Pilih SD Umum Atau SD Berbasis Agama (Islam)? - [Part 1]

10.24.2018

Tulisan ini saya buat gara-gara membaca berita di BBC beberapa hari yang lalu. Beritanya bisa dibaca di sini. Di situ ditulis katanya guru-guru yang Islam agak intoleran dengan anak yang non Muslim. Saya nggak setuju sih, karena anak saya sendiri, I'am, sekolahnya bukan berbasis agama tapi guru-gurunya nggak intoleran dengan yang non Muslim. Mungkin karena lingkungan sekolahnya heterogen, membuat semua staf dan murid di sana lebih nyaman. Kok bisa, ya? Jadi mendingan pilih mana nih SD-nya; sekolah umum apa yang berbasis agama (Islam)?

Well. Buat yang lagi nyari-nyari SD untuk persiapan anaknya, pasti hal ini ikut dalam salah satu list kriteria bakal sekolah anaknya. Untuk yang beragam Islam seperti saya, biasanya akan menimbang-nimbang, lebih bagus mana antara sekolah berbasis agama Islam atau yang umum? Umum dalam hal ini yang sama-sama swastanya juga, ya, bukan sekolah negeri.

FYI, anak pertama saya, I'am, sekolah di sekolah swasta umum. Sedangkan anak saya yang kedua, Shaki, di sekolah Islam. Posting-an tentang memilih sekolah untuk Shaki saya pisah di Part ke-2 ya biar nggak kepanjangan.

Sekolah Dasar Umum













Saya bilang umum, karena anak yang bersekolah di sini macam-macam agamanya. Sekarang I'am udah kelas 4, ia masuk ke sekolah ini dari kelas 2 (karena waktu itu kami baru pindahan dari Suly). Sewaktu mau pindah, 2 tahun sebelumnya saya dan suami udah nyari-nyari calon sekolah yang bisa cocok untuk karakter I'am. Dan sudah pasti, ada sekolah Islam yang masuk dalam daftar kami, satunya lagi sekolah yang sekarang, dan yang lainnya ada sekolah yang pernah saya tulis juga di blog ini.

Di sekolahnya I'am yang sekarang, ada berbagai macam latar belakang anak. Karena termasuk sekolah inklusi juga, jadi nggak heran kalau di kelas ada anak yang berkebutuhan khusus ikut belajar bareng dengan kurikulum yang sama. Dan kabar baiknya, belum pernah saya dengar ada kasus pem-bully-an di sekolahnya. Padahal di masing-masing kelas minimal ada 1 anak yang berkebutuhan khusus. Tapi mereka nggak pernah menganggap para ABK ini sebagai bahan celaan. Yang mereka tahu, para ABK ini adalah anak yang spesial, dan tidak ada bedanya. Sama semua.

Selain inklusi, sekolah I'am ini juga menganut paham toleransi beragama. Gimana nggak toleransi, di kelasnya I'am aja ada yang Islam, Kristen, juga Hindu. Mereka semua bisa aja tuh nyambung dan berteman setiap saat. Malah, kalau yang saya perhatikan, mereka akrab sekali dengan teman sekelasnya. Udah kayak keluarga sendiri. Kalau pas jam snack time, yang cowok-cowok ngumpul dan buka bekalnya masing-masing (padahal dari sekolah juga dapet snack tuh). Terus nanti pada sharing semuanya, masing-masing dapet bekal temannya yang dibagi.

Kalau berangkat sekolah maunya cepat-cepat biar bisa yang pertama masuk kelas. Biar apa? Biar bisa main-main dulu sama temannya. Kalau pulang sekolah? Maunya dilama-lamain. Biar masih bisa main-main lagi di sekolah sama temannya. Segitu betahnya di sekolah.

Saya akui, sekolahnya ini homy banget. Nyaman sekali. Yang saya suka, kurikulumnya pun nggak saklek dan mentok di situ-situ aja. Untuk tambahan bahan ajaran bisa ambil dari website-website pelajaran untuk anak.

Nah, gimana dengan pelajaran agama? Mereka tetap punya, kok, guru agama. Ketika pelajaran Agama, ya mereka belajar sesuai dengan agama masing-masing. Ketika adzan Dzuhur, mereka juga salat berjamaah. Ketika hari Jumat, mereka tetap ikut salat Jumat berjamaah di masjid terdekat di sekolah. Tapi nggak usah berharap bakalan ada kelas tahfidz. Nggak bakalan ada karena sekolahnya bukan berbasis agama Islam.


Terus kenapa waktu itu saya malah milih sekolah ini, bukannya sekolah Islam? Padahal niat saya pindah ke Jakarta kan agar anak-anak lebih mengenal agama?

Poin utama saya pilih sekolah buat I'am, waktu itu adalah masalah bahasa. Terbiasa berbahasa Inggris selama di Sabis, sekolahnya I'am di Suly dulu, ini yang menjadi faktor utama saya dan suami menyeleksi calon sekolah. Kami mencari sekolah yang bahasa pengantarnya Bahasa Inggris. Kami cuma nggak mau, I'am terbebani banyak hal. Udah pindah rumah jauh (beda negara), harus adaptasi dengan lingkungan yang baru, masih harus beradaptasi lagi dengan sekolah yang baru.

I'am itu juga agak sulit beradaptasi. Iya, I'am sepertinya introvert. Saya bilang sepertinya, karena memang belum pernah berkonsultasi dengan psikolog, tapi berdasarkan keseharian dia di rumah dan lingkungannya aja. Jadi kami harus memilih sekolah yang sekiranya membuat dia nyaman terlebih dahulu. Pilihannya waktu itu memang ada 3 sekolah, dan I'am hanya trial di 2 sekolah aja. Sekolah satunya, yang berbasis Islam, justru tidak mempermudah kepindahan I'am. Karena pindahan dari luar negeri, pihak sekolah nggak mau terbebani dengan mengurus NISN untuk I'am. Jadi, seumpama I'am mau masuk sekolah itu, harus mengulang dari kelas 1 agar mudah mendapatkan NISN-nya. Tentu saja saya dan suami menolak.

Pilihan sekolah yang pertama, justru bukan yang I'am tempatin sekarang. Trial-nya pernah saya tulis di blog ini. Bisa dibaca di sini kalau mau.

Jadi, menurut saya, kalau masih bingung dengan pilihan mau sekolahin anak kita di mana, itu tergantung anaknya. Mungkin saya bisa kasih list untuk memperkecil pilihan sekolah buat anak. Karena ini yang juga saya dan suami terapkan ketika memilih sekolah dasar untuk I'am dulu.


1. Jarak Tempuh Rumah-Sekolah


Mungkin bagi sebagian orang, jarak tempuh rumah-sekolah itu nggak masalah selama masih nggak lebih dari sejam. Tapi, buat saya, ini masalah besar. Diskusiin dulu sama suami, kalau sekolah anak kita jauh, siapa kira-kira yang mau antar-jemput? Atau, adakah fasilitas antar-jemput dari pihak sekolah? Dan lagi, karena saya nggak mau jauh-jauh waktu itu, jadi pilihan sekolah yang memungkinkan ya memang cuma 3 aja. Kalau jarak tempuh nggak masalah buat kamu, bisa jadi pilihan sekolahnya lebih banyak dan lebih membingungkan lagi.


2. Riset


Riset di sini maksudnya searching ke blog-blog orang yang nulis review tentang sekolah yang kita calonkan. Dulu, saking seriusnya saya dan suami nyari sekolah buat I'am, kami sampai ikutan daftar ke forum-forum. Dari forum situlah, saya dapat banyak insight tentang sekolah yang kami calonkan. Tulis kelebihan dan kekurangan masing-masing calon sekolah di daftar yang sudah kita buat tadi.

Jangan lupa, catat juga biaya pangkal dan SPP sekolahnya. Meski kenyataannya tiap tahun SPP dan uang pangkal naik terus, paling enggak kita bisa tahu kisarannya berapa dari pengalaman orang yang kita baca itu. Kalau dari blog aja kita nggak puas, kita bisa tanya langsung ke sekolahannya by phone. Nggak perlu sungkan-sungkan, mereka pasti mau jawab, kok.

[Baca juga: Biaya Pendaftaran SDIA Al Azhar 20 Cibubur]


3. Budget


Udah kebaca lah ya, sekolah-sekolah mana aja yang tercakup dalam jarak yang kita buat tadi? Misal ada 3 sekolah, tulis. Atau ada 5 sekolah? Tulis! Selanjutnya, kita ngomongin budget. Budget ini relatif ya buat masing-masing kita. Mahal itu ya cuma kita yang tahu, mampu atau tidak, yang pasti jangan dipaksakan. Nanti daftar calon sekaolah yang kita buat akan tereliminasi dengan sendirinya.

Seperti saya ketika memilih buat I'am, sebenarnya ada banyaaak sekali yang bisa saya tulis di daftar. Sebut aja Kinderfield, SPI, itu kan masih masuk wilayah Cibubur juga. Kalau dilihat dari kurikulumnya, sebenarnya sekolah tersebut paling cocok untuk I'am. Tapi karena menurut saya masih agak jauh dan budget nggak masuk, jadi sekolah-sekolah itu saya coret. Anyway, sebenarnya nggak jauh-jauh amat, tapi jalur yang dilalui itu super duper muacet. Jadi mendingan dicoret aja.


4. Sesuaikan Karakter Anak dengan Kurikulum Calon Sekolah


Sampai di poin ini, tentu masing-masing udah pada kenal lah ya sama anak sendiri seperti apa? Dengan kondisi anak kita yang begini, cocok kah kalau kita masukin ke sekolah yang anu, atau malah sekolah yang ono? Kalau saya pribadi, kebetulan I'am dan Shaki punya sifat yang berbeda. I'am yang introvert, sementara Shaki extrovert dan mudah beradaptasi dengan siapa aja meski beda bahasa sekali pun.

Jadi, karena sekolah Islam dekat rumah itu besar dan banyak anak muridnya di satu kelas, rasa-rasanya kurang cocok buat I'am untuk bergaul. Di sekolah yang sekarang, sekelasnya nggak sampai 20 murid. Sekarang ada 18 murid dengan 1 yang ABK. And they're fine with her. Gurunya ada 2 di kelas; 1 guru utama dan satunya pendamping. Dengan peraturan memakai Bahasa Inggris setiap Senin sampai Kamis dan Bahasa Indonesia setiap Jumat, saya merasa I'am akan nyaman di lingkungan sekolah. Memang pada awalnya setiap hari I'am harus men-translate ucapan teman-teman dan pelajaran dari Diknas, tapi lama-lama sekarang sudah terbiasa.

Sekolah I'am ini, menggunakan kurikulum sekolahnya sendiri dan Diknas. Kebayang, kalau waktu ujian ada banyak banget ujian dari sekolah dan dari Diknas. Tapi sejauh ini I'am dan teman-temannya bisa menyesuaikan. Btw, buat yang mau baca trial-nya I'am di sekolah yang sekarang, ada saya tulis di sini.

Kalau kita nyari sekolah biar anak kita mudah sekolah di luar negeri, kayaknya enakan cari yang kurikulumnya Cambridge atau British sekalian. Jangan tanggung-tanggung lah, biar anaknya nggak kaget juga. Itu pun, disesuaikan dengan budget kita tadi ya. Kalau keuangan sekiranya nggak akan cukup, cari yang di bawahnya aja. Sekolah I'am sendiri bukan Camrbidge atau British, tapi kualitas termasuk baik sekali.

Dan yang terakhir, kalau memang dari awal udah concern ke pelajaran agamanya seperti hafalan Al Qur'an, satu-satunya cara ya memasukkan anak kita ke sekolah yang berbasis agama Islam. No matter what. Kan, anak kita yang ngerti kita sendiri. Kita bisa mengukur batas kemampuan anak, kira-kira kalau dimasukkan ke sekolah Islam kuat nggak dengan hafalan-hafalan Juz 30? Kira-kira anak enjoy nggak shalat Dhuha setiap pagi sebelum mulai belajar? Kira-kira anak kita keberatan nggak pakai baju tertutup setiap hari?

Kalau semua jawabannya adalah BISA, monggo daftarkan. Jangan cuma karena TK-nya di situ, SD-nya juga harus di situ. Enggak, kok. Shaki, dulu TK-nya di sekolah I'am yang sekarang. Tapi pas SD saya pindahkan. Karena saya lihat karakter dia berbeda dengan abangnya.

Baiklah, nanti kita lanjut pilih-pilih sekolah untuk Shaki ya di posting-an selanjutnya. Ya walaupun sekarang Shaki udah kelas 2, tapi kayaknya masih relevan juga dengan kondisi sekarang. Semoga list saya di atas tadi bisa membantu teman-teman yang lagi cari SD untuk anaknya. Mudah-mudahan udah bisa ya milih antara SD umum atau yang berbasis agama (Islam)See you!

35 comments :

  1. Wah, jd I'am sekolahnya pakai bahasa pengantar English ya. Kalau di rumaj berarti banyak oakai English juga kah ngobrolnya mba?

    ReplyDelete
  2. aku juga udah riset setahun belakangan ini, dan aku mutuskan memang sekolahin yang deket di rumah aja dulu kalau TK ya hehe dan maunya memang di basis islam , nanti SD baru di konvensional biar bisa menyaring sendiri hhehe

    ReplyDelete
  3. aku juga galau akhirnya persis yang mba tulis pertimbangan jarak sama budget jadi utamanya semoga anakku betah

    ReplyDelete
  4. Wah pas banget nih. saya juga kalau cari sekolah disesuaikan dengan kebutuhan anak. untuk anak anak saya yang istimewa dan agak sulit kalau harus banyak hafalan, saya carikan sekolah yang banyak prakteknya supaya mereka lebih mudah ingat. dan saya juga suka banget sama sekolah inklusi karena memang minim bullying ya, soalnya aneka latar belakang orangtua semua open.

    ReplyDelete
  5. Kebetulan banget nih saya juga lagi nyari SD buat si sulung. Sampai sekarang masih hunting yang di sekitar rumah biar gak capek di jalan kena macet

    ReplyDelete
  6. Anak-anakku sekolah di sekolah umum semua, tapi rencana yang bungsu ini nanti SDnya mau dimasukin ke sekolah berbasis agama biar hati jadi lebih tenang.

    ReplyDelete
  7. Faiz kusekolahkan di sekolah agama karena waktu itu anaknya belum mau ngaji di mushola sebelah rumah. Terus kalaupun sekolah umum, sama sekali ndak kepikiran Mbak, Tujuan masukin Faiz ke sekolah agama, ya biar emaknya juga ikut belajar lagi, tentang ilmu agama. Aaamiin

    ReplyDelete
  8. Cucu bunda semua madhk sekolah yg bisa dijelang dengan berjalan kaki, dekat dr rmh dan kebetulan termasuk sekolah unggulan dan strick mengajarkan para siswa/siswi utk beribadah dengan disiplin selama di sekolah. Jam bljr: 07.00 sd 16.00 terkadang 17.00 kl ada ekskul.

    ReplyDelete
  9. Kalau bicara soal SD, aku selalu memilih anak masuk SD berbasis agama. ITu wajib hukumnya bagiku dan suami karena landasan nilai agama sebaiknya sejak dini. Alhamdulillah terpenuhi. PErtimbangan jarak juga harus dilakukan demi kebaikan anak

    ReplyDelete
  10. aku lagi pusing mikirin anakku dah mau masuk Sd jadinya masuk mana. Pengen swasta islam tapi biaya ga terjangkau. Tapi kalau negri ada kekhawatiran tertentu juga

    ReplyDelete
  11. Sebenarnya, saya pengen anak sekolah di sekolah umum yang heterogen, tapi kalau di sukabumi, sekolah umum kayak sekolah iam nggak tahu ada atau nggak, di sini banyak direkomendasikannya SDIT

    ReplyDelete
  12. Anak-anak saya dari PG hingga SD di sekolah islam semua. Dan kami puas banget. Pengennya sih balik ke sekolah islam lagi. Saya udah baca artikel itu. Isinya agak-agak gimana gitu, ya. Intinya gak sepakat, lah :)

    ReplyDelete
  13. Aku pengen banget anak masuk dekolah islam, tapi anaknya mau masuk pesantren jadi galau ini

    ReplyDelete
  14. Kalau saya memilih SD negeri biasa, karena itu yang terdekat dari rumah. Saya sih pilih SD yang dekat aja, karena saya nganternya kan jalan kaki huhuhu kalau jauh berat diongkosdan waktu.

    ReplyDelete
  15. Sekolahnya kece mbk. Sdh mengajarkan dan mempraktekkan apa itu toleransi. Ada abk nya pula dan nggak ada pembullyan soal siswa abk. Keren sih menurutq.
    Soal guru islam yg intoleran sm non islam, menurutq nggak berlaku umum. Ada, tp paling se-uprit. Aku harap begitu.
    Makasih share pengalamannya mbk istyyy

    ReplyDelete
  16. Aku pernah hadir di seminar parenting gitu, jarak tempuh antara sekolah dan rumah itu penting banget loh. Aku juga pilihnya sekolah yang deket, SD cuma 1 kilo, SMP 3 kilo. Soalnya pengalamanku sekolah dulu dari SD selalu jauh buat ukuran anak-anak ya

    ReplyDelete
  17. Aku sepakat banget kalau sekolah mendukung perkembangan bahasa anak-anak, terutama bahasa inggris. Di sini juga ada beberapa sekolah yang menurutku kualitasnya bagus, menghindari sekolah yang intoleran.

    ReplyDelete
  18. Aku lagi persiapan myari pondok nih malahan makSul. Buat anak nomor 3

    ReplyDelete
  19. Keren sekolahnya, ngajarin anak2 hidup di tengah2 perbedaan. Di masa sekarang ini perbedaan itu terasa kontras banget, seperti yang beda disingkirkan, gitu. Salut sama sekolahnya.

    ReplyDelete
  20. Wah pas banget bacaannya.
    Salfa juga tahun depan sudah mau sekolah.

    ReplyDelete
  21. Aku juga selalu mempertimbangkan jarak tempuh setiap pilih sekolah, karena jarak berpengaruh juga ke mood anak :)

    ReplyDelete
  22. Jadi mikir kekhawatian ibuku dulu, soalnya aku belum ada aanak.
    Sebagai orang tua pasti ingin terbaik untuk anaknya, sesuai bakat anaknya dan lain sebanya. Semoga dimudahkan ya Mba Isti dan temen2 untuk mendapatkan kemudahan dalam mengelola budget untuk anak. Aaamiin

    ReplyDelete
  23. Hampir sama kaya aku.Kalau aku pilih sekolah untuk anak-anak yang pasti, jarak tempuh, kualitas dan sesuai budget aja sih.

    ReplyDelete
  24. Di tempatku cuma ada 1 pilihan sekolah yg bagus, karena tinggal di kampung. Jadi gak bingung milihnya. Semua anak dimasukin ke situ heheh

    ReplyDelete
  25. I am di rumah tetap bahasa atau bahasa Inggris mbak. Emang Maslaah utama anak yang dibawa emaknya merantau jadi diaspora salah satunya masalah bahasa ya. Semoga iam bisa mempertahankan ya ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau lagi main & ngobrol pakai bahasa Indo, mbak, tapi kalau lagi main gadget sendiri pakai bahasa inggris :D

      Delete
  26. Aku pilih masukkan anak2ku ke SD Negeri karena lokasinya yang dekat rumah, jadi ntar setelah kelas 3 atau 4 mereka bisa mandiri, berangkat sekolah sendiri naik sepeda. Plus tau bahwa di luar agama yang mereka anut, ada juga orang lain yang menganut agama berbeda. Bisa menjadi wacana untuk mereka dan membahasnya dengan orang tuanya. Nah, setelah lanjut ke SMP barulah diarahkan ke sekolah berbasis agama. Ya ini sih keluargaku ya, beda keluarga kan beda rencana ;)

    ReplyDelete
  27. Wah kebetulan next year anakku masuk sekolah (meski saat ini msh mempertimbangkan homeschooling sih). Kyknya anakku jg introvert hhuhuhu. Btw sekolah Iam tu sekolah swasta gtu ya mbak?
    Aku pribadi lbh suka anakku sekolah di sekolah campur ketimbang sekolah Islam, tapi liat2 ntr deh. Ditunggu lanjutan artikelnya...

    ReplyDelete
  28. Aku sedih karena Bo et Obi ngga satu sekolah hiks...tapi they're happy now dengan sekolah dan teamn-temannya, walaupun pelajaran wise masih ngejer gapnya. So akhirnya di Tugasku dan Obi di Muhammadiyah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dirimu tak sendiri, Mbak. I'am dan Shaki pun beda sekolahnya, hihihi.

      Delete
  29. sekolahnya bagus ih.. homey banget... aku suka liat SD nya Iam... sayang jauh ya, jika dekat dulu hawna aku masukin ke situ juga kali. Hawna pas masuk SD kehilangan mainan waktu TK soalnya karena di SD nggak ada lagi aneka mainan TK nya

    ReplyDelete
  30. Paling gemes kalau dengarberita ada sekolah yang intoleran dengan agama berbeda, seharusnya anak sejak dini diajarkan untuk bertoleransi :)

    ReplyDelete
  31. Kalau untuk SD aku masih pilih yang dekat rumah, supaya Yasmin putriku tidak kecapean.

    Pas SMP dan SMA, Yasmin pilih sendiri sesuai nurani.

    ReplyDelete
  32. Assalaamu'alaykum mba Isti, apa kabar?
    Saya Riska pernah menghubungi mba thn 2015 melalui kolom komentar artikel ttg Suly. Cm waktu itu qadarAllah sepertinya mba sibuk dan sampai sekarang belum dibalas :)
    Maaf mba, saya mau tanya apakah ada informasi kursus Bahasa Kurdish di Suly yg mba tahu sesuai pengalaman?
    Saya sangat membutuhkannya. Sudah hampir 4 tahun saya tinggal di Suly ikut suami mmg berasal dari Suly cuma jujur bahasa Kurdish saya jalan di tempat karena belajar sendiri dan suami juga bkn latar belakang pengajar jd kurang enak ngajarinnya.
    Saya coba mencari informasi lwt internet hanya ada 1 kursus di AUIS itupun sejak 2017 blm dimulai masih TBC informasinya.

    Semoga kali ini mba Isti sempat memnjawab pertanyaan saya ya. Terima kasih.

    Wassalaamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wa'alaikumsalam. Ya Allah Mbak Riskaaaaa. Maaf, aku bener2 nggak tahu kalau Mbak nanya kursus, huhuhu. MasyaAllah Mbak udah 4 tahun di sana? Aku lho baru 2 tahun pindah ke Indo, berarti seharusnya kita bisa ketemu Mbak waktu 2 tahun itu.... Aku waktu itu belajar Bahasa Kurdi dikenalin sama temanku. Jadi dia ada teman yg bukan kelas Bahasa Kurdi, dia sendiri orang Sweden, dan ngajar Bahasa Kurdi untuk teman2nya yang dari NGO. kalau mbak mau, nanti aku coba tanyakan ya via email, mudah2an beliau masih tinggal di Suly.

      Btw, Mbak tinggal di daerah mana? Saya ada teman yg tinggal di Suly banyak. Mungkin Mbak bisa berkenalan sama mereka biar ada temannya. :))

      Delete

Thank you for reading my story. I would be very pleased if you leave a comment here. ^__^