#TriptoDubai Day 1: Creek Park dan Restoran Wok It

6.11.2014

Bandara Internasional Dubai Terminal 2 kedatangan. Marhaba

Ini #latepost banget, deh. Tapi tetep saya pengin cerita di sini. Nggak papa, ya? Iya, Is. :D

Jumat pukul 2.30 dini hari, kami baru tiba di Dubai. Agak meleset dari jadwal karena seharusnya kami mendarat pukul 3.00, tapi entah kenapa ini lebih cepat setengah jam. Jadilah teman suami saya kelabakan menjemput kami yang udah menunggu di bandara.



Pose dulu selagi nunggu dijemput, hihi. :D

Sorenya, kami baru bisa jalan-jalan ke luar. Tujuan pertama adalah ke Creek Park. Ada taman khusus anak-anaknya juga, Children City namanya. Katanya, di sana tamannya luaaaas sekali. Kita bisa naik kereta mini, kelilingin Children City. Selain itu juga ada Dolphinarium, pertunjukan lumba-lumba pastinya, bukan garam yang merek lumba-lumba itu. :p

Sebelumnya, saya udah buat itinerary selama kami di Dubai nanti. Saya baca-baca blog-nya Mbak Arie, yang kebetulan beberapa waktu lalu baru aja ke Dubai mengunjungi suaminya yang kerja di sana. Sedikit banyak saya tahu beberapa tempat wisata yang bisa dikunjungi, juga dari hasil pencarian sendiri. Namun pada akhirnya jalan-jalan nggak sesuai rencana. Hahaha.

Dubai Creek dan Children City, Creek Park


Kami diantar oleh suaminya Mbak Arie sampai ke Dubai Creek. Dalam benak saya, saya langsung bertemu gate lalu ada taman luas di dalamnya. Ternyata, yang kami temui itu bukan Creek Park, melainkan creek-nya aja. Kayaknya ada yang miskom, nih. Hihihi. Sepanjang jalan hanya ada danau, yang bisa kami seberangi dengan perahu berbayar. Baiklah, mari kita foto-foto dulu, hehehe. 



Anak centil beraksi :D

Ada banyak perahu yang berlabuh dan berlayar di danau ini. Perahu-perahu ini disebut abra, kalau di kita mah getek kali, yak :D. Untuk bisa nyeberang danau naik abra ini cukup murah, kok. Per orang cuma bayar 1 Dirham UAE aja, sekali seberang. Jadi kalau mau pergi-pulang, ya dikali dua. Bayarnya sama nakhodanya, ketika perahu udah mulai jalan. Oh ya, anak-anak gratis!

Kesan pertama lihat abra, olala! Kita bakalan duduk di atas dudukan kayu yang ada di tengah itu, mengelilingi nakhoda, menghadap creek (anak sungai). Ngeri amat, ya. Nggak pakai pelindung apa-apa, nggak ada aling-alingnya di pinggir abra. Hokeh, mari kita merapal doa bersama-sama, mudah-mudahan anak-anak pada duduk anteng dan nggak rewel. Kan nggak lucu aja gitu tau-tau kesenggol terus kecebur. Saya ini nggak bisa berenang soalnya. -___-


Beberapa abra yang sedang berlabuh

Kami duduk di tengah, dekat dengan nakhoda. Satu buah abra hanya boleh menampung sekitar 18 orang; sembilan di kanan dan sembilan di kiri. Kalau kita serombongan pengin naik di satu abra, kita bisa membayarnya dengan sejumlah penumpang penuh, yaiut 18 Dirham UAE.

Sensasi naik abra ini cukup memanjakan mata, menyegarkan, dan sedikit menegangkan. Maklum sajah yah, di Suly nggak ada beginian (baca: danau), jadi saya bisa dibilang agak norak naik perahu-goyang dengan embusan angin dan wangi parfum alami dari nakhodanya :D. Kita diberi pemandangan danau dengan latar belakang gedung kotak-kotak khas Timur Tengah dan gedung-gedung tinggi pencakar langit. Iya, Dubai itu kota yang maju. Jadi, nggak heran kalau nemu banyak gedung-gedung tinggi seperti di Jakarta.

Creek ini sendiri dikenal sebagai pemersatu yang lama dan yang baru, the old and the modern. Creek adalah anak sungai pemisah antara kota Deira dan Bur Dubai. Pada zama dulu, creek ini digunakan sebagai pelabuhan para pedagang. Dan nyatanya, sampai sekarang pun, di area pinggiran creek sebelah Bur Dubai masih digunakan sebagai pelabuhan perahu-perahu kecil dan sedang, yang memuat barang dagangan.

Pemandangan dari atas abra, menghadap ke sisi Deira.

Abra segera berlabuh ke sisi Bur Dubai.

Tiba di sisi Bur Dubai. Itu ada beberapa kapal muat barang.

Abis nyeberang, kita jalan dong menyusuri pinggiran creek. Berharap ketemu yang namanya Creek Park sambil nyari taksi kali-kali aja bisa nganterin kita ke sana, karena pas kita liat peta (oh yes, thank's to google map) kita masih jauh dan ada di arah berlawanan. Saya sempat marah ke suami karena rada sotoy, hahaha. Tambah lagi si I'am yang kecapekan, minta gendong. Duuuh, ini pengin jalan-jalan kok jadi begini, ya? Mana saya pake boots hak tinggi, tau gitu ke mall aja, deh, nyari sendal! :(

Akhirnya kita bisa dapet taksi setelah jalan sejauh kurang lebih 1 KM. Tadinya udah pengin nyeberang jalanan aja tapi kok liat mobil-mobilnya pada kenceng bingit, jadi batal. Syukurnya kami nggak jadi nyeberang sembarangan. Di Dubai, kalo mau nyeberang kudu di zebra cross. Kalau sembarangan, kita bakalan kena denda sebesar 200 dirham, atau setara dengan 600 ribu rupiah. Peraturan ini berlaku untuk semua orang yang ada di Dubai, tanpa terkecuali. Misal saya kena, saya juga harus bayar denda. Kalau udah tiga kali kedapatan nyebrang sembarangan, dideportasi! Duh, nyesek!


Tempat pembelian tiket dan pintu masuk arena Children City, Creek Park, Dubai.

Sekitar pukul 18.00 waktu UAE, kami tiba di Children City, Creek Park. Oh, akhirnya! Anak-anak langsung girang lagi, hilang capeknya. Karena masih bingung, jadi belum tahu mau ngapain aja di Children City. Barulah setelah anak-anak puas main odong-odong (yaelah jauh-jauh ke Dubai naiknya odong-odong), suami keingetan kita mau ke Dolphinarium. Dan, jadwal terakhir di hari itu adalah, pukul enam sore. Yuuuk.


Ada kereta mini yang bisa ajak pengunjung keliling Children City, tapi cukup mahal bayarnya. Per orang dikenai biaya 30 Dirham. Yuuk, mareeee. Lalu beralih ke mainan lain. Ada juga delman, loh! Tapi delmannya persis kayak yang di dongeng-dongeng. Kereta kuda yang tempat duduk buat penumpangnya tinggi, cantik sekali. Saya juga membatin, ini pasti mahal bayarnya :D.

Karena udah kebingungan mau ngapain lagi, eh ketemu semacam go-kart yang dikayuh kayak sepeda. Jadi, apa namanya, dong? Ada beberapa pilihan go-kart; untuk satu kursi, dua kursi, empat kursi, atau bisa digabung dua go-kart yang berkursi dua atau empat. Anak-anak langsung duduk dengan gembiranya di salah satu go-kart berkursi empat, sementara suami saya antre untuk membayar uang sewa. Antreannya panjang, petugasnya cuma satu; untuk pendaftaran dan pembayaran/pelunasan sewa go-kart.


Cukup rumit untuk nyewanya. Penyewa harus membayar uang DP sekian Dirham (lupa detilnya), dan ketika sudah selesai harus melunasi sisa sewaannya. Untuk satu jam dikenakan tarif sebesar 40-an Dirham, nggak boleh lewat semenit pun. Duh, yang ini tarifnya juga lupa-lupa inget. Nggak tau tarifnya untuk per kendaraan apa per orang. Fyi, 1 Dirham itu sekitar 3100-an Rupiah. Mahal juga, sih, tapi lumayanlah bisa pakai setenga jam, sekeluarga. Puas, deh, kelilingan.

Oh, ya. Ketika kita bayar DP, resident card harus ditinggalkan. Duh, ribetnya! Saya kan turis, mana ada resident card UAE? Masak iya saya taruh paspor di situ? Nyari masalah! Akhirnya suami berinisiatif membayar full uang sewanya, nggak pake DP, jadi kami nggak perlu ninggalin paspor segala.

Tambahan lagi yang bikin ribet dan antrean panjang, petugas kasirnya cuma satu. Dia yang melayani pendaftaran dan pembayaran DP, dia juga yang melayani pelunasan uang sewanya. Bener-bener nggak efektif. 

Restoran Wok It 



Lapar melanda, dan jam udah menunjukkan pukul sembilan. Pantesan aja! Tujuannya adalah ke resto Wok It, resto Asia yang menunya 70% adalah menu masakan khas Indonesia. Beuh udah kebayang aja saya bisa makan tahu-tempe, martabak, bubur ayam, dan lain-lainnya.

"Selamat malam!" ujar pelayan lelaki menyambut ketika kami masuk.

Eh, speechless! Pelayannya orang Indonesia! Huaaa girangnya bukan main! Hakakkaka. Artinya, saya bisa pesan dan nanya-nanya pakai bahasa Indonesia, nggak perlu ribet-ribet mikir vocab :D. Dan, emang bener! Pelayannnya yang cowok-cowok itu orang Indonesia, tapi kalau yang cewek-ceweknya orang Filipina. Hanya saja, pelayan yang cewek ini cuma ngerti istilah-istilah Indonesia aja, jadi kalau kita pesan menu pakai bahasa Indonesia, mereka masih ngerti. Asal jangan ngajakin ngobrol pakai bahasa Indonesia aja, bisa-bisa pusing mereka! Hahaha.

Resto ini berlokasi di .... street, seberangnya Burjuman Mal. Restonya buka dari pukul sebelas siang sampai sepuluh malam. Syukurlah, kami masih bisa makan malam, walaupun I'am udah tepar begitu masuk resto langsung tiduran di kursi panjang. :(

Menu spesial: Martabak Telur dan Manis, Bubur Ayam. :)

Tahu goreng gini doang, bikin noraaaak! Rawitnya itu, looooh! :D

Iyah, saya tau ini es teh manis.
Saya emang norak, soalnya di Suly nggak pernah nemu orang jual es teh manis. :D

Tempe goreng tepung. Maknyoooosss! 

Batagor. Subhanalloh! Maka nikmat mana lagi yang kamu dustakan, Istiii? 

Yak. Itu tadi menu-menu appetizer yang saya dan suami pesan. Maklum, wong ndeso baru turun gunung, jadi semua-semua dipesan :D. Cemal-cemil, cemal-cemil, lalu datanglah menu utamanya. Saya pesan nasi kuning (lengkap dengan ayam goreng, perkedel, dan oreg tempe ples sambel), sementara suami pesan nasi goreng kampung. Sayang nasi gorengnya keburu dilahap, hihihi. Nasi gorengnya enak bener-bener enak kayak nasi goreng mamang-mamang yang suka keliling. Beuh, endeesss, deh! 

Hmmmm kalo sekarang diliatnya, nyesel udah mesen2 ini nggak diabisin. :|

Masih pengin ngerasain martabak, tapi sadar perut udah hampir meledak. Jadinya kami pesan martabak telur isi daging sama martabak manisnya untuk dibawa pulang. Yang padahal belum tau mau dimakan kapan, karena besoknya kami berniat ke Abu Dhabi. Huhuhu.

So far, makan di Wok It ini very, very recommended. Saya menyarankan kamu semua kalau sedang berlibur ke Dubai supaya mampir ke sini. Martabaknya sendiri, dibikin oleh chef khusus martabak terkenal yang ada di Bandung: San Fransisco. Orang Bandung siapa yang nggak tahu martabak itu? ^_^

Baiklah, hari pertama saya di Dubai ini cukup menyenangkan. Besok harus fresh lagi karena mau jalan jauh. Tunggu cerita saya di #TriptoDubai Day 2, yah. Saya ajak kamu jalan-jalan ke Abu Dhabi. Pertama, mengunjungi Grand Mosque yang terkenal, Sheikh Zayed Mosque. Lalu, ke mana lagi kalau bukan Ferrari World? Uhuuuuui! ^_^

32 comments :

  1. Mainannya sih sama aja dg disini ya mak. Tapi itu 3 kali nyebrang bisa kena deportasi? Wah mestinya di Jakarta gitu juga ya. Anakmu ngegemesin banget sih, kayak emaknya hihihiii... Kapan ya dapet kerjaan review dibayar ke Dubai ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mak. Kalo nyeberang sembarangan bakalan dideportasi. Suka ada polisi jaga2 soalnya, tapi nggak ketahuan sama kita. Hihihi. Hati2 sajalah pokoknya. :D

      Delete
  2. Abranya gak ngeriii ntuuuuuh...Mak Suly, kamu ma Shaki kerenan Shaki gayanyaaah..hehee,fotogenik pisan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngeri, Maaaak. Hahahha. Shaki emang lebih keren daripada emaknya. Lha gawat kalo emaknya yg keren, kan? :p

      Delete
  3. Asik bener..ahh
    klo 70% masakan Indonesia, berarti org Indonesia disana banyak jg ya mak :D *sok tau

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyes, bener bingit, Mel. Orang Indo banyak di sana.

      Delete
  4. Mba liputannya lengkap banget...top markotop :-)

    ReplyDelete
  5. Jiiaaaahhh makan tahu goreng aja sampai hrs ke Dubai mak hihihi :p
    Aahhh iri nih aku kmr cuma nangkring di airport ga bisa kmn2..cm transit 2jam :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwkkw. Maklumlah yah, secara di Suly nggak ada tahu ama tempe. :D
      Lain kali diatur lagi aja Mak biar bisa transit agak lamaan, seharian gitu, biar bisa jenjalan. :))

      Delete
  6. mbak.... jauh2 ke Dubai yg dipesan makanan Indonesia pula. hihi.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahhaha emang itu tujuan utamanya, Mbak. Wkwkwkkwkw.

      Delete
  7. ada batagor juga yaa....hmmm nyam nyam :D

    ReplyDelete
  8. cantiiik yaaa... dan foto makanan indonesianya ituuu yang bikin ngileeer heheee

    ReplyDelete
  9. Pas duduk ngeliatin tempe tempe mendoan, udah lupa sakitnya kaki yang jalan 1 kilo ya, Mak. :D

    ReplyDelete
  10. jadi namanya martabak bandung dong mak hehehe. Shaki sama bapaknya gayanya kembaran gitu di fotonya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi tetep martabak manis dan telur, kok. :)))

      Delete
  11. Suka sekali sama Dubaiiii. Saya cukup sering liat artikel-artikel "waw" tentang Dubai. Mauuuk!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Samaaaa! :)))
      Tapi Dubai mahhaaaaal. :(((

      Delete
  12. Kemana pun jalannya, jajanannya mesti Indonesia punya yah mak :D
    Gayanya Shaki yang di jembatan itu kereeeen bingiit mak (y)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haruuuss itu! Kan kitta masih cinta sama negeri sendiri. :)
      Hihihi iya yah... :D

      Delete
  13. Waahhhh ... keren abisss deh :)
    mbk Isti 'wawasannya sudah internasional ya ... saya masih regional, itupun kawasan Sumatra dan Jawa ... pernah 1x ke Makasar ... hihihi :P

    Alamakk ... kalau sembarangan nyebrang, kita bakalan kena denda +/-600 ribu rupiah ...duit kan itu? :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oo ya mbk Isti, 1x ke Medinah dan Mekah ... (terpaksa disebut deh, was2 gak mabrurah ... :)

      Delete
    2. Ah, kebetulan aja ini mah dikasih kesempatan sama Allah untuk ngeliat keindahan sisi lain dunia kita. :))

      Delete
  14. Liat maemannta lafarrrrrrr
    hasyekkkk yag lagi jalan2

    ReplyDelete
  15. Maaf ya mak baru mampir.. simati suri akhirnya datang ke blogmu. Mak sebetulnya di dubai ada sekitar 4 resto indo.. trus toko indo juga ada dan kesemuanya lumayan enak. Nah klo di AD ada 2 resto kesana gak?

    ditunggu lagi ya ke AD nya moga gak kapok

    ReplyDelete
  16. ihh waktu kmrn ke sana ga tau kalo ada resto ini, padahal aku nginepnya di apartemen om dan tante yang letaknya persis di belakang burjuman mall :((

    ReplyDelete

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^