah akan datang bersama Santa malam ini. Tapi kamu harus tidur. Ayah pasti datang membawakanmu hadiah.”

“Kenapa Ibu menangis?”

Ibu menarik napas panjang. Dilihatnya bingkai foto keluarga di samping kasur Devon.

“Ayah sudah bersama Tuhan sekarang. Ayah sudah tidur panjang, dan Ayah takbisa dibangunkan lagi. Ayah hanya bisa mendatangi kita lewat mimpi. Maka itu setiap malam Ibu selalu berdoa agar kita bisa bertemu dengan Ayah dalam mimpi kita.”

Ia yakin ibunya tidak berbohong kali ini. Dan ia baru mengerti sekarang, bahwa orang  yang telah dikuburkan tidak akan pernah kembali lagi ke rumah. Devon memeluk ibunya dengan erat sambil menahan tangis.

“Menangislah, Nak. Kamu memang laki-laki, tapi jika kamu rindu Ayah, tak ada salahnya menangis karena kehilangannya.”

Malam itu, butir-butir salju turun perlahan kemudian menyelimuti desa. Devon pun tertidur di samping Ibu.

Dok. pribadi Mama Nisa

388 kata

14 comments :

  1. Jadi inget lagunya mba Latree. "Ibu, Bapak dimana?" Sedih

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya suka lagu itu.. hehe ini blog makin kesini makin asikk dehh my fava juga ungu :)

      Delete
    2. @noe: aku ga tau lagu ituuuuu... *buka soundcloud*

      @mak hana: hihi, hasil didikan mak SHinta ries inih! oke punya, ya! :)

      Delete
  2. mbak ceritanya sedih, tulisan mab kerennn ajarin donk :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. huaduuuh, keren darimananya? orang ga aku dandanin kok :p

      Delete
  3. huhuhuhuhu tetiba galau waktu sampe sini :(

    ReplyDelete
  4. Ceritanya sedih tp kerem banget Mbak..

    ReplyDelete
  5. Enak nih dibacanya. Jadi ngebayangin salju :)

    ReplyDelete

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^