[Review Buku Cerita Anak] Taman Pelangi

3.12.2018


Sekitar dua bulan yang lalu, saya dapat buku cerita anak yang judulnya Taman Pelangi. Ada 25 cerita di dalamnya yang menceritakan tentang keseharian dalam masing-masing keluarga. Oh, ini saya pikir ini pas sekali dibacain buat anak-anak. Secara, ya kan, saya baru aja pindah ke Jakarta dan anak-anak baru ini punya tetangga. Jadi cocok deh buat mereka.


Benar aja. Cerita-cerita di dalamnya bukan hanya cocok untuk anak-anak, tapi juga saya. Salah satunya cerita "Left Handed". Saras diceritakan kidal dan dia bersusah payah belajar menulis menggunakan tangan kanan di rumahnya karena selalu diejek, "Kidal...," oleh teman-teman di sekolah. Namun usahanya tak membuahkan hasil. Kemudian Saras bertemu dengan Tante Nita, tetangganya yang ternyata seorang penulis buku! Saras dihadiahi banyak buku oleh Tante Nita. Dan karena Tante Nita penulis buku-buku tersebut, Saras meminta tanda tangan Tante Nita di buku tersebut. Tak disangka, Tante Nita menanda tanganinya dengan tangan kiri! Tante Nita kidal!

"Ih, kok kamu makannya pakai tangan kiri? Kidal, ya?" 

Saya jadi ternginang-ngiang kalimat tersebut. Saya punya teman kost laki-laki dulu yang selalu menggunakan tangan kirinya untuk melakukan kegiatan apapun. Saya melihatnya saat sedang makan dan terucaplah kalimat seperti di atas tadi. Teman saya hanya tersenyum. Lain lagi ketika sedang bermain basket, teman saya itu juga menggunakan tangan kirinya untuk men-dribble bola. 

Saat itu, saya tidak tahu yang sesungguhnya. Saya hanya tahu kalau dia itu kidal. Benar-benar kidal. Sampai akhirnya, saya perhatikan tangan kanannya yang selalu disembunyikan di belakang punggung saat men-dribble bola.

Ternyata tidak ada jarinya! Ugh, perasaan saya berkecamuk. Campur aduk. Perut langsung mual karena memikirkan perkataan saya tempo hari ketika melihatnya sedang makan pakai tangan kiri. Andai saja saya tahu sejak pertama bertemu, pasti saya tidak akan nge-judge teman saya begitu.

Memang kasusnya beda, sih, dengan cerita yang di buku Taman Pelangi. Tapi, entah kenapa saya merasa bersalah aja setiap lihat orang yang kidal kemudian teringat dengan teman saya itu. Rasa-rasanya kurang pantas melabelinya dengan "kidal". Mereka yang kidal dan teman saya itu, sama-sama tidak ingin menjadi berbeda. Saya juga mengerti pasti mereka sudah susah payah belajar menggunakan tangan kanan di rumah, tapi ternyata tetap tak bisa. Ah, sungguh memalukan sayanya.

Tentang Taman Pelangi




Membaca buku Taman Pelangi, mengingatkan saya dengan kenangan-kenangan masa kecil saya. erita "Rumah Gaduh" yang menceritakan tentang keluarga yang memiliki anggota 10 orang dan "Si Mogi" yang menceritakan tentang anak semata wayang, membuat saya sedikit flashback. Dulu, rumah saya terbiasa ramai karena beranggotakan 8-10 orang. Setiap malam, saya merasa tidak ada yang berbeda sampai suatu hari teman saya nyeletuk, "Rumahmu seperti ada kebakaran, Is. Ramai sekali!" Hahaha.

Keadaan inilah yang membuat saya suka iri dengan teman sebelah rumah yang keluarganya hanya hanya berempat saja. 

Cerita-cerita di dalamnya merupakan keseharian yang mengajak anak-anak untuk tidak berburuk sangka pada orang lain. Bahasa yang digunakan pun menurut saya masih mudah dimengerti, kecuali untuk I'am, yang harus saya beritahu dulu padanan Bahasa Inggrisnya semisal 'menjabat' dalam padanan 'menjabat tangan', atau 'berpandangan' dan 'menimbun' yang juga ternyata belum dipahami. Tapi tetap aja nggak mengubah jalan cerita, dan dia masih menikmatinya. Plus-nya, anak-anak saya juga bisa langsung menerapkan seperti pada cerita "Dilarang Menimbun Barang!"

Selain ceritanya mudah dimengerti, ilustrasinya pun sederhana. Yang paling saya suka, nggak ada kesan menggurui di setiap ceritanya. Mbak Laras Ayu sebagai pengarang berhasil membuat cerita yang inspiratif. :)

Keterangan Buku

Judul buku: Taman Pelangi - Kumpulan Cerita Inspiratif
Pengarang: Laras Ayu
Ilustrator: Indra Bayu
Penerbit: PT. Elex Media Komputindo
Harga: Rp 82.000,-

4 comments :

  1. Ceritanya bagus kayaknya, mengajarkan sejak kecil agar tidak mudah berburuk sangka, yg mana sekarang kayaknya urgent bgt hal ini ...

    ReplyDelete
  2. Tidak berburuk sangka kepada orang lain, bagus sekali diajarkan kepada anak sejak kecil. Anak2 akan tumbuh menjadi pribadi yg bijak.

    ReplyDelete
  3. Aku juga punya buku iniii, dab anakku suka banget isi cerita2nya

    ReplyDelete
  4. Temenku ada yg kidal pinternya puoool.

    ReplyDelete

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^