Jam Tangan Kesayangan

8.25.2018


Kalau mau pergi-pergi tuh, apa yang nggak bisa ketinggalan selain hal krusial seperti dompet dan handphone? Kalau saya, jam tangan. Kayak ada yang aneh gitu ya, kalau jam tangan nggak melingkar di tangan? Eh, itu sih saya. Mungkin begitu juga buat temen-temen semua yang penggemar jam tangan. Tenang, saya di sini bukan mau iklan jual jam tangan wanita, lho ya. Hehe.

Btw, soal jam tangan, sebenernya ada aturan baku nggak sih untuk letaknya? Saya sendiri sukanya pakai jam tangan itu di tangan kiri. Nggak tahu kenapa ya, kayaknya sih keliatan lebih feminin aja. Padahal mah enggak ada hubungannya. Nah, beda dengan suami saya. Meski dia bukan termasuk penggemar jam tangan, tapi kalau pas lagi pengin pakai, biasanya pakai di tangan kanan.

Jadi, gara-gara ini, saya penasaran banget. Nah, faktanya, memang nggak ada aturan baku mengenai letak jam tangan, di kanan atau di kiri. Cuma, karena rata-rata kita beraktivitas lebih banyak menggunakan tangan kanan, jadi biasanya pakai jam tangannya di tangan kiri agar lebih mudah. Satu lagi, tuas pengatur jarum jam jua kan adanya di sisi kanan jam ya, nah itu juga jadi lebih memudahkan kita mengaturnya kalau posisi jam ada di tangan kiri.


Nah, itu tadi sih penjelasannya Pak Stephen Charles dari Parkers Jewelleres, spesialis jam tangan vintage dan pre-owned. Emang nggak ada aturan baku, tapi yang biasanya ya begitu.

Anyway, udah berapa lama ini saya nggak pakai jam tangan. Nggak sengaja banget, jam tangan kesayangan yang sering saya pakai itu, jatuh. Biasanya jam tangan saya yang ini kalau jatuh itu tahan banting banget. Nggak mudah rusak, juga nggak mudah pecah. Sayang, jatuh yang terakhir kali langsung pecah talinya. Jam yang putih ini berat, karena materialnya terbuat dari keramik. Tapi bukan materialnya itu yang bikin jam tangan ini jadi kesayangan saya. Jam tangan ini pemberian dari seseorang yang sangaaat baik sekali sama saya. Saya pernah cerita tentang beliau di posting-an IG saya, kalau beliau ini suka membantu saya selama tinggal di Suly dulu.

Sambil nunggu diperbaiki, saya jadi keingetan kayaknya belum pernah beli jam tangan online. Soalnya selama ini kan punya jam tangan kalau nggak beli langsung, ya pasti dikasih hadiah. Saya jadi keingetan teman saya yang jual jam tangan wanita, tapi pas saya hubungi dia lagi libur dulu jualannya. Baiklah, saya cari-cari deh di Google yang jual jam tangan wanita, dan saya pilih yang muncul di atas: Matahari Mall. Karena baru pertama kali milih-milih via e-commerce gini, saya harus selektif banget. Eh, ada yang mirip-mirip kayak punya saya yang talinya rusak itu. Kalau dilihat dan dibaca deskripsinya, sepertinya sama dengan yang punya saya. Cuma pada beda brand-nya aja, sih.


Wow, ternyata harganya sejutaan juga. Mahal, nggak, sih harga jam tangan segitu? Sampe sejuta? Tergantung, sih, ya. Kalau gaya hidup kita nggak cukup untuk beli jam tangan harga sejuta, ya berarti jam yang saya pilih tadi mahal. Tapi, kalau gaya hidup kita memang lebih dari cukup untuk beli jam tangan harga sejuta, ya jam yang saya pilih tadi mah nggak ada apa-apanya! Tetangga saya dulu, lho, beli jam tangan yang harganya 60 juta! Tapi doi biasa aja makenya. Nggak pamer-pamer. Berarti emang gaya hidupnya cocok dengan jam tangan harga segitu. Lah kalo baru beli jam tangan harga sejuta aja udah sombong, itu mah OKB kayaknya! 😅

Tapi saya sendiri nggak tahu harga jam tangan kesukaan saya itu berapa harganya. Mau murah atau mahal, saya tetap paling sayang sama yang putih. Karena ada kenangannya. 😇

No comments :

Post a Comment

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^