I'tikaf Bawa Bayi, Yay or Nay?

6.06.2018



Apa ada yang berniat ikut i'tikaf di 10 hari terakhir bulan Ramadan tahun ini dan mengajak bayinya? Saya pernah bawa Manda ikut i'tikaf di bulan Ramadan tahun lalu. Saat itu, usia Manda baru satu tahun. Yah, 1 tahun 4 bulan lah. Lagi senang-senangnya jalan sendiri karena dia baru bsia jalan pas umur setahun sebulan. Waktu itu masih menyusui juga. Jadi jangan bayangin bakalan santai di mesjid, ya. Nggak bisa.

Saya share di Facebook, sih, tahun lalu, tapi nggak sempat masukin ke blog. Jadi kayaknya saya tulis sekarang aja di sini kali, ya. Buat dokumentasi juga, lagian kalau di Facebook susah nyarinya. Btw, kalau ada yang penasaran bisa dilihat di sini posting-annya.

Tentang I'tikaf


Oh ya, sebelumnya, buat yang belum tahu apa itu i'tikaf. I'tikaf itu ialah berdiam diri (di dalam masjid). Maksudnya berdiam diri di sini adalah mengerjakan ibadah-ibadah yang wajib atau sunnah seperti salat wajib, salat sunnah, membaca Al Qur'an, berdzikir, membaca doa Lailatul Qodar, atau membaca doa lainnya. Misal nggak ngapa-ngapain pun, nggak mengerjakan ibadah satu pun, tetap dapat pahala karena sudah niat i'tikaf, ASAL nggak dipakai untuk ghibah aja, ya. Hehe.

Gimana caranya kita i'tikaf?

Yaitu kita berniat dari rumah mau berdiam diri di masjid berapa lama dari jam berapa sampai jam berapa. Dan itu harus di tepati, nggak boleh ke luar masjid sedikit pun kecuali ke kamar mandi. I'tikafnya di mana? Harus di dalam masjid, nggak boleh di terasnya karena terasnya itu udah termasuk luarnya masjid. Maka itu, wanita yang sedang haid, masih boleh ke masjid tapi hanya sampai terasnya aja.

Wanita yang sedang haid apa bisa ikut i'tikaf?

Sebenarnya nggak bisa, karena pengertiannya aja i'tikaf itu berdiam diri di dalam masjid. Jadi kalau pun keukeuh mau ikutan bermalam di masjid, nggak bisa mendapatkan pahala i'tikaf, akan tetapiii bisa saja mendapatkan pahala Lailatul Qodar.

Apa pula itu Lailatul Qodar?

Nah, untuk inilah kita i'tikaf di masjid selama 10 hari terakhir Ramadan. Kita mengejar yang namanya Lailatul Qodar, yaitu Malam 1000 Bulan. Yang mana ketika Lailatul Qodar itu turun, kita kan mendapatkan pahala 1000x lipat. Jika kita berhasil menjumpai Lailatul Qodar, maka malam itu lebih baik daripada 1000 bulan atau lebih dari 80 tahun.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, Surah Al Qodr diturunkan oleh Alloh melalui Malaikat Jibril. Pada suatu hari Nabi Muhammad SAW bercerita bahwa zaman dahulu ada 4 orang dari kaum Bani Israil beribadah selama 80 tahun dengan tidak berbuat maksiat atau tidak menentang Alloh sekejap mata. Keempat orang tersebut adalah Nabi Ayub, Nabi Zakaria, Hizkil bin A’juz, Yusya bin Nun. Kabar tersebut mengherankan sekaligus membuat iri umat Islam dan para sahabat pada masa Nabi Muhammad. Kemudian Allah mengutus Malaikat Jibril untuk mengabarkan bahwa Allah menurunkan wahyu Malam Lailatul Qodar.

Beribadah satu malam saat turunnya Lailatul Qodar pahalanya lebih baik dari pada beribadah selama seribu bulan atau lebih dari 83 tahun. Dengan turunnya Surah Al Qodr membuat bahagia bagi para sahabat dan Nabi Muhammad serta orang iman sekarang.

Kapan Lailatul Qodar-nya turun?

Wallahu'alam. Ada hadits yang bilang bahwa Lailatul Qodar turun di malam-malam ganjil. Jadi, banyak juga yang menghitungnya mulai dari malam 21, 23, 25, 27, atau 29. Malah, di Mekkah sendiri, ketika malam 27 Ramadan, itu Ka'bah penuh sesak oleh lautan manusia yang mau mendapatkan pahalanya Lailatul Qodar, tapi hanya malam itu saja, malam-malam lain nggak sepenuh malam 27. Nah, siapa tahu ganjilnya menurut Alloh itu nggak sama dengan ganjilnya perhitungan manusia? Maka itu lebih baik kita i'tikaf selama 10 hari terakhir tersebut, karena kita nggak akan tahu kapan pastinya Lailatul Qodar itu akan turun. Hanya saja, ada hadits yang bilang bahwa ciri-ciri turunnya Lailatul Qodar adalah gerimis. Hujan yang tidak deras sepanjang malam. Who knows, ya kan?

Pengalaman I'tikaf Bawa Bayi



Pas malam ke-21 Ramadan tahun lalu, saya udah niat mau i'tikaf dari jam 9 malam sampai jam 2-3 dini hari. Perlengkapan "perang" pun siap semua: selimut buat alas tidur, bantal sofa, cemilan yg banyaknya minta ampun, belum lagi jajan cireng isi.

Sampai jam 12 malam, masih aman. Tapi Manda ini nggak mau tidur juga padahal ya udah ngantuk banget dia. Bolak-balik nenen, udahannya malah cengar-cengir terus jalan nyamperin kakaknya yang lagi main. Saya nggak kuat. Kalau Manda nggak tidur juga, saya nggak bisa ngapa-ngapain.

Sempat juga saya baca Al Qur'an sebentar pas Manda lagi main, tapi begitu dia datang langsung mau megang Al Qur'an sendiri. Saya ajak baca bareng-bareng, dia nggak mau. Malah mau ambil nasi kotak yang ada sambalnya. 😓 (FYI, waktu itu ada yang bagi-bagi nasi kotak). Akhirnya nyerah, saya udahan dulu bacanya. Kelonin lagi. Tetep dia ketawa-ketiwi udahannya. Semua snack yg saya bawa, udah dia makanin kecuali ciki. 😅

Kira-kira pukul setengah 1 malam, saya minta kunci sama suami. Pulang duluan. Sampai rumah, kelonin cuma 10 menitan doang anaknya langsung pules. Bahahaha. Dan setelah malam itu, malam-malam berikutnya saya pun nggak ngoyo untuk i'tikaf sampai dini hari. Maksimal jam 12 malam pulang aja mendingan biar anaknya bisa tidur.

Jadi begini rasanya i'tikaf bawa balita umur setahun. Capek, bok! FYI, tahun-tahun lalu saya puasa di Suly, nggak pernah ikut i'tikaf. Kecuali pas mudik masih ketemu i'tikaf, anak-anak udah pada gede. Dan dua tahun yang lalu, Manda masih bayi banget. Belum kenal main sama anak yang lebih gede.

Jadi apa aja yang dibawa ke masjid untuk persiapan i'tikaf?

Saya bawa selimut anak-anak yang besar untuk alas tidur dan selimut kecil buat Manda. Bantal sofa saya bawa 2 buah, lalu camilan jangan lupa! Bawa semua camilan yang ada di rumah, tentunya yang disukain sama anak, bawa juga minuman. Air putih, teh kotak, apapun lah biar anaknya nggak rewel minta jajan keluar apalagi minta jajan anak yang lain. Yang paling penting untuk dibawa selain barang di atas adalah, diapers, kantong plastik, dan baju ganti.

Oh ya, penting untuk digarisbawahi, anak-anak itu kan nggak bisa diem ya, apalagi mesjid itu kan tempatnya untuk ibadah. Jadi, lebih baik antisipasi sejak awal. Kalau perlu bawa mainan anak kita yang sekiranya nggak bikin berisik seperti kereta-keretaan yang mengeluarkan bunyi, atau piano-pianoan. Bawa aja yang soft and smooth, tapi bukan boneka ya entar malaikat nggak mau masuk masjid, atau semacam masak-masakan daln Lego sedikit aja.

Btw, semalam kan udah mulai i'tikaf juga tuh. Alhamdulillah saya bisa ikut sampai jam 2 juga akhirnya. Shaki udah bisa bawa tasnya sendiri yang isinya sleeping bag, Al Qur'an, abaya salat, dan botol minumnya. I'am juga begitu isinya. Mereka juga udah bisa tidur sendiri nggak perlu disuruh-suruh. Cuma Manda aja yang agak susah tidur karena masih ramai. Jadi waktu kakak-kakaknya udah pada tidur dia nyamperin saya untuk dipeluk. Nggak lama habis itu dia tidur. Itu pun pukul 12 malam ya dia tidurnya. 😅


5 comments :

  1. Masya Allah Mbaaa.. Aku jadi pengen bawa Alfath buat i'tikaf juga rasanya. TFS ya Mbaaa, semangat nih jadinya buat kejar pahala di beberapa hari terakhir Ramadan. Amiiin Ya Rabb.

    ReplyDelete
  2. Masyaa Allah. Pengen banget deh mbak bisa ikut i'tikaf. tapi sikon belum memungkinkan.

    ReplyDelete
  3. selamat idulfitri mba...
    mohon maaf lahir dan batin :)

    ReplyDelete
  4. Masya Allah, sampai segede ini anak-anak belum pernah kuajak i'tikaf. Alhamdulillah mesjid di depan rumah persis, anak-anak udah bisa ke sana sendiri malahan.

    ReplyDelete

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^