[Tips] How to Start Travel Blog

5.02.2018


Seminggu yang lalu saya ikutan workshop yang temanya baguuusss sekali. Biarpun jadwalnya dempetan sama workshop fotografi yang saya ikutin sehari sebelumnya, saya tetap daftar karena pematerinya adalah Koh Deddy Huang.

Di dunia per-blogging-an, siapa, sih, yang nggak kenal travel blogger satu ini? Kalau ada yang nggak kenal pastilah dia masih newbie. Hehehe. Bukannya apa-apa, Koh Deddy ini, sapaan akrabnya, udah malang-melintang di dalam dan luar negeri, juga sering kali memenangkan lomba macem-macem sampai akhirnya sekarang, baru-baru ini aja, menang lomba Kerala Blog Express 5. Mancap, kan?



Dari sharing-nya doi kemarin itu, saya jadi ngerti, kalau travelling ga perlu jauh2. Bahkan kalau cuma ke pasar sekali pun, itu bisa jadi something new. Bisa djadiin konten. Hehehe. Gimana tuh ke pasar bisa jadi konten? Saya jadi inget posting-an saya tentang pasar di Suly beberapa tahun kemarin. Saya senang sekali jalan-jalan ke pasar di sana karena pasarnya bersih, dan saya masih suka get amazed aja sama keadaan di sana. Saking amazed-nya, saya sampai bikin beberapa posting-an pasar di blog yang isinya banyakan fotonya. Hehehe. 

Baca:

Yuk kita bahas satu-satu aja gimana caranya memulai blog perjalanan, atau bahasa kerennya, how to start travel blog.

Jalan



Gimana mau bikin konten blog kalau kitanya aja nggak rajin jalan? Rajin jalan di sini maksudnya nggak musti jalan jauh yang harus beli tiket segala. Kayak yang udah saya cerita di atas tadi, jalan ke pasar pun bisa dijadiin konten di blog.

Pernah nggak kalian pas lagi jalan pulang kerja, misalnya, ketemu hal-hal yang menarik? Yang menarik tentu aja relatif ya. Saya ambil contoh KRL. Buat saya yang nggak pernah jalan naik KRL sendirian, ketika kemarin nyobain jalan sendiri naik KRL, itu rasanya sangaaaat istimewa. Buat saya itu menarik. Saya suka merhatiin orang-orang yang sibuk di kereta. Ada yang sedang berdiri tapi sibuk menyentuh layar handphone, ada yang sepertinya masih mengantuk sehingga tertidur di kursi tanpa peduli kanan-kiri, ada pula yang matanya membaca rute perjalanan di atas pintu kereta.

Nah, dari situ aja ternyata bisa, ya, kita buat satu posting-an blog? Mungkin kalau saya panjangin lagi tulisannya sesuai dengan yang terjadi saat itu, bakalan bisa lebih menarik lagi. Bayangin aja kalau jalannya yang jauh, ke luar kota atau luar negeri, mungkin bisa jadi posting-an blog yang berseri.


Tulis!



Pemandangan di dalam kota Sulaymaniyah ketika summer.

Kalau lagi jalan, sebisa mungkin langsung tulis apa yang kita lihat, rasa, dan dengar. Jadi, kata Koh Deddy, itu kuncinya supaya tulisan kita bisa ada nyawanya. Kayaknya saya ngerti, deh, ke mana arah  tujuan pembicaraan si Kokoh. Itu, coba, deh, dibaca link yang saya bagi di atas, yang tentang pasar. Itu posting-an semua kayak nggak ada nyawanya, deh, menurut saya sendiri sebagai penulisnya 🙈. Sebenernya, waktu itu saya cuma pengen share foto-fotonya aja, kok. 😅

Tulisan saya tadi itu, biarpun nggak ada nyawanya, tapi masih ada personal touch-nya. Karena kata Koh Deddy itu yang paling utama dalam travel blog: personal touch. Sekali pun posting-an bersponsor, harus ada sisi personal touch dari penulis, dari kita. Dan yang ketiga, kasih info yang bermanfaat seperti unsur berita 5W1H.

Info yang bermanfaat itu bisa seperti ongkos tiket atau harga hotel yang kita pakai. Kan bete, yah, udah baca posting-an blog orang panjang-panjang tapi kita nggak dapet informasi apa-apa mengenai hotel yang dia tulis. KZL.

Selain ongkos, tulis juga rute yang kita lewati. Jadi pembaca nanti ada bayangan misal rute yang kita lewati itu berbahaya atau terlalu lama, mereka mungkin bisa mencari alternatif lain. Satu lagi, kalau misalnya ketemu orang baru, sebisa mungkin kita catat namanya. karena dari orang baru inilah, biasanya kita dapat cerita-cerita yang nggak akan bisa didapati di blog orang lain.

Gimana caranya bisa menulis yang bagus? 


Kata Koh Deddy ini mudah, kok. Kita bisa  mulai belajar menulis caption di Instagram dan Facebook. Nah, kalau nulis di IG dan FB mah gampang, ya? Kayaknya nggak perlu mikir yang segitunya amat sampai mandeg di draft berhari-hari, ya kan? IG dan FB biasanya spontanitas ekspresi kita di saat itu. Jadi bisa sekalian dipraktikkan, tulis apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan.

Gimana kalau travelling-nya udah lama? Misal udah dari setahun yang lalu, tapi belum ditulis juga, apa masih bisa relate dengan kondisi saat ini?


Koh Deddy jawab: TULIS!

Tulis aja. Dengan catatan, kasih tahu ke pembaca kalau kita melakukan perjalanannya itu sudah lama, sudah sekian bulan yang lalu, atau sekian tahun yang lalu. Kalau kita travelling lagi ke tempat itu lagi, mungkin bisa dijadikan bahan posting-an yang bagus tentang perbandingan tempat tersebut pada tahun sekian dan saat ini. Yang penting kita jujur, dan pembaca nggak merasa dibohongi kalau misalnya ternyata tempatnya udah berubah nggak sesuai dengan yang kita share di blog.

Baca!



Perjalanan dari Sulaymaniyah menuju Erbil, ibukota Kurdistan.

Untuk mendukung kita dalam rangka menulis konten yang baik di blog, ada baiknya kita sering-sering membaca. Baca apa aja yang menurut kita bermanfaat dalam menulis catatan perjalanan. Kalau kita suka menulis yang ada selingan humornya, nggak ada salahnya baca-baca blog Komedian atau novel-novel yang komedi. Kalau kita lebih suka yang serius dan mendalam, ada baiknya kita membaca novel-novel yang mendukung juga untuk memperbanyak kosakata dalam menulis.

Gimana, udah kebayang belum untuk nulis posting-an travel blog-nya? Kata Koh Deddy, yang penting itu jalan ke mana aja untuk mendapatkan konten. Rekam semua momen yang didapat ketika jalan, kemudian tulis. Nanti, karena sudah terbiasa menulis, lama-lama bsia dapat feel-nya. Nah, untuk merekam, apa aja yang direkam? Ada banyak yang bisa kita rekam ketika jalan, yaitu kuliner lokal, tradisi lokal, budaya lokal, kearifan lokal, nightlife, juga pesona alam.

Bikin Momen Ketika Travelling


Supaya travelling-nya nanti nggak saltum alias salah kostum, ada baiknya kita bikin momen selama di sana. Maksudnya gimana? Gini. Pernah kan, pas lagi jalan-jalan ke kota mana gitu kitanya pakai baju yang paling ternyaman (baca: kaos dan jeans plus sneaker) padahal ternyata di tempat tersebut lagi ada perayaan yang mana semua warganya pada pakai baju yang rapih-rapih? Ini kejadian di saya.

Saya dan teman WNI di Kurdistan yang ternyata saltum banget 🙈

Waktu lagi musim liburan Newroz, hari rayanya suku Kurdi, saya jalan-jalan ke sebuah danau di Kurdistan. Seperti biasa, saya dan suami ya pakainya baju casual aja; kaos, celana jeans, dan sepatu kets. Santai banget lah pokoknya. Nah begitu sampai di danau, ternyata banyak warga Kurdistana yang lagi piknik juga tapi dengan pakaian adat mereka; yang perempuan gamis warna-warni yang laki-laki jas lengkap. Ya saya mana tahu, kan? Kalau pun saya tahu, paling engga saya bisa menyesuaikan pakaiannya nggak yang santai-santai banget lah, minimal gamis yang sama rapihnya dengan mereka. Nah, berawal dari situ lah, saya sekarang kalau pergi ke mana-mana berusaha selalu rapih dan nggak 'ngasal' bajunya, hehehe.

[Baca: Ada Danau di Kurdistan, Lho!]

Jadi, untuk bikin momen ini, kita harus cari tahu dulu ada apa di tempat tujuan kita nanti. setelah itu, kira-kira butuh nggak lensa yang panjang atau hanya lensa fix aja? Atau malah nggak usah bawa-bawa kamera segala, cukup dengan kamera handphone aja udah bisa?

Di akhir materi, Koh Deddy juga menambahkan semacam tips kiat sukses menjadi travel blogger yang menurut saya penting untuk dicatat. Secara kan, blog saya isinya gado-gado, jadi paling nggak pembaca yang lagi mampir ke tulisan travelling saya merasa puas lah dengan isinya.
  • Investasi diri dengan berlatih nulis, fotografi, medsos.
  • Konsisten, artinya mau terus tumbuh, keep writing.
  • Blogwalking, yaitu interaksi dengan sesama blogger lain, saling sapa, meningalkan komentar di posting-an blog orang lain.
  • Networking, bisa dengan cara bergabung di komunitas travel blog atau komunitas blog lainnya, yang otomatis akan terbentuk jaringan dengan sendirinya.
Wuih, kayaknya panjang juga, ya? Memang panjang dan seru materinya kemarin itu. Bukan workshop malah kalau saya bilang, lebih ke sharing aja gitu, soalnya Koh Deddy juga orangnya asyik banget ngobrolnya. Kita yang duduk di depannya juga jadi kebawa asyik berasa diajak jalan-jalan bareng doi.

Dengan travelling, kita bisa exploring hal-hal baru yang belum atau bahkan baru pertama kali kita temui. Kita juga bisa learning, belajar dari hal yang baru aja kita temui, belajar dari budaya setempat, atau masakan khas setempat. Lewat travelling, kita juga bisa writing dan sharing. Kita tulis hasil perjalanan, lalu sharing di blog untuk dibaca teman-teman yang mungkin membutuhkan info tentang tempat yang baru aja kita kunjungi. Mungkin, melalui tulisan yang kita share di blog, bisa inspiring bagi teman yang lain, dan menjadikan kita to be a better person. - Deddy Huang

Makan tumpeng mini ramai-ramai sama beberapa teman baru :)

Btw, pas workshop kemarin itu kan gratis ya, tapi tetap dapet snack sama makan siang juga, masak! Mana ada lah kan ikut jadi peserta workshop tapi nggak bayar, tetap dapat makanan. Mana makannya endeus-endeus ya, kan, ada klappertaart sama nasi Tumpeng Mini yang ternyata walaupun porsinya mini tapi rasanya maxi. Bikin kenyang, bok!

Nasi tumpeng yang kami dapat kemarin itu katanya yang best seller-nya, Tumpeng Langgi Pringgodani. Selain Langgi Pringgodani, ternyata ada 6 varian lainnya lagi yang ternyata lucu-lucu warnanya, hahahaha. Saya bilang lucu soalnya ada yang nasinya warna ungu (Tumpeng Padang Jam Gadang), hijau (Tumpeng Sayur Mayur), juga putih (Tumpeng Bali Kintamani, Tumpeng Uduk Kebun Jeruk, dan Tumpeng Manado), lainnya tetap dengan warna kuning tumpeng aslinya, seperti Tumpeng Udang Wong Malang. 


Kalau dilihat dari nama-nama tumpengnya, kok kayak nama-nama Indonesia banget, ya? Ternyata memang Tumpeng Mini ini bikin variasinya khas Nusantara kita. Eh, jadi kepkiran kalau adain acara di rumah lucu kali ya pesan Tumpen Mini ini aja? Praktis kan udah sama lauk dan sayur, tampilannya juga kece gitu, nggak kayak nasi kotak apalagi besek. 😝

Kalau ada yang mau bikin acara dan pakai nasi Tumpeng Mini bisa katanya nih di-order, tapi sementara baru wilayah Jakarta dan Surabaya aja dulu. Kita doakan saja semoga bisa ikutan hadir di kota lain, ya, juga variasi tumpengnya nambah. Kalau saya sih karena lagi ngurangin karbo, penginnya nasinya yang sedikit tapi sayurnya yang banyak, gitu. Hehe. Sayur ya, bukan lauk. Kali aja bakalan ada versi dietnya: Tumpeng Langsing. 😅

Well, terima kasih buat Dear Blogger Net yang udah mengundang saya ke workshop-nya Koh Deddy Rabu lalu. Workshop ini juga katanya kerjasama dengan C2live yang membantu memfasilitasi ruangan di salah satu gedung perkantoran di wilayah Kuningan, Jakarta Selatan. Semoga nanti DBN bisa bikin workshop lagi yang temanya nggak kalah keren! Tapi tetap gratis, ya! 😁✌

Thank's for DBN & C2live team!

5 comments :

  1. Wah tipsnya sangat menarik nih. Ikuti ah..siapa tahu kayak koh Deddy Huang��

    ReplyDelete
  2. Waaahh klo Deddy sih emang asyik orangnya, Deksul. Aku pun klo ngobrol ama dia sampe ngakak2 :)) Ikutan nyimak materinya nih, bagus banget, terutama soal catatan perjalanan masa lalu. Selama ini ragu2 mau nulisnya, karena udah terlalu lama berlalu.

    ReplyDelete
  3. Menarik dan (terlihat) simpel mbak tipsnya. coba nanti aku praktekkan yaa. hehe.

    ReplyDelete
  4. Penyakit pas travelling itu pasti ga langsung ditulis wkwk baik onthespot maupun setelah di rumah. Procastinator terbaik bgt lah aing-_-
    Poin untuk investasi diri, konsistensi, sama bikin momen lumayan susah juga nih tapi harus hahaha

    ReplyDelete
  5. Trims atas tips nya ya kak, sangat membantu sekali, salam kenal...

    ReplyDelete

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^