Badai Salju di Suly

2.04.2014

Beberapa hari belakangan ini cuaca memang lagi nggak stabil. Dua hari ini angin kencang melanda. Padahal sebelumnya cuaca cerah, meski suhu masih di bawah 15 derajat Celcius. Bahkan saya sempat keluar cuma pakai sweater aja, anak-anak juga. Hebat! Hahaha.

Hari ini, bukan cuma angin aja yang datang kencang. Menurut perkiraan cuaca, malam tadi seharusnya salju turun. Tapi waktu pagi-pagi tadi saya bangun, saya nggak liat ada salju di halaman. Kebetulan saya tinggal di lantai bawah, jadi bisa dengan mudah ngeliat keluar.

Dua hari ini, setiap saya antar Mas I'am sekolah, harus berjuang melawan angin yang dahsyat. Masalahnya, arah angin dari sebelah kanan, dari gunung. Sementara saya harus keluar gedung dan menuruni anak tangga ke tempat parkiran apartemen harus menahan tubuh dan Mas I'am supaya nggak ikut terbang terbawa angin. Susah? Iya. Pake banget. Kalau berhenti, maka kami akan terlempar. Jadi kami harus berlari sambil menjaga berat tubuh agar jangan ringan.

"If we don't run, we will fly!"


Itu yang saya ucap pada Ibu teman anak saya ketika kami selesai menaikkan anak-anak kami ke dalam bus. Saya dan beliau bergandengan sambil berlari menuju apartemen. Menaiki anak tangga dengan berlari dan posisi tangan saya melingkar pada lengannya. Padahal, sebelumnya, kami baru sekali bertemu dan itu pun nggak banyak bicara. 

Betapa musibah dapat menyatukan kami berdua. Ketika kami sama-sama khawatir terhadap keadaan anak-anak kami, kami harus tetap kuat di depan mereka.

Siang tadi, sekitar pukul 10.38 am, angin kencangnya membawa butir-butir salju yang ikut beterbangan. Bahkan saya nggak tahu kalau salju turun saking kencangnya angin. Begitu saya ke balkon kamar, barulah keliatan kalau salju sedang turun. Saljunya kebawa angin, dan menumpuk di bawah.

Ini dari balkon dapur (belakang), angin dari arah kiri. Sekitar 10.40 am.

Ini dari balkon kamar (samping), saljunya terbang kebawah semua. Sekitar 10.40 am.

Siang, sekitar pukul 02.00 pm.

Ini juga sekitar pukul 02.00 pm.

Esnya sampai masuk ke dalam balkon kamar saya.

Dan, tadi siang, saya masih ketar-ketir nungguin bus sekolah yang belum datang-datang. Akhirnya saya ke lantai lima, ke tempat Ibu yang anaknya se-bus dengan I'am itu. Pantas aja selama ini dia kayak sombong, ternyata memang nggak bisa ngomong selain bahasa Kurdi, heheh. Syukurlah ada temannya, jadi saya tahu dari dia kalau bus sekolah nggak akan nganter anak-anak sampai orangtuanya sendiri yang datang menemput ke sekolah. Fiuuhh..

Alhamdulillaah. Legaaa banget rasanya, Plooong banget. Kebayang aja kalau saya sampai harus keluar menerjang badai sambil menggandeng Mas I'am dan tas sekolahnya, plus naik anak tangga yang jumlahnya hampir lima belas. Ya, Alloh! Pengen nangis rasanya. >_<

Dua tahun tinggal di sini, baru kali ini saya liat dan rasain sendiri yang namanya badai salju. Nggak kira-kira anginnya. Nggak kira-kira juga kencangnya. Saya rindu salju, tapi nggak pake badai kayak begini. Semoga badai cepat berlalu. Aamiin.


Video di atas saya ambil dari balkon kamar, ketika pukul 14.00-an pm, sebelum keluar mau jemput I'am. Sekitar pukul lima sore, suami saya dan I'am tiba di rumah. Alhamdulillaah, saya langsung meluk I'am. Mukanya sampe merah-merah kedinginan. Kasihan. :( Saya langsung bikinin teh dan sup.

Selagi makan, suami saya cerita. Mereka menumpang mobil Mas Jimmy (teman suami yang anaknya juga satu sekolah dengan I'am), tapi mobilnya pun nggak bisa naik (jalan menuju komplek apartemen kami menanjak), jadinya mobil diparkir di depan toko orang, kira-kira 1 Km dari komplek. Dari situ mereka semua jalan dan katanya di jalanan banyak mobil tabrakan karena jalanan licin. Ya, Alloh! >_<

*****

Yang pasti, jika kita dihadapkan dengan badai, kita harus lari menerjangnya. Bila berhenti, maka kita akan terlempar, dan otomatis semakin lama tiba di tempat tujuan. Malah nggak akan sampai-sampai. Persis seperti yang saya katakan pada Ibu teman anak saya tadi, "If we don't run, we will fly!"

Siapa yang tahu berapa lama badainya akan berhenti? Apa kita akan menunggu sampai badainya berhenti? Bagaimana dengan tujuan kita? Terjanglah badai, takperlu lihat kanan-kiri. Ingat pada tujuan awal, maka badai bisa kita lalui. 

Saat ini pukul 9.30 pm, dan di luar masih betah dengan badai saljunya. Semoga badai cepat berlalu. Aamiin. Ya, badai pasti berlalu. InsyaAllah. :))))

Video di bawah ini adalah milik stasiun televisi lokal yang diunggah hari ini lima jam lalu.


23 comments :

  1. Lam kenal ya mb, n ijin follow blognya..... Itu badainya mengerikan juga ya mb... Semoga cepat berlalu, n selalu diberi kekuatan dan kesehatan ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga, mbak. Makasih udah mampir.
      Alhamdulillaah sekarang udah berlalu badainya. ^_^

      Delete
  2. kalau kata Alm Chrisye "Badai pasti berlalu". Aamiin

    Serem juga ya, Mak. Dinginnya berasa sampai sini *Jakarta hujan terus* ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih udah mampir, Mak.
      Alhamdulillaah sekarang udah berlalu badainya. ^_^

      Semoga yang di Jakarta pun cepat berlalu ya banjirnya. Aamiin. :))

      Delete
  3. Ya Alloh maak, perjuanganmu!
    Tetep semangat ya maaak. Tapi i'am hebat masih masuk sekolah di tengah badai begitu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pas berangkat sih cuma angin2 kenceng aja, tapi serem juga sih. Badai saljunya baru muncul siang. Jadi I'am tetep kena badai juga pas pulang sekolah bareng papanya. :(

      Delete
  4. nggak heran, frase 'menerjang badai' pun juga ada di kalimat-kalimat untuk kehidupan. *ngomong apa sih ini*

    ReplyDelete
  5. Belom sampai salju aja kalau saya udah kedinginan, apalagi sampai ada salju ya? Semoga segera reda badainya, Mak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih udah mampir, Mak.
      Alhamdulillaah sekarang udah berlalu badainya. ^_^

      Delete
  6. Anakku Malah pingin ngerasain salju mak..duh..cepat reda ya badainya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih udah mampir, Mak.
      Alhamdulillaah sekarang udah berlalu badainya. ^_^

      Hihihi insyaAllah, kalau Allah mengijinkan, nanti sempat megang salju anaknya. Aamin. :)))

      Delete
  7. WIh di sini aja kalau suhuna nyentuh dibawah 25 udah dingin, bawaannya pengen leyeh-leyeh mulu Kalo di sana saya jadinya gimana, ya? Hmm, jadi kalau ada badai justru harus lari bukanya jeda sebentar ya *note, siapa tau kapan-kapan ke LN*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo ada tempat berteduh, silakan berteduh. Tapi karena waktu itu suamiku ga nemu tempat berteduh, dan orang2 malah berlomba-lomba untuk mencapai rumah, jadi lebih baik menerjang badai supaya cepat sampai ke tempat tujuan: rumah. Karena kan nggak tau badainya sampai berapa lama. Dan ternyata badainya terus hadir selama 2x24 jam. Bayangin aja kalo berteduh terus2an di luar ga samp2 ke rumah selama itu?

      Delete
  8. I'am dikekep terus biar gak keseret angin ya, Mba.
    Anginnya menakutkan. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, bukan I'am aja, Shaki juga, adiknya. Paling males makanya kalo udah pergantian musim begini angin ga kira2 dahsyatnya. >_<

      Delete
  9. brrrrrr dingin mak is, selimutan terus ya disana :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwkkwk. Ngga juga, Mak. Tapi yang pasti jadi jarang mandi. Hahahahah

      Delete
  10. Ya Allah... serem juga sih kalo badai seperti itu Mak.
    Semoga badainya gak berlangsung lama yaa....
    Salam buat I'am... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih udah mampir.
      Alhamdulillaah sekarang udah berlalu badainya. ^_^

      I'amnya lagi sekolah, nanti disalamin, Tante. Makasih, yaa... :)))

      Delete

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^